Upacara Adat Ngaben Umat Hindu Bali

KATA PENGANTAR

Puji syukur Tim Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dalam waktu yang relatif singkat Tim berusaha menyelesaikan makalah ini. Semoga dengan kehadiran makalah ini dapat membantu untuk memudahkan para mahasiswa dalam memahami tentang upacara adat ngaben yang merupakan salah satu bentuk pelaksanaan upacara pitra yajna yang diyakini sebagai salah satu sarana untuk mengembalikan unsur-unsur Pancan Mahabhuta kepada asalnya.

Tim Penulis menyadari sepenuhnya atas keterbatasan waktu, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki serta masih langkanya literatur atau bahan pustaka yang dimiliki, sehingga masih banyak mempunyai kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, Tim Penulis mengharapkan sumbangan-sumbangan pemikiran, kritik  dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini yaitu dengan tema ”Upacara Adat Ngaben Umat Hindu Bali”.

Akhirnya Tim penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas semua sumbangan yang diberikan, baik berupa saran maupun kritik.

Palu,         Juni  2009

Tim Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kematian atau seseorang meninggal, berarti hubungan dengan dunia nyatanya telah putus, ia dikatakan kembali ke alam baka / ke akhirat. Ida hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa, sang pencipta kelahiran dan kematian yang berwenang menentukan status batas usia, yang tidak dapat diramal oleh manusia biasa, kapan waktunya yang tepat seseorang berpulang kedunia akhirat.

Didalam perjalanan kematian tersebut diatas tidak ada ketentuan yang pasti terhadap seseorang tidak ada pilih kasih, tidak ada perbedaan kaya ataupun miskin, juga perbedaan pejabat atau bukan pejabat, ayah apa anak, kakek apa cucu, dokter apa pasien, semuanya akan berjalan kelak menuju kearah kematian sesuai dengan kehendak takdir, yang diembel-embeli pula dengan perbuatan serta karmanya.

Jadi mati adalah suatu keharusan dari hidup manusia yang kemudian masing-masing bangsa, masing-masing agama, masing-masing suku mempunyai cara-cara tersendiri untuk memberikan penghormatan terakhirnya sebagai manusia yang memiliki peradaban budaya.

Khususnya di Bali dengan umat yang memeluk Agama Hindu yang menganut kepercayaan adanya roh masih hidup setelah badan kasar tak bergerak dan terbentang kaku, mempunyai upacara yang khas dalam penyelenggaraan jazad seseorang yang berpulang yang disebut Pitra Yajna dimana rangkaian dari upacara ini biasa dikenal dengan Istilah Ngaben / Palebon / Pralina dll, dan disesuaikan dengan tingkat dan kedudukan seseorang yang bernilai “Desa-Kala-Patra-Nista-Madya-Utama”.

B. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran secara ringkas dan jelas tentang segala sesuatu mengenai Upacara adat Ngaben. Secara garis besarnya Ngaben itu dimaksudkan adalah untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mengantarkan Atma (Roh) kealam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi itu. Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan dunianya, Ia akan dapat kembali pada alamnya, yakni alam Pitra.

Kemudian yang menjadi tujuan upacara ngaben adalah agar ragha sarira (badan / Tubuh) cepat dapat kembali kepada asalnya, yaitu Panca Maha Bhuta di alam ini dan Atma dapat selamat dapat pergi kea lam pitra. Oleh karenanya ngaben tidak bias ditunda-tunda, mestinya begitu meninggal segera harus diaben. Agama Hindu di India sudah menerapkan cara ini sejak dulu kala, dimana dalam waktu yang singkat sudah diaben, tidak ada upacara yang menjelimet, hanya perlu Pancaka tempat pembakaran, kayu-kayu harum sebagai kayu apinya dan tampak mantram-mantram atau kidung yang terus mengalun. Agama Hindu di Bali juga pada prinsipnya mengikuti cara-cara ini. Cuma saja masih memberikan alternatif untuk menunggu sementara, mungkin dimaksudkan untuk berkumpulnya para sanak keluarga, menunggu dewasa (hari baik) menurut sasih dll, tetapi tidak boleh lewat dari setahun. Tetapi sebenarnya dengan mengambil jenis ngaben sederhana yang telah ditetapkan dalam Lontar, sesungguhnya ngaben akan dapat dilaksanakan oleh siapapun dan dalam keadaan bagaimana juga. Yang penting tujuan utama upacara ngaben dapat terlaksana. Sementara menunggu waktu setahun untuk diaben, sawa (jenasah / jasad / badan kasar orang yang sudah meninggal) harus dipendhem (dikubur) disetra (kuburan). Untuk tidak menimbulkan sesuatu hal yang tidak diinginkan, sawa pun dibuatkan upacara-upacara tirta pengentas. Dan proses pengembalian Panca Maha Bhuta terutama Unsur Prthiwinya akan berjalan dalam upacara mependhem ini.

BAB II

PERMASALAHAN

Ngaben selalu berkonotasi pemborosan, karena tanpa biaya besar kerap tidak bisa ngaben. Dari sini muncul pendapat yang sudah tentu tidak benar yaitu : Ngaben berasal dari kata Ngabehin, artinya berlebihan. Jadi tanpa mempunyai dana berlebihan, orang tidak akan berani ngaben. Anggapan keliru ini kemudian mentradisi. Akhirnya banyak umat Hindu yang tidak bisa ngaben, lantaran biaya yang terbatas. Akibatnya leluhurnya bertahun-tahun dikubur. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep dasar dari upacara ngaben itu.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka timbulah beberapa permasalahan, antara lain :

  1. Apa  sesungguhnya ngaben itu ?
  2. Apakah ngaben selalu menggunakan dana yang besar ?
  3. Apakah tidak ada jenis ngaben yang dapat dilakukan dengan penyediaan dana yang kecil ?
  4. Mengapa tidak semua orang dapat diaben ?
  5. Apakah landasan filosofi dari upacara ngaben?
  6. Apa maksud dan tujuan diadakannya upacara ngaben?

Dari beberapa penelusuran terhadap berbagai lontar di Bali, ngaben ternyata tidak selalu besar. Ada beberapa jenis ngaben yang justru sangat sederhana. Ngaben-ngaben jenis ini antara lain Mitrayadnya, Pranawa dan Swasta. Namun demikian, terdapat juga berbagai jenis upacara yang tergolong besar, seperti sawa prateka dan sawa wedhana. Semua jenis ngaben ini, akan Tim coba uraikab dalam makalah ini sehingga pembaca mendapatkan gambaran, bila ngaben tidak selalu merupakan pemborosan. Ngaben juga bisa dilakukan secara sederhana. Banyak sastra yang mengatakan semua jenis ngaben tersebut merupakan suatu yang utama. Sebab itu merupakan usaha penyucian sehingga kembali ke asalnya.

BAB III

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat, kendatipun dari asal-usul etimologi, itu kurang tepat. Sebab ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat. Ngaben sesungguhnya berasal dari kata beya artinya biaya atau bekal, kata beya ini dalam kalimat aktif (melakukan pekerjaan) menjadi meyanin. Kata meyanin sudah menjadi bahasa baku untuk menyebutkan upacara sawa wadhana. Boleh juga disebut Ngabeyain. Kata ini kemudian diucapkan dengan pendek, menjadi ngaben.

Ngaben atau meyanin dalam istilah baku lainnya yang disebut-sebut dalam lontar adalah atiwa-atiwa. Kata atiwa inipun belum dapat dicari asal usulnya kemungkinan berasal dari bahasa asli Nusantara (Austronesia), mengingat upacara sejenis ini juga kita jumpai pada suku dayak, di kalimantan yang disebut tiwah. Demikian juga di Batak kita dengar dengan sebutan tibal untuk menyebutkan upacara setelah kematian itu.

Upacara ngaben atau meyanin, atau juga atiwa-atiwa, untuk umat Hindu di pegunungan Tengger dikenal dengan nama entas-entas. Kata entas mengingatkan kita pada upacara pokok ngaben di Bali. Yakni Tirta pangentas yang berfungsi untuk memutuskan hubungan kecintaan sang atma (roh) dengan badan jasmaninya dan mengantarkan atma ke alam pitara.

Dalam bahasa lain di Bali, yang berkonotasi halus, ngaben itu disebut Palebon yang berasal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Dengan demikian Palebon berarti menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanamkan kedalam tanah. Namun cara membakar adalah yang paling cepat.

Tempat untuk memproses menjadi tanah disebut pemasmian dan arealnya disebut tunon. Tunon berasal dari kata tunu yang berarti membakar. Sedangkan pemasmian berasal dari kata basmi yang berarti hancur. Tunon lain katanya adalah setra atau sema. Setra artinya tegal sedangkan sema berasal dari kata smasana yang berarti Durga. Dewi Durga yang bersthana di Tunon ini.

Diantara pendapat diatas, ada satu pendapat lagi yang terkait dengan pertanyaan itu. Bahwa kata Ngaben itu berasal dari kata “api”. Kata api mendapat presfiks “ng” menjadi “ngapi” dan mendapat sufiks “an” menjadi “ngapian” yang setelah mengalami proses sandi menjadi “ngapen”. Dan karena terjadi perubahan fonem “p” menjadi “b” menurut hukum perubahan bunyi “b-p-m-w” lalu menjadi “ngaben”. Dengan demikian kata Ngaben berarti “menuju api”.

Adapun yang dimaksud api di sini adalah Brahma (Pencipta). Itu berarti atma sang mati melalui upacara ritual Ngaben akan menuju Brahma-loka yaitu linggih Dewa Brahma sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam Mencipta (utpeti).

Sesungguhnya ada dua jenis api yang dipergunakan dalam upacara Ngaben yaitu Api Sekala (kongkret) yaitu api yang dipergunakan untuk membakar jasad atau pengawak sang mati dan Api Niskala (abstrak) yang berasal dari Weda Sang Sulinggih selaku sang pemuput karya yang membakar kekotoran yang melekati sang roh. Proses ini disebut “mralina”.

Di antara dua jenis api dalam upacara Ngaben itu, ternyata yang lebih tinggi nilainya dan mutlak penting adalah api niskala atau api praline yang muncul dari sang Sulinggih. Sang Sulinggih (sang muput) akan memohon kepada Dewa Siwa agar turun memasuki badannya (Siwiarcana) untuk melakukan “pralina”. Mungkin karena api praline dipandang lebih mutlak/penting, dibeberapa daerah pegunungan di Bali ada pelaksanaan upacara Ngaben yang tanpa harus membakar mayat dengan api, melainkan cukup dengan menguburkannya. Upacara Ngaben jenis ini disebut “bila tanem atau mratiwi”. Jadi ternyata ada juga upacara Ngaben tanpa mengunakan api (sekala). Tetapi api niskala/api praline tetap digunakan dengan Weda Sulinggih dan sarana tirtha praline serta tirtha pangentas.

Lepas dari persoalan api mana yang lebih penting. Khusus tentang kehadiran api sekala adalah berfungsi sebagai sarana yang akan mempercepat proses peleburan sthula sarira (badan kasar) yang berasal dari Panca Mahabutha untuk menyatu kembali ke Panca Mahabhuta Agung yaitu alam semesta ini. Proses percepatan pengembalian unsure-unsur Panca Mahabhuta ini tentunya akan mempercepat pula proses penyucian sang atma untuk bisa sampai di alam Swahloka (Dewa Pitara) sehingga layak dilinggihkan di sanggah/merajan untuk disembah. Tentunya setelah melalui upacara “mamukur” yang merupakan kelanjutan dari “Ngaben”.

B. Landasan Filosofis

Manusia terdiri dari dua unsur yaitu Jasmani dan Rohani. Menurut Agama Hindu manusia ituterdiri dari tiga lapis yaitu Raga Sarira, Suksma Sarira, dan Antahkarana Sarira. Raga Sarira adalah badan kasar. Badan yang dilahirkan karena nafsu (ragha) antara ibu dan bapak. Suksma Sarira adalah badan astral, atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran, perasaan, keinginan, dan nafsu (Cinta, Manah, Indriya dan Ahamkara). Antahkarana Sarira adalah yang menyebabkan hidup atau Sanghyang Atma (Roh).

Ragha sarira atau badan kasar manusia terdiri dari unsur panca mahabhuta yaitu prthiwi, apah, teja, bayu, dan akasa. Prthiwi adalah unsur tanah, yakni bagian-bagian badan yang padat, apah adalah Zat Cair, yakni bagian-bagian badan yang cair ; seperti darah, kelenjar, keringat, air susu dll. Teja adalah api yakni panas badan (suhu), emosi. Bayu adalah angin, yaitu nafas. Dan yang Akasa adalah ether, yakni unsur badan yang terhalus yang menjadikan rambut, kuku.

Proses terjadinya Ragha Sarira atau badan kasar adalah sebagai berikut : sari-sari Panca Maha Bhuta yang terdapat pada berbagai jenis makanan terdiri dari enam rasa yang disebut sad rasa yaitu Madhura (manis), Amla (asam), Tikta (pahit), Kothuka (pedas) , kyasa (sepet) dan lawana (asin). Sad rasa tersebut dimakan dan diminum oleh manusia, dimana didalam tubuh diproses disamping menjadi tenaga, ia menjadi kama. Kama bang (Ovum / sel telur) dan kama putih (sperma). Dalam pesanggamaan kedua kama ini bertemu dan bercampur melalui pengentalan menjadilah ia janin, badan bayi. Sisanya menjadi air nyom, darah lamas (kakere) dan ari-ari.

Percampuran kedua kama ini dapat menjadi janin, bilamana atma masuk atau turun kedalamnya. Konon atma ini masuk kedalam unsur kama yang bercampur ini, ketika ibu dan bapak dalam keadaan lupa, dalam asyiknya menikmati rasa. Disamping Panca Maha Bhuta yang kemudian berubah menjadi janin ikut juga Panca Tan Matra, yakni benih halus dari Panca Maha Bhuta itu. Panca Tan Matra ini dalam janin bayi juga memproses dirinya menjadi Suksma Sarira, yakni Citta, Manah, Indriya dan Ahamkara. Citta terdiri dari tiga unsur yaitu disebut Tri Guna, yaitu Sattwam, Rajas, Tama. Ketiga unsur ini membentuk akhlak manusia. Manah adalah alam pikiran dan perasaan, indriya alam keinginan dan ahamkara adalah alam keakuan. Unsur-unsur tersebut disebut Suksma Sarira. Alam transparan ini dapat merekam dan menampung hasil-hasil yang dikerjakan oleh badan atas pengendali Citta tadi. Bekas-bekas ini nantinya merupakan muatan bagi si Atma (roh) yang akan pergi ke alam pitra.

Ketika manusia itu meninggal Suksma Sarira dengan Atma akan pergi meninggalkan badan. Atma yang sudah begitu lama menyatu dengan Sarira, atas kungkungan Suksma Sarira, sulit sekali meninggalkan badan itu. Padahal badan sudah tidak dapat difungsikan, lantaran beberapa bagiannya sudah rusak. Hal ini merupakan penderitaan bagi Atma (roh).

Untuk tidak terlalu lama atma terhalang perginya , perlu badan kasarnya di upacarakan untuk mempercepat proses kembalinya kepada sumbernya dialam yakni Panca Maha Bhuta. Demikian juga bagi sang atma perlu dibuatkan upacara untuk pergi ke alam pitra dan memutuskan keterikatannya dengan badan kasarnya. Proses inilah yang disebut Ngaben.

Kalau upacara ngaben tidak dilaksanakan dalam kurun waktu yang cukup lama, badan kasarnya akan menjadi bibit penyakit, yang disebut Bhuta Cuwil, dan Atmanya akan mendaptkan Neraka, seperti dijelaskan :

“Yan wwang mati mapendhem ring prathiwi salawasnya tan kinenan widhi-widhana, byakta matemahan rogha ning bhuana, haro haro gering mrana ring rat, etemahan gadgad”

Artinya

“kalau orang mati ditanam pada tanah, selamnya tidak diupacarakan diaben, sungguhnya  akan menjadi penyakit bumi, kacau sakit mrana di dunia, menjadi gadgad (tubuhnya)….”(lontar Tatwa Loka Kertti, lampiran 5a).

Landasan pokok ngaben adalah lima kerangka agama Hindu yang disebut Panca Sradha atau lima keyakinan itu adalah :

  1. Ketuhanan / Brahman : Brahman merupakan asal terciptanya alam semesta beserta isinya, termasuk manusia. Beliau juga merupakan tujuan akhir kembalinya semua ciptaan itu. Dalam Kekawin Arjuna Wiwaha dirumuskan secara singkat dengan kalimat Sang Sangkan Paraning Dumadi artinya beliau sebagai asal dan kembalinya alam semesta beserta semua isinya. Berdasarkan atas keyakinan inilah, upacara tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan semua unsur yang menjadikan manusia ke asalnya. Sebagaimana juga tujuan dari Agama Hindu yaitu Moksartham Jagad Hita Ya Ca Iti Dharma yang berarti bahwa tujuan tertinggi agama Hindu adalah mencapai Moksa. Dimana Moksa dapat diartikan sebagai proses menyatunya Atma dengan Brahman atau dengan istilah Atman Brahman Aikyam, konsep Agama Hindu adalah untuk kembali menyatu dengan sang pencipta (Brahman / Tuhan), dimana Tuhan merupakan asal semua kehidupan.
  2. Atman (roh) : Keyakinan akan adanya Atma pada masing-masing badan manusia. Ia yang menghidupkan semua mahkluk termasuk manusia. Atma merupakan setetes kecil (atum) dari Brahman. Suatu sat setelah tiba waktunya, ia pun akan kembali kepada asalnya yang suci, atma perlu disucikan. Hal inilah yang memerlukan upacara.
  3. Karma : Manusia hidup tidak bisa lepas dari kerja. Kerja itu ada atas dorongan suksma sarira (Budi, Manah, Indria, dan Aharalagawa) setiap kerja akan berpahala. Kerja yang baik (Subha karma) berpahala baik pula. Kerja yang buruk (Asubha karma) akan berakibat keburukan pula. Pahala karma ini akan menjadi beban atma akan kembali keasalnya. Lebih-lebih buah karma yang buruk. Ia merupakan beban atma yang akan menghempaskan ke alam bawah (Neraka). Oleh karena itu manusia perlu berusaha untuk membebaskannya. Bagi para Yogi ia mampu membebaskan dosa-dosanya tanpa bantuan sarana dan prasarana orang lain. Tapi bagi manusia biasa, ia memerlukan pertolongan. Hal-hal inilah yang menyebabkan perlunya upacara Ngaben itu, yang salah satu aspeknya akan menebus dan menyucikan dosa-dosa itu.
  4. Samsara : artinya penderitaan. Atma lahir berulang-ulang ke dunia ini. Syukur kalau lahirnya menjadi manusia utama, atau setidak-tidaknya menjadi manusia. Adalah sangat menderita kalau lahir menjadi binatang. Oleh karena itu perlu dilaksanakan upacara ngaben, yang salah satu tujuannya adalah untuk melepaskan atma untuk dapat kembali ke asalnya. Hal ini disimbolkan dengan tirtha pangentas dan aksara-aksara kelepasan lainnya seperti rurub kajang, recedana, dan lain-lain.
  5. Moksa : artinya kebahagiaan abadi. Inilah yang menjadikan tumpuan harapan semua manusia. Dan inilah menjadi tujuan Agama Hindu. Demi tercapainya moksa itu, atma harus disucikan. Dosa-dosanya harus dibebaskan. Keterikatannya dengan duniawi harus diputus, kemudian terakhir Ia harus dipersatukan dengan sumbernya. Inilah menjadi konsep dasar upacara ngaben, memukur dan terakhir Ngalinggihang Dewa Hyang pada sanggah Kamulan atau Ibu Dengen. Hal ini mengandung arti Atma bersatu dengan sumbernya (Kamulan Kawitan) atau kata lain mencapai Moksa (kendatipun ini hanyalah usaha dan khayalan pretisantana).

C. Unsur Metafisika dalam Ngaben

Setelah mengetahui maksud dan tujuan serta landasan filosofis. Penulis akan mencoba mengungkapkan unsur metafisika yang terdapat dalam upacara ngaben. Berangkat dari ontologi (metafisika umum) yang berusaha menjawab persoalan dan menggelar gambaran umum tentang struktur yang ada atau realitas berlaku mutlak untuk segala jenis realitas (yang ada). Realitas yang mendasar yang diyakini sebagai sumber dan makna itu oleh Sontag (1970:4) disebut sebagai “prinsip utama” ( the first principle ). Setiap filsuf atau aliran dalam memahami prinsip pertama menggunakan cara-cara yang berbeda, oleh karena itu dalam pemikiran filsafat kita menemukan beberapa model pendekatan, dari yang tradisional sampai yang paling kontemporer. Pendekatan itu berkembang dari model pemikiran kosmosentris, theosentris, antroposentris, logosentris, dan ke gramatologisentris. Masing-masing memiliki watak, titik pijak, perspektif, dan orientasi yang berbeda.

Telah ditetapkan bahwa dalam upacara ngaben dianggap sebagai “simbolis pengantar atma (jiwa) ke alam pitra (baka)”. Proses pengantaran atma ke alam pitra merupakan prinsip utama yang lalu dituangkan melalui symbol berupa upacara yang disebut Ngaben. Oleh karena itu “proses pengantaran atma (jiwa) ke alam pitra (baka)” tersebut merupakan prinsip pertama dalam ontologi upacara ngaben.

D. Dasar Hukum

Ngaben merupakan salah satu upacara adat Umat Hindu yang masuk ke dalam ruang lingkup upacara Pitra Yajna. Dimana yang dimaksud dengan Pitra Yajna adalah persembahan suci kepada leluhur. Pitra Yajna berasal dari kata Pitr yang artinya leluhur, yajna yang berasal urat kata yaj yang berarti berkorban. Leluhur dimaksud adalah Ibu Bapak, kakek, buyut, dan lain-lain yang merupakan garis lurus ke atas, yang menurunkan kita. Kita ada karena ibu dan Bapak. Ibu dan Bapak ada karena Kakek dan Nenek, begitu seterusnya. Jadi kita ada atas jasa mereka. Kita telah berhutang kepada mereka. Hutang kepada leluhur disebut Pitra Rna. Hutang ini harus dibayar, membayar utang kepada leluhur dengan melaksanakan pitra yajna. Jadi pitra yajna merupakan suatu pembayaran hutang kepada leluhur. Hal inilah yang menjadi dasar hukum dari pada Pitra Yajna itu.

Upacara menghormati leluhur dalam Agama Hindu di kenal dengan istilah Sradha. Hal ini dijelaskan dalam Menawa Dharma Sastra sebagai berikut : “Upacara Pitra Yajna yang harus kamu lakukan Hendaknya setiap harinya melakukan sraddha dengan mempersembahkan nasi atau dengan air dan  susu, dengan umbi-umbian . Dan dengan demikian Ia menyenangkan para leluhur.” (M.D.S.I.82).

E. Jenis – jenis Ngaben Sederhana

1. Mendhem Sawa

Mendhem sawa berarti penguburan mayat. Di muka dijelaskan bahwa ngaben di Bali masih diberikan kesempatan untuk ditunda sementara, dengan alasan berbagai hal seperti yang telah diuraikan. Namun diluar itu masih ada alasan yang bersifat filosofis lagi, yang didalam naskah lontar belum diketemukan. Mungkin saja alasan ini dikarang yang dikaitkan dengan landasan atau latar belakang filosofis adanya kehidupan ini. Alasannya adalah agar ragha sarira yang berasal dari unsur prthiwi sementara dapat merunduk pada prthiwi dulu. Yang secara ethis dilukiskan agar mereka dapat mencium bunda prthiwi. Namun perlu diingatkan bahwa pada prinsipnya setiap orang mati harus segera di aben. Bagi mereka yang masih memerlukan waktu menunggu sementara maka sawa (jenasah) itu harus di pendhem (dikubur) dulu. Dititipkan pada Dewi penghuluning Setra (Dewi Durga).

2. Ngaben Mitra Yajna

Berasal dari kata Pitra dan Yajna. Pitra artinya leluhur, yajna berarti korban suci. Istilah ini dipakai untuk menyebutkan jenis ngaben yang diajarkan pada Lontar Yama Purwana Tattwa, karena tidak disebutkan namanya yang pasti. Ngaben itu menurut ucap lontar Yama Purwana Tattwa merupakan Sabda Bhatara Yama. Dalam warah-warah itu tidak disebutkan nama jenis ngaben ini. Untuk membedakan dengan jenis ngaben sedehana lainnya, maka ngaben ini diberi nama Mitra Yajna.

Pelaksanaan Atiwa-atiwa / pembakaran mayat ditetapkan menurut ketentuan dalam Yama Purwana Tattwa, terutama mengenai upakara dan dilaksanakan di dalam tujuh hari dengan tidak memilih dewasa (hari baik).

3. Pranawa

Pranawa adalah aksara Om Kara. Adalah nama jenis ngaben yang mempergunakan huruf suci sebagai simbol sawa. Dimana pada mayat yang telah dikubur tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara Ngeplugin atau Ngulapin. Pejati dan pengulapan di Jaba Pura Dalem dengan sarana bebanten untuk pejati. Ketika hari pengabenan jemek dan tulangnya dipersatukan pada pemasmian. Tulangnya dibawah jemeknya diatas. Kemudian berlaku ketentuan seperti amranawa sawa yang baru meninggal. Ngasti sampai ngirim juga sama dengan ketentuan ngaben amranawa sawa baru meninggal, seperti yang telah diuraikan.

4. Pranawa Bhuanakosa.

Pranawa Bhuanakosa merupakan ajaran Dewa Brahma kepada Rsi Brghu. Dimana Ngaben Sawa Bhuanakosa bagi orang yang baru meninggal walaupun pernah ditanam, disetra. Kalau mau mengupakarai sebagai jalan dengan Bhuanakosa Prana Wa.

5.   Swasta

Swasta artinya lenyap atau hilang. Adalah nama jenis ngaben yang sawanya (mayatnya) tidak ada (tan kneng hinulatan), tidak dapat dilihat, meninggal didaerah kejauhan, lama di setra, dan lain-lainnya, semuanya dapat dilakukan dengan ngaben jenis swasta. Walaupun orang hina, biasa, dan uttama sebagai badan (sarira) orang yang mati disimbolkan dengan Dyun (tempayan) sebagai kulit, benang 12 iler sebagai otot, air sebagai daging, balung cendana 18 potong. Pranawa sebagai suara, ambengan (jerami) sebagai pikiran, Recafana sebagai urat, ongkara sebagai lingga hidup. Tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara ngulapin, bagi yang meninggal di kejauhan yang tidak diketahui dimana tempatnya, upacara pengulapan, dapat dilakukan diperempatan jalan. Dan bagi yang lama di pendhem yang tidak dapat diketahui bekasnya pengulapan dapat dilakukan di Jaba Pura Dalem.

F. Ngaben Sarat

Ngaben Sarat adalah Ngaben yang diselenggarakan dengan semarak, yang penuh sarat dengan perlengkapan upacara upakaranya. Upacara ngaben sarat ini memerlukan dukungan dana dan waktu yang cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ngaben sarat dilakukan baik terhadap sawa yang baru meninggal maupun terhadap sawa yang telah dipendem. Ngaben sarat terhadap sawa yang baru meninggal disebut Sawa Prateka. Sedangkan ngaben sarat terhadap sawa yang pernah dipendem disebut Sawa Wedhana. Baik sawa prateka maupun sawa wedhana memerlukan perlengkapan upacara bebanten dan sarana penunjang lainnya yang sangat besar atau banyak. Semua itu dipersiapkan dalam kurun waktu yang panjang serta memerlukan tenaga penggarap yang besar. Karena itulah terhadap kedua jenis ngaben ini disebut Ngaben Sarat.

  1. Kondisi Umat Hindu dimasa lalu

Pada masa lalu, lebih-lebih sebelum masa kemerdekaan, umat Hindu kondisinya sangat lemah. Sebagai masyarakat Agraris mereka berpenghasilan sangat rendah. Pemahaman terhadap Agama Hindu sangat rendah. Lebih-lebih ketika itu, ajaran Agama masih tabu untuk dipelajari secara umum. Motto away wera yang disalahtafsirkan menghantui pikiran umat. Akibatnya pemahaman Agama Hindu sangat rendah. Pengertian Ngaben disalah artikan dimana Ngaben adalah identik dengan Ngabehin. Kalau tidak mempunyai dana yang besar umat tidak akan berani ngaben. Umat tidak mengenal ada bentuk ngaben sederhana. Lalu mereka jarang sekali ngaben. Kalau toh ada ngaben mereka pasti golongan mekel, golongan menak, keluarga Puri, atau Geria.

Sewaktu-waktu umat kebanyakan juga ikut ngaben. Namun secara kolektif, baik dengan cara ngiring (ikut / numpang) pada puri atau pun geria; kadang kala dari masyarakat yang berpikiran agak maju, melaksanakan ngaben kolektif yang disebut Ngagalung. Biasanya disponsori oleh banjar. Akibat dari semua itu, sawa leluhur lama terpendam. Bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip ngaben.

  1. Kondisi umat Hindu masa sekarang.

Masyarakat sekarang telah measuki era Industrialisasi. Khususnya Bali adalah Industri Pariwisata. Masyarakat Industri adalah masyarakat yang penuh dengan kesibukan. Pendapatan masyarakat semakin meningkat. Pemahaman terhadap ajaran agama juga semakin meningkat, pelaksanaan upacara menjadi semakin semarak. Dengan pendapatan yang tinggi maka semakin bergairah dalam melaksanakan ibadah agamanya. Bagi Agama Hindu melaksanakan upacara agama termasuk ngaben kelihatan makin semarak saja. Setiap orang mati kebanyakan diaben. Ada yang mengambil ngaben sederhana dan ada juga yang mengambil jenis pengabenan sarat. Disisi lain akibat dari dampak pengaruh industri pariwisata, adalah penyempitan waktu. Hidup gotong royong seperti masa lalu mulai terancam. Kalau ada tetangga yang ngaben, tanpa diundang dia datang untuk membantu bekerja. Tapi sekarang tanpa di undang ia tidak akan datang. Kalau toh diminta paling-paling bisa membantu 1 s/d 2 kali saja. Syukurlah masyarakat Hindu di Bali masih mempunyai Banjar. Banjar adalah suatu lembaga adat yang andal untuk mempertahankan kebersamaan dan gotong-royong. Melalui banjar umat Hindu yang ngaben dapat mengharapkan bantuan warganya. Hanya beberapa kali mereka dapat meminta gotong-royong banjar. Ternyata lembaga banjar ini masih sangat efektif untuk membantu pelaksanaan ngaben.

Jenis-jenis Ngaben Sarat :

Jenis-jenis Ngaben Sarat tergantung jenis sawa (jenasah) yang diupakarakan yaitu Sawa Prateka dan Sawa Wedhana.

  1. Bilamana sawa yang diupakarakan itu baru meninggal disebut Sawa Prateka. Sawa Prateka adalah jenis ngaben untuk sawa (mayat) yang baru meninggal belum sempat diberikan upacara penguburan. Bila disimpulkan yaitu begitu atma atau urip meninggalkan badan, sawanya lalu diupacarakan di rumah seperti dimandikan, diperciki tirta pemanah, dihidangkan saji tarpana, dengan lebih dulu atma itu disuruh kembali sementara pada badannya terdahulu. Jadi di rumah betul sawanya yang diupakarakan. Inilah yang disebut Sawa Prateka.
  2. Sedangkan terhadap sawa yang telah pernah dikubur (di pendhem) lalu di aben disebut Sawa Wedhana. Sawa Wedhana adalah jenis ngaben yang dilakukan untuk mayat yang telah mendapatkan upacara penguburan (ngurug). Adapun sawa yang telah ditanam di Setra namanya makingsan, dititipkan pada tanah. Atma itu dipegang oleh Bhatari Durga. Pimpinan setra. Demikian prihalnya sawa yang ditanam. Pada Waktu pengupacarakan sawa itu namanya sawa Wedhana. Tiga hari menjelang pengabenan ada upakarannya yang disebut ngulapin. Sawa yang telah pernah dipendhem disebut tawulan. Tawulan ini tidak ikut diupacarakan lagi tawulan ini diganti dengan pengawak, yang terbuat dari kayu cendana atau kayu mejegau yang panjangnya satu lengkat satu hasta. Dan lebarnya empat jari. Cendana ini digambari orang-orangan sebagai pengganti sawa. Pengawak ini disebut sawa karsian. Upacara ngaben jenis ini juga disebut Sawa Rsi.

G. Pembagian Ngaben Menurut Caranya

Selain pembagian ngaben menurut jenis ngaben diatas baik ngaben sederhana maupun ngaben sarat, adapula pembagian ngaben dilihat dari cara pelaksanaannya yaitu :

1. Ngaben Langsung

Ngaben Langsung Artinya, Upacara ini langsung dilakukan setelah orang itu meninggal. Ini biasanya dilakukan bagi mereka yang boleh dikatakan mampu untuk urusan ekonominya. Pada umumnya upacara ngaben dari persiapannya membutuhkan waktu yang agak lama, minimal kira-kira 10 hari, itupun jika “hari baik” berdasarkan hitungan kalerder Bali sudah dapat ditentukan / dipilih. Sementara itu biasanya mayat dari orang yang meninggal akan diawetkan terlebih dahulu, baik dengan cara pembekuan (es), atau dengan zat kimia lainnya.

2. Ngaben Massal (ngerit)

Seperti namanya ngaben masal dilakukan secara bersama-sama dengan banyak orang. Di masing-masing desa di Bali biasanya mempunyai aturan tersendiri untuk acara ini. Ada yang melakukan setiap 3 tahun sekali, ada juga setiap 5 tahun dan mungkin ada yang lainnya. Bagi masyarakat yang kurang mampu, ini adalah pilihan yang sangat bijaksana, karena urusan biaya, sangat bisa diminimalkan. Biasanya mereka yang mempunyai keluarga meninggal dunia, akan di kubur terlebih dulu. Pada saat acara ngaben masal inilah, kuburan itu digali lagi untuk mengumpulkan sesuatu yang tersisa dari mayat tersebut. Sisa tulang atau yang lain, akan dikumpulkan dan selanjutnya dibakar.

Prosesi upacara ngaben selanjutnya, setelah pembakaran mayat, abunya kemudian dibuang ke laut. Dilanjutkan dengan upacara penjemputan arwah di laut tersebut, sebelum akhirnya ditempatkan di pura keluarga masing-masing. Disinilah biasanya seperti dijelaskan dihalaman lain tentang pura keluarga masyarakat hindu di Bali, disamping fungsinya untuk memuja tuhan juga untuk memuja para leluhurnya.

H. Hari Baik atau Dewasa Ngaben

Pada hakekatnya saat yang baik (dewasa) adalah merupakan repleksi dari adanya pengaruh alam besar (Buana Agung) terhadap kehidupan alam kecil dengan alam besar (Makrokosmos) itu. Adanya pengaruh alam besar terhadap kehidupan manusia serta akibat dari pengaruh saling berhubungan itu betul-betul diperhatikan oleh setiap umat Hindu dalam melakukan usaha terutama dalam melakukan upacara yajna, dalam hal ini ngaben.

Bergeraknya matahari ke utara atau keselatan dari bulatan bumi yang sesuai dengan penglihatan manusia, seperti dapat dilihat sepanjang tahun membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan di Bumi, lahir bathin. Bergeraknya matahari inilah yang menjadi patokan pesasihan dalam ilmu wariga itu. Dan pesasihan merupakan dasar pokok dari dewasa, khususnya dewasa ngaben sarat.

Bila kita perhatikan keadaan sasih yang disebabkan pergeseran matahari ke utara ke selatan (secara pandangan manusia) maka akan terlihatlah bagian-bagian sasih-sasih itu serta kegunaannya untuk upacara apa tepatnya, sesuai dengan petunjuk dalam lontar-lontar di Bali.

I. Upacara Adat Ngaben di Desa Trunyan Bali.

Terletak di pinggir Danau Batur dan dikelilingi tebing bukit, Desa Trunyan memiliki banyak keunikan sebagai sebuah desa kuna dan Bali Aga (Bali asli). Konon ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkan bau sangat harum. Bau harum itu mendorong Ratu Gede Pancering Jagat untuk mendatangi sumber bau. Beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit di sekitar pohon-pohon hutan cemara Landung. Di sanalah kemudian mereka kawin dan secara kebetulan disaksikan oleh penduduk desa hutan Landung yang sedang berburu. Taru Menyan itulah yang telah berubah menjadi seorang dewi yang tidak lain adalah istri dari Ida Ratu Pancering Jagat. Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede mengajak orang-orang desa Cemara Landung untuk mendirikan sebuah desa bernama Taru Menyan yang lama kelamaan menjadi Trunyan. Desa ini berada di Kecamatan Kintamani, Daerah Tingkat II Bangli. Ternyata tidak semua umat Hindu di Bali melangsungkan upacara ngaben untuk pembakaran jenasah. Di Trunyan, jenasah tidak dibakar, melainkan hanya diletakkan di tanah pekuburan. Trunyan adalah desa kuna yang dianggap sebagai desa Bali Aga (Bali asli). Trunya memiliki banyak keunikan dan yang daya tariknya paling tinggi adalah keunikan dalam memperlakukan jenasah warganya. Trunyan memiliki tiga jenis kuburan yang menurut tradisi desa Trunyan, ketiga jenis kuburan itu di- klasifikasikan berdasarkan umur orang yang meninggal, keutuhan jenasah dan cara penguburan yaitu :

1.   Kuburan utama adalah yang dianggap paling suci dan paling baik yang disebut Setra Wayah.

Jenazah yang dikuburkan pada kuburan suci ini hanyalah jenazah yang jasadnya utuh, tidak cacat, dan jenasah yang proses meninggalnya dianggap wajar (bukan bunuh diri atau kecelakaan).

2.   Kuburan yang kedua disebut kuburan muda yang khusus diperuntukkan bagi bayi dan orang dewasa yang belum menikah. Namun tetap dengan syarat jenasah tersebut harus utuh dan tidak cacat.

3.   Kuburan yang ketiga disebut Sentra Bantas, khusus untuk jenasah yang cacat dan yang meninggal karena salah pati maupun ulah pati (meninggal secara tidak wajar misalnya kecelakaan, bunuh diri).

Dari ketiga jenis kuburan tersebut yang paling unik dan menarik adalah kuburan utama atau kuburan suci (Setra Wayah). Kuburan ini berlokasi sekitar 400 meter di bagian utara desa dan dibatasi oleh tonjolan kaki tebing bukit. Untuk membawa jenasah ke kuburan harus menggunakan sampan kecil khusus jenasah yang disebut Pedau. Meski disebut dikubur, namun cara penguburannya unik yaitu dikenal dengan istilah mepasah. Jenasah yang telah diupacarai menurut tradisi setempat diletakkan begitu saja di atas lubang sedalam 20 cm. Sebagian badannya dari bagian dada ke atas, dibiarkan terbuka, tidak terkubur tanah. Jenasah tersebut hanya dibatasi dengan ancak saji yang terbuat dari sejenis bambu membentuk semacam kerucut, digunakan untuk memagari jenasah. Di Setra Wayah ini terdapat 7 liang lahat terbagi menjadi 2 kelompok. Dua liang untuk penghulu desa yang jenasahnya tanpa cacat terletak di bagian hulu dan masih ada 5 liang berjejer setelah kedua liang tadi yaitu untuk masyarakat biasa.

Jika semua liang sudah penuh dan ada lagi jenasah baru yang akan dikubur, jenasah yang lama dinaikkan dari lubang dan jenasah barulah yang menempati lubang tersebut. Jenasah lama, ditaruh begitu saja di pinggir lubang. Jadi jangan kaget jika di setra wayah berserakan tengorak-tengkorak manusia yang tidak boleh ditanam maupun dibuang. Meski tidak dilakukan dengan upacara Ngaben, upacara kematian tradisi desa Trunyan pada prinsipnya sama saja dengan makna dan tujuan upacara kematian yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali lainnya. Upacara dilangsungkan untuk membayar hutang jasa anak terhadap orang tuanya. Hutang itu dibayarkan melalui dua tahap, tahap pertama dibayarkan dengan perilaku yang baik ketika orang tua masih hidup dan tahap kedua pada waktu orang tua meninggal serangkaian dengan prilaku ritual dalam bentuk upacara kematian.

BAB IV

PENUTUP

Dari semua uraian dan penjelasan Upacara Ngaben, sebagai penutup dapatlah disimpulkan sebasgai berikut :

Ngaben adalah upacara pemberian beya atau bekal bagi roh untuk kembali kepada asalnya, dan pembakaran mayat, tawulan atau awak-awakan Sawa (jenasah) untuk mempercepat proses kembalinya unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya.

Ngaben dapat dibagi dua yakni ngaben sarat dan ngaben sederhana yakni ngaben yang dilakukan dengan cara sangat sederhana. Ngaben ini terdiri dari : Mitra Yajna, Pranawa, Swasta, dll. Ngaben sarat adalah ngaben yang penuh sarat dengan perlengkapan-perlengkapan upakara bebanten dan peralatan lainnya. Ngaben sarat ini terdiri dari dua jenis yakni sawa prateka dan sawa wedhana.

Kendatipun ada perbedaan dalam materi, maupun manfaat kedua jenis ngaben ini sama saja (utama juga ia, wenang ingangge der sang catur janma).

Upacara ngaben dilandasi oleh pemikiran akan hakekat kehidupan sebagai manusia, yang berasal dari Tuhan untuk kembali kepada Tuhan.

Untuk tercapainya tujuan Ngaben dengan semaksimal telah ditentukan adanya hari-hari baik (dewasa).

Semua peralatan dan sarana Ngaben terutama sekali pada Ngaben Sarat, adalah merupakan simbol-simbol yang bermakna.

Ngaben adalah merupakan swadharma pretisantana untuk menunukkan rasa bakti yang mendalam terhadap leluhurnya.

Meninggal yang tidak wajar dalam umat Hindu dikenal dengan istilah Salah Pati (dicari mati seperti contohnya : kecelakaan), dan Ulah Pati (mencari mati seperti contohnya bunuh diri).

Demikianlah penjelasan tentang upacara ngaben yang merupakan suatu proses ritual yang dilakukan oleh masyarakat bali. Dari penjelasan di atas kita dapat melihat penjelasan etimologi dan terminologi, maksud, tujuan, landasan folosofis dan unsur metafisika dalam upacara dan proses ngaben.

About these ads

69 Tanggapan

  1. suksma

  2. Om,Swastyastu pak dewa,saya terarik membaca artikel bapak. sagat bagus. kebetulan saya ada tugas bikin paper tentang agama,saya mohon ijin utk copy dan mnta bantuan bapak utk info drmn sumber2 artikel bapak. suksma Om, santih,santih,santih, Om

  3. mohon utk dapat dikirimkan ke email sy runtutan upacara ngaben masal ngelanus ngeroras yg diiringi dg acara natak tiyis metatah dan kutang bok. Suksme.

  4. tolong dong jelaskan bagian2 panca wikrama

  5. terimakasih infonya :)

  6. @jaya : terima kasih sudah berkunjung di blog saya, menjawab pertanyaan Bli, menurut saya boleh-boleh saja dilaksanakan upacara 3 bulanan. meskipun belum lama melakukan upacara ngaben, karena menurut saya kalau sudah melaksanakan seluruh prosesi ngaben berarti sudah bersih dan sudah boleh melaksanakan kegiatan lainnya seperti upacara 3 bulanan tersebut. detailx, silahkan tanyakan kepada pemangku/pedanda yang lebih tahu. terima kasih.

  7. selamat malam menjelang pagi, saya mau tanya , kemarin tgl 6 des 2012 saya ada upacara ngaben yaitu kakak kandung saya meninggal,dan tgl 26 des saya ada upacara 3 bulanan anak saya . pertanyaan saya : bolehkah upacara 3 bulanan tsb di lakukan ? boleh / tidak tolong kasi penjelasan secara detail , biar saya gak bingung dengan masalah ini. terima kasih

  8. suastiastu pak dewa, nama tiang made badra, tapi biasa dipanggil BOBBY, tiang mau tanya, apakah umat hindu boleh melangsungkan upacara memukur apabila ada salah satu keluarganya yang belum diaben? suksema.

  9. Pak Dewa! Mohon dijawab segera!
    Saya mau tanya tentang “Definisi Mati” dalam agama Hindu dari segi etimologi dan terminologi. Terus apakah ada akar kata dari Sanskertanya? Terima kasih

  10. salam kenal..
    saya vina..
    makalah ini sangat berguna buat saya karena menyangkut penelitian saya jg
    tp ada yg mau saya tanyakan…teori apakah yg cocok untuk menyangkut upacara ngaben ini…dan apakah ada pendapat para ahli tentang upacara ngaben ini?
    terima kasih sebelumnya…

  11. @Xarel : terima kasih atas komentar & pertanyaannya, salam :-D
    1. Sebagaimana yang saya ketahui dalam ajaran Hindu tidak ada selamatan untuk jenasah, sebagaimana halnya agama selain Hindu. terlebih lagi setelah selesainya prosesi ngaben, maka yang meninggal sudah dianggap bersih.
    2. kalaupun diadakan selamatan itu bukan merupakan ajaran Hindu, melainkan dari Individunya masing-masing.
    terima kasih

  12. To: Pak Dewa
    Salam…
    saya senang membaca tentang agama Hindu, yang ingin saya tanyakan:
    1. apakah dalam hindu ada selamatan untuk jenazah dari hari1-7 lalu 40,100,1000harinya ? jika ada mohon berikan slokanya juga

    2. dalam selamatan itu apakah mengundang para tetangga disekitarnya, seperti tradisi orang Islam…?

    trims pak dewa, saya tunggu jawabannya…

  13. ulasan yang menarik dan sangat membantu publik dalam memahami budaya Bali. Kalau ada ulasan kebudayaan yang lain boleh diposting, pak. Salam.

  14. @made rian : maaf saya tidak melayani pembuatan skripsi…

  15. pak dewa kalo bisa tolong kirim dong skripsi mengenai Agama Hindu karena sya kebetulan sedang nyusun Skripsi agama hindu, makasih..

  16. @Pak Rudy : Terima Kasih Pak atas komentarnya, yang Bapak Tanyakan ini Acara / upacara adat atau hari raya Hindu?

    kalau Upacara Hindu itu terbagi atas dua macam yakni yang pertama berdasarkan Pawukon / wuku (atau Minggu dalam bahasa Indonesia / “bukan hari Minggu” 1 Minggu = 7 hari, 1 Bulan = 35 hari, jumlah wuku/ minggu dalam 1 tahun saka=30 minggu) dan yang kedua berdasarkan Sasih (datangnya setiap tahun saka). beberapa hari raya Hindu :
    A. Berdasarkan Pawukon (hari raya ini jatuhnya 2 kali dalam 1 tahun Masehi kurang lebih 210 hari sekali) :
    1. Hari Raya GALUNGAN jatuhnya setiap hari Buda (hari Rabu) Kliwon Wuku Dungulan,
    2. Hari Raya KUNINGAN jatuhnya setiap hari Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Kuningan,
    3. Hari raya PAGERWESI jatuhnya setiap hari Buda (Rabu) Kliwon Wuku Sinta, nah kalau yang ini tidak lama lagi dirayakan yaitu pada tanggal 23 Nopember 2011,
    4. Hari raya SARASWATI jatuhnya setiap hari Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Watugunung, Kalau yang ini dirayakan sebelum hari raya Pagerwesi pada tanggal 19 Nopember 2011.
    5. dll, masih banyak lagi, kalau yang besar hanya yang diatas.
    B. Hari Raya Hindu berdasarkan Sasih (jatuhnya 1 tahun sekali / tahun saka) :
    1. Hari Raya NYEPI jatuhnya setiap penanggal pisan Sasih Kedasa (tanggal 1 saka, kalau di kalender Masehi biasanya jatuhnya sekitar Bulan Maret / April) kalau tahun ini jatuhnya pada tanggal 5 Maret 2011 lalu.
    2. Hari Raya SIWARATRI jatuhnya setiap purwaning tilem kepitu (sebelum bulan mati yang ketujuh, sekitar bulan Januari, kalau ditahun ini jatuhnya pada tanggal 3 Januari 2011).

    Semua diatas ini adalah hari besar Hindu, selain itu Agama Hindu juga melaksanakan persembahyangan setiap Bulan Purnama dan Tilem (bulan mati).

    Kemudian kalau Upacara yang Bapak tanyakan berarti itu lebih mendekati ke adat seperti misalnya :
    1. Upacara Ngaben = ini dilaksanakan apabila ada kematian, besar kecilnya acara tergantung keluarga yang menjalani / melaksanakan.
    2. Upacara Sudiwadani = ini dilaksanakan dalam pernikahan, besar kecilnya acara tergantung keluarga yang menjalani / melaksanakan.
    dll, yang tidak biasa saya sebutkan satu per satu.

    Kalau Bapak ingin tahu lebih jauh mengenai kapan jatuhnya hari raya, mungkin Bapak bisa membeli satu buah Kalender Bali, didalamnya sudah lengkap dijelaskan kapan jatuhnya hari raya karena kalau dikalender biasa itu tidak ada (kemungkinan hanya NYEPI saja)

    sekian penjelasan dari saya kurang dan lebih saya mohon maaf.
    terima kasih.

  17. Selamat Malam, saya Rudy. Terimakasih untuk artikel yang sangat menarik ini. Saya ada pertanyaan lain. Acara apa saja yang besar selain Nyepi dan Ngaben? atau kalau memungkinkan darimana saya dapat info untuk setiap acara yang akan digelar? Terimakasih. Salam.

  18. terima kasih berita ttg ngabennya…
    untung ad blog pak dewa….
    jadi tugas agamanya cpt selesai…
    txh…

  19. bisa sebagai acuan nih, sudah lengkap.
    salam kenal …

  20. OM Swastyastu
    Matur suwun Mas Dewa, ijin copy untuk anak … katanya bikin paper tentang Memukur yg merupakan bagian dari tahapan Upacara Ngaben.

  21. suksma pak dewa, pengetahuan yg sangat berguna dan sangat perlu
    bagi kita yg beragama hindu. mohon izin tiang copy untuk pengetahuan
    kami dan keluarga. suksma

  22. Lengkap pembahasannya, saya jadi lebih jelas tentang apa itu ngaben, sebab selama ii yang saya tau ngaben itu cuma pembakaran mayat saja.

  23. pas bangt ini yang saya cari sebagai bahan malkalah,,,
    tqq soo much, i like it,
    i hope we can see on next report,

  24. sangat bagus sekali,kebetulan saya juga melakukan penelitian tentang ngaben,apaboleh saya bertanya” kepada kakak tentang hal” yg berkaitan dengan ngaben,saya ingin tau lebih banyak lagi tentang ngaben
    saya seorang pelajar SMA perguruan cikini dijakarta,dan dalam penelitian tentang ngaben untuk tugas praktik saya untuk kelulusan saya,
    mohon bantuannya ka :)
    apakah kakak mempunyai facebook/twitter ??
    hmm sebelumnya saya minta maaf,karna sebagian tulisan kakak diatas saya copy paste :)
    bolehkah saya minta alamat email kakak ??

    terimakasih
    salam kenal
    astrini :)

  25. Menurut saya sama saja penerapan upacara ngaben terhadap kasus salah pati dan ulah pati tetapi tata caranya terkadang berbeda disetiap daerah… :-D

  26. sebelumnya terima kasih atas info dari makalah anda.
    saya ingin bertanya, untuk kematian salah pati dan ulah pati. bagaimana pemberlakuan upacara pengabenan untuk kematian tersebut.
    terima kasih

  27. thanks pa dewa, saya mauminta izin untuk mengkopi artikel ini buat tugas makalah saya selebihnya artikel ini sangat bagus. sekali lagi terima kasih.

  28. bagaimana menjelaskn perjalannan atma dalam konsep ngaben dan tingkatan sapta patala serta sapta loka, tahapan upacara ngaben apakah ada yang berkait dengan meningkatnya status atma pada patala dan loka, mohon jelaskan karena kami banyak mendapat pertanyaan ttg hal itu di jawa namun referensi keterkaitan antara upacara dan tattwa belum saya dapatkan, trimakasih tak tunggu artikel selanjutnya.

  29. makaci yah atas makalahnya alnya q perlu bgt buat refrensi skripsiq nanti cihhh, tapi detail banget penjelasannya mudah dimengerti.

  30. suksma bgt,,,,,,,,,,,,, info y ,, bermanfaat ,,, bagi sya ,,,,

  31. Trims ya. info yg sangat detail dan lengkap. sangat berguna bagi saya dan juga rekan2 terutama umat hindu dimanapun berada. terus berkarya………….Good luck

  32. Apakah ada acara2 atau upacara untuk mengenang kematian setelah ngaben??

  33. selamat siang pak Dewa. terimakasih utk makalahnya. makalh Bapak sangat berguna utk menyelesaikan tugas mengarang saya. btw, saya boleh minta daftar pustakanya?
    terimakasih pak.

    monti

  34. trmks utk info na ya…klo mao info ttg dunia geografi slhkn knjgi blog sya,,

  35. maksie bngtzzz nieeee

  36. mantafffffffffffff
    cari in artikel tfg kematian lg donk..

  37. silahkan disdot mumpung masih gratiss…
    terima kasih telah sudi mampir & berkomentar :-D

  38. mkasi bli….
    dah deadline nie…
    sorry ya tk copy….
    he…he…. :-)

  39. bagus bgd…
    pas untu tugas karya tulis sejarah…
    kebetulan aku mau ngambil ini…
    beruntung…
    menarik sekali… :)

  40. good blog :)

  41. THK JUGA KUNJUNGANYA :)

  42. Thnx atas paparanya tentg ngaben, saya yg tdk tau bs menjadi tau, sukses slalu untuk penulis

  43. Sebelumnya terima kasih telah berkunjung & berkomentar di blog saya….
    menjawab pertanyaan anda (Medina) pada blog saya tersebut, yaitu bahwa : Semua orang Hindu pada dasarnya ketika Ia telah meninggal dunia maka harus dilakukan upacara pengabenan / harus diaben, adapun alasannya mengapa? sudah saya uraikan sedikit dalam blog silahkan dibaca kembali. ngaben disini banyak mempunyai sinonim ada yang menyebutnya Palebon, Pralina, Ngaben, Ngerit, Ngelungah, Meyanin, Atiwa-atiwa, dan masih banyak lagi yang lainnya….
    sedangkan untuk Bayi biasa di kenal dengan istilah Ngelungah, dimana intinya sama saja dengan ngaben tetapi sedikit lebih sederhana dilihat dari Dana / Anggaran, Upacara dan Upakara, Sarana dan Prasarana yang tentunya tidak semegah dan semewah Upacara Ngaben orang Dewasa.

  44. info yang sangat menarik. saya mau tanya, minim usia berapa orang mati di aben? apa bayi yg usia 7 hari meninggal wajib di aben juga? terima kasih.

  45. sama-sama…. terima kasih kunjungannya

  46. terima kasih ya pak…
    karena blog ini membantu saya dalam mengerjakan tugas agama dengan baik!!

  47. Saya sangat respec sekali tentang Bali dan kulturnya yang multidimensi, energik dan dinamis penuh inovatif, bahkan nglencer kami ke Bali belum lama ini sempat nyimak sekilas tentang desa adat panglipuran dan tenganan, pokoknya I love you full Bali tenan. Salam kenal untuk P Wayan. Trims untuk paparannya buat khasanah kami. Kapan nulis tentang ilmu metafisik balinya.

  48. nanti sy lihat lg pustakanya…. :)

  49. pak bsa dbuat kan daftar pustaka nya sekalian ??
    saya nyari penjelasan tentang ngaben dengan daftar pustaka nya , mohon bantuan pak ..

  50. Suksma jg Mas Ardika (Purantara Bugbug, ring Denpasar) sudah sudi berkunjung & berkomentar… :)

  51. Suksma postingan mengenai Ngaben puniki, becik pisan anggen nambah wawasan …

  52. ooo… begitu ya mas…? salam kenal dari saya… :)

  53. Saya pernah sekali melihat ngaben… upacara yang sangat hikmat menurut saya… kebetulan saya pernah di Bali 3 tahun dan baru sebulan pulang ke Jawa… terima kasih info dan penjelasan tentang ngaben Mas…

  54. maaf sepertinya telah saya uraikan pada tulisan diatas… trim’s

  55. pak dewa th g. apa pengertian dari membakar mayat, apa sebabnya umat hindu membakar mayat??????, kalo th tolong kirim ya pak, suksema pak dewa

  56. ya, nanti di kirim via email

  57. pak dewa, klo ada daftar pustakanya, saya minta donk pak, soalnya butuh banget nie…………….

  58. nanti aku cari-cari dulu kalau ada… :)

  59. pak dewa minta tlong kirimin saya lontar yang isinya tentang tatacara atau sastra sebagai landasan untuk ngaben dengan cara dikubur. dari jasa baros dimataram. STAHN gde pudja mataram

  60. terima kasih atas komentarnya…. :)

  61. Trim’s ….atas tulisannya, memberi tambahan pengetahuan ttg ngaben etnis Bali.

  62. Ngaben setidaknya menambah khasanah kultur dari suatu suku di Indonesia beserta ajaran agama.
    Belum pernah melihat langsung, hanya di TV aja.

  63. Ia beliau mengajar sosiologi hukum dan hukum islam…… :)

  64. hukum untad? kenal prof. zainudin ali? saya kira stay di bali, but it’s ok.. email sdh sy kirimkan..

  65. salam Balik Mbak…
    terima kasih kunjungannya…. :)
    alamat email akan saya kirim langsung…. :)

  66. Salam kenal,

    info ini sangat berharga buat saya. kebetulan saat ini saya sedang melakukan penelitian untuk tugas kuliah saya, dan kebetulan responden saya adalah seorang remaja Bali. jika tidak keberatan, saya meminta alamat email bapak untuk menanyakan bbrp hal berkaitan dengan ngaben. sebelumnya saya sampaikan terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.

    Salam,
    Yan Ariyani

  67. salam kenal juga bos…makasih kunjungannya…. :)

  68. info yang sangat menarik pak. salam kenal :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: