Bahan Ajar Kriminologi

Bahan Ajar Kriminologi

Setelah mempelajari mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu:
1. memahami hakikat dan karakteristik mata kuliah kriminologi dan kenakalan remaja;
2. menjelaskan ruang lingkup, cakupan dan tujuan mata kuliah krimonologi dan kenakalan remaja;
3. menjelaskan masalah kejahatan dan perkembangan kejahatan;
5. menganalisis perkembangan kriminologi;
6. menjelaskan hal ihwal berkaitan dengan kenakalan remaja;
7. memahami sebab-sebab munculnya gejala kenakalan remaja;
8. menjelaskan cara pencegahan kenakalan remaja;
 

Sesuai dengan kompetensi matakuliah Kriminologi dan Kenakalan Remaja, maka penyajian materi dikemas dalam 9 modul yang pengorgani-sasiannya sebagai berikut.
1. Hakikat dan karakteristik mata kuliah kriminologi dan kenakalan remaja.
2. Ruang lingkup, cakupan dan tujuan mata kuliah krimonologi dan kenakalan remaja.
3. Masalah kejahatan dan perkembangan kejahatan.
4. Mashab-mashab dalam kriminologi.
5. Perkembangan kriminologi.
6. Kenakalan remaja.
7. Sebab-sebab munculnya gejala kenakalan remaja.
8. Cara pencegahan kenakalan remaja.


Kejahatan dan Karakteristik Kriminologi

1. Istilah, Definisi dan Ilmu Bantu Kriminologi
Kriminologi berasal dari kata crimen yang artinya kejahatan dan logos yang artinya pengetahuan atau ilmu pengetahuan sehingga kriminologi dapat diartikan ilmu pengetahuan tentang kejahatan.

Studi tentang kejahatan sudah lama dilakukan oleh filsuf Yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles khususnya usaha untuk menjelaskan sebab-sebab kejahatan.

Definisi tentang kriminologi banyak dikemukakan oleh para sarjana, dan masing-masing definisi dipengaruhi oleh luas lingkupnya bahan yang dicakup dalam kriminologi. Bonger mengemukakan kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya. Sutherland merumuskan kriminologi sebagai keseluruhan ilmu pengetahuan yang bertalian dengan perbuatan jahat sebagai gejala sosial. Thorsten Sellin mengemukakan bahwa istilah Criminology di Amerika Serikat (USA) dipakai untuk menggambarkan ilmu tentang penjahat dan cara penanggulangannya.

Mempelajari kriminologi secara tuntas membutuhkan ilmu-ilmu bantu yang mempunyai hubungan saling menguntungkan, dan ilmu-ilmu bantu tersebut antara lain: sosiologi, ilmu hukum, ilmu ekonomi, psikologi, dan antropologi.

Karakteristik Kriminologi dan Kenakalan Remaja
Kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya maka kriminologi akan memusatkan perhatiannya pada kejahatan dari berbagai sisi termasuk perhatiannya terhadap pelaku kejahatan dan korban kejahatan atau masyarakat. Bonger menjelaskan kriminologi teoritis dan kriminologi praktis.

Kartini Kartono mengelompokkan kenakalan dalam berbagai tipe, yaitu:
1. delinkuensi individual;
2. delinkuensi situasional;
3. delinkuensi sistematik;
4. delekunsi kumulatif.

Sedangkan kenakalan remaja dikelompokkan oleh Kartini Kartono adalah:
1. delinkuensi terisolir;
2. delinkuensi neurotic;
3. delinkuensi psikopatik;
4. delinkuensi defek moral;
5. delinkuensi kriminologi;
6. delinkuensi kenakalan remaja.

Daftar Pustaka

  • Hendrojono. (2005). Kriminologi Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi.
  • Is Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • _____________. (1995). Kejahatan Korporasi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
  • Kartini Kartono. (1992). Patologi Sosial Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali Press.
  • Romli Atmasasmita. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.
  • Sarlito Wirawan (1997: 200-201)
  • (Sudarsono, 1995: 10)

Ruang Lingkup dan Objek Kajian Kriminologi

I. Ruang Lingkup Kriminologi

II. Menurut Sutherland kriminologi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu:
1. etiologi kriminal, yaitu mencari secara analisis ilmiah sebab-sebab dari pada    kejahatan;
2. penologi, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sejarah lahirnya, berkembangnya

hukuman, arti dan faedahnya.
3. sosiologi hukum, yaitu analisis ilmiah terhadap kondisi-kondisi yang mempengaruhi perkembangan hukum pidana.

Menurut H. Bianchi bahwa Kriminologi sebagai “metascience” dari pada Hukum Pidana, yakni suatu ilmu yang memiliki ruang lingkup yang lebih luas di mana pengertiannya dapat dipergunakan untuk memperjelas konsepsi-konsepsi dan masalah-masalah yang terdapat dalam Hukum Pidana.

Menurut Bonger Bonger membagi kriminologi menjadi kriminologi murni dan kriminologi terapan. Kriminologi murni mencakup:
1. Antropologi kriminal.
2. Sosiologi kriminal.
3. Psikologi kriminal.
4. Psikopatologi.
5. Penologi.

Kriminologi terapan mencakup:
1. Hiegiene kriminal.
2. Politik kriminal.
3. Kriminalistik.

Arti, Tujuan dan Objek Kajian Kriminologi

Kriminologi itu sendiri secara umum memiliki tujuan untuk mempelajari kejahatan dalam berbagai aspek sehingga diharapkan dapat memperoleh pemahaman mengenai fenomena kejahatan dengan lebih baik.

Secara umum objek kajian kriminologi itu ialah:
1. Kejahatan, yaitu perbuatan yang disebut sebagai kejahatan. Kriteria suatu perbuatan yang dinamakan kejahatan tentunya dipelajari dari peraturan perundangan-undangan pidana, yaitu norma-norma yang didalamnya memuat perbuatan pidana.
2. Penjahat, yaitu orang yang melakukan kejahatan. Studi terhadap pelaku atau penjahat ini terutama dilakukan oleh aliran kriminologi positive dengan tujuan untuk mencari sebab-sebab orang melakukan kejahatan. Dalam mencari sebab-sebab kejahatan, kriminologi positive menyandarkan pada asumsi dasar bahwa penjahat berbeda dengan bukan penjahat, dan perbedaan tersebut ada pada aspek biologik, psikologis maupun sosio-kultural.
3. Reaksi masyarakat terhadap kejahatan dan penjahat (pelaku). Studi mengenai reaksi masyarakat terhadap kejahatan bertujuan untuk mempelajari pandangan serta tanggapan masyarakat terhadap perbuatan-perbuatan atau gejala yang timbul di masyarakat yang dipandang sebagai merugikan atau membahayakan masyarakat luas, akan tetapi undang-undang belum mengaturnya

Landasan dan Teori-Teori dalam Kriminologi
Teori-teori kriminologi dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang terkait dengan kajahatan atau penyebab kejahatan. Teori-teori tersebut antara lain:

1. Teori Asosiasi Deferensial
Pola perilaku jahat tidak diwariskan tetapi dipelajari melalui pergaulan yang akrab. Tingkah laku jahat dipelajari dalam kelompok melalui interaksi dan komunikasi, dan yang dipelajari dalam kelompok adalah teknik untuk melakukan kejahatan dan alasan yang mendukung perbuatan jahat.

2. Teori Anomi
Emile Durkheim (1893), mendefinisikan sebagai keadaan tanpa norma (deregulation) di dalam masyarakat. Keadaan deregulation atau normlessness tersebut kemudian menimbulkan perilaku deviasi. Kata anomie telah digunakan untuk masyarakat atau kelompok manusia di dalam suatu masyarakat, yang mengalami kekacauan karena tidak adanya aturan-aturan yang diakui bersama yang eksplisit ataupun implisit mengenai perilaku yang baik, atau, lebih parah lagi, terhadap aturan-aturan yang berkuasa dalam meningkatkan isolasi atau bahkan saling memangsa dan bukan kerja sama.

3. Teori Subkultur

Ada dua teori subkultur, yaitu:

a. teori delinquent subculture, yaitu teori yang dikemukakan oleh A.K. Cohen yang dalam penelitiannya dijelaskan bahwa perilaku delinkuen lebih banyak terjadi pada laki-laki kelas bawah dan mereka lebih banyak membentuk gang. Tingkah laku gang subkultur bersifat tidak berfaedah, dengki dan jahat. Terdapat alasan yang rasional bagi delinkuen subkultur untuk mencuri (selain mencari status kebersamaan) mencari kesenangan dengan menimbulkan kegelisahan pada orang lain. Mereka juga mencoba untuk meremehkan nilai-nilai kelas menengah.
b. Teori differential opportunity, yaitu teori yang dikemukakan oleh R.A. Cloward pada tahun 1959. Menurut Cloward tidak hanya terdapat cara-cara yang sah dalam mencapai tujuan budaya tetapi terdapat pula kesempatan-kesempatan yang tidak sah.Ada tiga bentuk subkultur delinkuen, yaitu a. criminal sub culture, b. conflict sub culture, c. retreatis sub cukture. Ketiga bentuk sub kultur dilinkuen tersebut tidak hanya menunjukkan adanya perbedaan dalam gaya hidup diantara anggotanya, tetapi juga karena adanya masalah-masalah yang berbeda bagi kepentingan kontrol sosial dan pencegahannya. Dalam teorinya Cloward dan Ohlin menyatakan bahwa timbulnya kenakalan remaja lebih ditentukan oleh perbedaan-perbedaan kelas yang dapat menimbulkan hambatan-hambatan bagi anggotanya, misalnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan sehingga mengakibatkan terbatasnya kesempatan bagi anggotanya untuk mencapai aspirasinya.

4. Teori Label
Tokoh penting dalam pengembangan teori label adalah Howard S. Becker dan Edwin Lemert. Teori ini muncul pada awal 1960-an untuk menjawab pertanyaan tentang kejahatan dan penjahat dengan menggunakan perspektif yang baru. Menurut Becker, bahwa kejahatan terbentuk karena aturan-aturan lingkungan, sifat individual, dan reaksi masyarakat terhadap kejahatan. Telah menjadi kesepakatan para penganut teori label, bahwa proses pemberian label merupakan penyebab seseorang untuk menjadi jahat.

5. Teori konflik adalah teori yang mempertanyakan hubungan antara kekuasaan dalam pembuatan undang-undang (pidana) dengan kejahatan, terutama sebagai akibat tersebarnya dan banyaknya pola dari perbuatan konflik serta fenomena masyarakat (masyarakat Amerika Serikat) yang bersifat pruralistik (ras, etnik, agama, kelas sosial). Teori konflik menganggap bahwa orang-orang memiliki perbedaan tingkatan kekuasaan dalam mempengaruhi pembuatan dan bekerjanya undang-undang. Mereka yang memiliki tingkat kekuasaan yang lebih besar, memiliki kesempatan yang lebih besar dalam menunjuk perbuatan-perbuatan yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai dan kepentingannya sebagai kejahatan.Tokoh-tokoh teori konflik adalah Austin T Turk, Chambliss, R.B. Seidman, Quinney, K. Marx. Menurut teori konflik, suatu masyarakat lebih tepat bercirikan konflik daripada konsensus.

6. Teori Control Social
Teori kontrol sosial merupakan suatu teori yang berusaha menjawab mengapa orang melakukan kejahatan. Teori kontrol tidak lagi mempertanyakan mengapa orang melakukan kejahatan, tetapi mempertanyakan mengapa tidak semua orang melanggar hukum atau mengapa orang taat terhadap hukum? Teori kontrol sosial berusaha menjelaskan kenakalan para remaja yang oleh Steven Box (Hendrojono, 2005: 99) dikatakan sebagai deviasi primer. Teori kontrol sosial memandang setiap manusia merupakan makhluk yang memiliki moral yang murni. Oleh karena itu setiap orang memiliki kebebasan memilih berbuat sesuatu. Apakah ia akan berbuat menaati aturan yang berlaku ataukah melanggar aturan-aturan yang berlaku. Tindakan yang dipilih itu didasarkan pada ikatan-ikatan sosial yang telah dibentuk.

Daftar Pustaka

  • Bonger. (1982). Pengantar Tentang Kriminologi. Jakarta: PT Pembangunan Ghalia Indonesia.
  • Hendrojono. (2005). Kriminologi Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi.
  • Is Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • ___________. (1995). Kejahatan Korporasi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
  • Romli Atmasasmita. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.
  • Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa. (2001). Kriminologi. Jakarta: PT Rajagrafindo Perkasa.

Perkembangan Kriminologi

Kegiatan Belajar 1: Perkembangan Kriminologi Pada Zaman Yunani dan Abad Pertengahan
Rangkuman

1. Zaman Yunani
Plato (427-347 SM) dalam bukunya Republiek menekankan masalah ekonomi yang merupakan factor utama penyebab timbulnya kejahatan. Kemudian dalam bukunya De Wetten, Plato menguraikan bahwa: “Jika … dalam suatu masyarakat tidak ada yang miskin dan tidak ada yang kaya, tentunya terdapat kesusilaan yang tinggi di sana, karena di situ tidak ada ketakaburan, tidak pula kelaliman, juga tidak ada rasa iri hati dan benci”. Dalam bukunya tersebut Plato nampak tergolong kaum utopis, kaum yang mengkhayalkan sesuatu yang serba baik.

Sedangkan .Aristoteles (384 – 322 SM) mengemukakan pendapatnya bahwa kemiskinan menimbulkan kejahatan dan pemberontakan. Kejahatan yang besar tidak diperbuat untuk memperoleh apa yang perlu untuk hidup, tetapi untuk memperoleh kemewahan.

Pendapat Plato dan Aristoteles sangat besar pengaruhnya terhadap hukum pidana, terutama di bidang hukuman.

2. Abad Pertengahan
Dalam bukunya “The Criminologie” (1889) Van Kan dengan keahlian penyelidikannya, mencari sebab-sebab kejahatan dari faktor ekonomi. Thomas van Aquino (1226 – 1274) memberikan beberapa pendapat tentang pengaruh kemiskinan atas kejahatan. bahwa dalam keadaan yang sangat memaksa orang boleh mencuri (summa theologica).

3. Zaman Permulaan Sejarah Baru (Abad ke 16)
Thomas More (1478 – 1535) karangannya “Utopia” roman sosialistis, digambarkan suatu negara yang alat-alat produksinya dikuasai oleh umum. Dinyatakannya penduduk Utopia melebihi semua bangsa di dunia dalam hal perikemanusiaan, kesusilaan dan kebajikan. Sebab-sebab dari semua ini dikarenakan pengaruh keadaan masyarakat yang sangat berlainan itu.
More juga mengecam susunan pidana pada saat itu. Hukuman yang dijatuhkan menurut More terlalu berat antara lain: hukuman mati untuk pencurian. Jika atas kejahatan yang relatif ringan dijatuhkan hukuman yang amat berat ini maka justru akan menambah bahaya akan dilakukannya kejahatan yang lebih berat lagi, dikarenakan risiko untuk si penjahat hukumannya sama saja. More mengemukakan pendapatnya bahwa penjahat harus menebus kerugian yang ditimbulkannya dengan cara bekerja. Oleh karenanya More dikatakan sebagai pelopor tindakan.

Kegiatan Belajar 2: Perkembangan Kriminologi Pada Abad ke-18 dan Zaman Sekarang
Rangkuman

1. Abad ke-18 hingga revolusi Perancis
Hukum pidana pada akhir abad pertengahan dan abad ke-16, ke-17 dan sebagian besar abad ke-18 semata-mata ditujukan untuk menakut-nakuti dengan jalan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.

Hukuman atas badan merupakan hukuman sehari-hari yang dilakukan dan yang dipentingkan adalah pencegahan umum. Penjahat hanyalah sebagai contoh atau alat untuk menakut-nakuti orang lain, yang dianggap penting adalah perbuatan jahat itu. Hukum pidana tidak jelas perumusannya sehingga menimbulkan berbagai penafsiran. Cara pembuktian terdakwa sangat tergantung dari kemauan pemeriksa, dan pengakuan dipandang sebagai syarat pembuktian yang utama.

Rousseau menyuarakan melawan perlakuan kejam terhadap penjahat. Voltaire menjadi penentang yang paling keras terhadap peradilan pidana yang sewenang-wenang itu. C. Beccaria menguraikan dengan cara yang menarik segala keberatan terhadap hukum pidana dan hukuman-hukuman yang berlaku pada waktu itu.

2. Zaman Sekarang
Dimulai sejak tahun 1960 dengan semakin maraknya pemikiran kritis khususnya studi sosiologis terhadap peraturan perundang-undangan pidana yang mengarahkan studinya dalam mempelajari proses pembuatan hukum maupun bekerjanya hukum untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap masalah kejahatan dan fenomena kejahatan.

Kegiatan Belajar 3: Perkembangan Kriminologi di Era Global
Rangkuman

Era global sering dinamakan globalisasi mengandung makna yang dalam dan terjadi di segala aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial budaya, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya sebagai dampak kemajuan teknologi transportasi, komunikasi dan informatika modern yang luar biasa. Globalisasi yang ditandai oleh era informasi menuntut nilai-nilai dan norma-norma baru dalam kehidupan nasional maupun antarbangsa.

Kriminologi sebagai suatu ilmu di era global memperluas cakrawala keilmuan dengan mengkaji berbagai kejahatan modern yang menuntut penangulangannya secara modern pula. Ketentuan hukum yang sesuai dan berlaku serta penegakan hukum atas terjadinya kejahatan menjadi sorotan pula sebagai bahan kajian kriminologi.

Tak kalah pentingnya perhatian terhadap korban pun sebagai suatu dimensi baru (victim dimention) dan reaksi masyarakat global (dunia) yang menuntut adanya keselarasan, keseimbangan dan keserasian antara moralitas sosial, moralitas kelembagaan dan moralitas sipil yang didasarkan pada nilai-nilai aktual masyarakat beradab menjadi tidak kalah pentingnya sebagai bahan kajian kriminologi era global. Penanganan pelaku kejahatan (penjahat) dituntut pula memperhatikan HAM, yang secara individual dimiliki oleh setiap orang. Hak asasi manusia yang dimiliki penjahat menjadi perhatian pula bagi penyusunan undang-undang (hukum) dan sistem peradilan pidana di era global, di samping hak negara untuk mengurus dan mengatur serta menyelenggarakan pemerintahan demi terciptanya kedamaian hidup manusia.

Daftar Pustaka

  • Hendrojono. (2005). Kriminologi Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi.
  • Is Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • _________. (1995). Kejahatan Korporasi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
  • Muladi. (1997). Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
  • Romli Atmasasmita. (1997). Kriminologi. Bandung: Mandar Maju.
  • ____________. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.

MODUL 4: Mashab-mashab dalam Kriminologi

Kegiatan Belajar 1: Mashab Klasik
Rangkuman

Tokoh utama mashab klasik ini ialah Cesare Bonesana Merchese De Beccaria (1738-1794).

Pandangan mashab klasik ini yakni bahwa intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok. Orang melakukan perbuatan berdasarkan pertimbangan kesenangan dan kesusahan. Mashab klasik ini mendasarkan kejahatan pada “hedonistic psychology”.

Intelegensia membuat manusia mampu mengarahkan dirinya, ia adalah penguasa dari nasibnya, pemimpin dari jiwanya, makhluk yang mampu memahami dirinya dan bertindak untuk mencapai kepentingan dan kehendaknya. Masyarakat dibentuk sebagaimana adanya sesuai dengan pola yang dikehendakinya. Kemampuan kecerdasan atau akal dapat ditingkatkan melalui latihan dan pendidikan sehingga manusia mampu mengontrol dirinya sendiri baik sebagai individu maupun sebagai suatu masyarakat.

Kejahatan menurut mashab ini diartikan sebagai setiap pelanggaran terhadap perbuatan yang dilarang undang-undang pidana, dan penjahat adalah setiap orang yang melakukan kejahatan. Kejahatan dipandang sebagai hasil pilihan bebas dari individu dalam menilai untung ruginya melakukan kejahatan.

Kegiatan Belajar 2: Mashab Neo Klasik
Rangkuman

Mashab Neo-klasik muncul dikarenakan pada kenyataannya Code Penal Perancis 1791 tidak mungkin dipraktekkan, dikarenakan:

1. diabaikannya sama sekali perbedaan-perbedaan individual, dan arti situasi tertentu;
2. pada kenyataannya Code Penal Perancis mencoba untuk memperlakukan secara tepat sama;
3. pada kenyataannya anak yang belum dewasa, orang yang idiot, orang gila, dan sebagainya yang tidak mampu melakukan perbuatan hukum diperlakukan sebagai orang yang mampu melakukan perbuatan hukum.

Mashab Neo-Klasik ini tidak menyimpang dari konsepsi umum tentang sifat-sifat manusia yang berlaku pada waktu itu di Eropa. Doktrin dasarnya tetap, yaitu intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia.

Manusia adalah makhluk yang mempunyai ratio, yang berkehendak bebas, dan yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya dan dapat dikontrol oleh rasa ketakutannya terhadap hukuman.

Ciri-ciri mashab neo-klasik adalah:
1. adanya doktrin kehendak bebas;
2. pengakuan dari sahnya keadaan yang memperlunak;
3. perubahan doktrin tanggung jawab sempurna untuk memungkinkan pelunakan hukuman menjadi tanggung jawab sebagian saja;
4. dimasukkannya kesaksian atau keterangan ahli di dalam acara pengadilan untuk menentukan besarnya tanggung jawab.

Kegiatan Belajar 3: Mashab Positif
Rangkuman

Mashab positive bertolak dari pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor di luar kontrolnya, yang dapat berupa faktor fisik maupun faktor kultural.

Aliran pemikiran dari mashab positive ini menghasilkan dua pandangan yang berbeda, yaitu:
1. determinisme biologi, yang menganggap organisasi sosial berkembang sebagai hasil individu, serta perilakunya dipahami dan diterima sebagai pencerminan umum dari warisan biologis.
2. determinisme kultural, yang menganggap perilaku manusia dalam segala aspeknya selalu berkaitan dan mencerminkan ciri-ciri dunia sosio kultural yang melingkupinya

Mashab positive menghendaki agar pelaku kejahatan atau penjahat sebagai sesuatu yang harus dipelajari. Kejahatan dipandang sebagai milik yang unik dan melekat pada tiap-tiap individu, oleh karenanya perhatian utama untuk mempelajari dan mengatasi kejahatan haruslah pada si pelaku kejahatan itu sendiri. Studi kriminologi sebagian besar harus ditujukan pada usaha untuk mengerti atau menghayati keunikan pelaku kejahatan.

Dasar-dasar pemikiran pendekatan positive adalah sebagai berikut.
1. Tingkah laku manusia merupakan hasil dari hukum hubungan sebab dan akibat.
2. Hubungan sebab-akibat tersebut di atas dapat diketahui melalui metode-metode ilmiah yang sama dipergunakan untuk mengetahui atau memahami lingkungan alam dan fisik.
3. Pelaku kejahatan mewakili seperangkat hubungan sebab akibat yang unik. Tingkah laku pelaku kejahatan secara objektif berbeda dengan tingkah laku non-kriminal dan karenanya harus mewakili suatu perangkat hubungan sebab-akibat yang berbeda.
4. Sekali hubungan sebab-akibat yang membentuk tingkah laku pelaku kejahatan dapat diketahui, tingkah laku kriminal dapat diprediksi dan diawasi dan pelaku kejahatan tersebut dapat diubah.

Kriminologi menurut Mashab Positive mempunyai tugas untuk menganalisis sebab-sebab perilaku kejahatan melalui studi ilmiah terhadap ciri-ciri penjahat dari aspek fisik, sosial, dan kultural.

Tokoh utama mashab positive ini ialah Cesare Lombroso (1835-1909) dengan karyanya yang terkenal ‘L’uomo Deliquente’ (1876) atau dalam bahasa Inggris disebut “The Criminal Man”.

Lombroso lebih dikenal dengan teori biologi kriminalnya, namun teori biologi kriminal itu bukan merupakan asas atau dasar dari mashab positive.

Menurut Lombroso ada tiga golongan atau tipe penjahat yang penting artinya (Purnianti dan Moh. Kemal Darmawan, 1994: 54-55), antara lain:
1. Tipe “born criminal”, lahir sebagai penjahat, yang mencakup sepertiga jumlah penjahat seluruhnya.
2. Tipe “insane criminal”, penjahat gila, yang dihasilkan oleh penyakit jiwa, seperti idiot, kedunguan, paranoia, alkoholisme, epilepsi, histeria, dementia, dan kelumpuhan.
3. Tipe “criminaloid”, merupakan golongan terbesar dari penjahat yang terdiri atas orang-orang yang tidak menderita penyakit jiwa yang nampak, akan tetapi yang mempunyai susunan mental dan emosional yang sedemikian rupa sehingga dalam keadaan tertentu mereka melakukan perbuatan yang kejam dan jahat.

Tokoh lain pengikut mashab positive ini antara lain Enrico Ferri (1856-1928) dan Rafaele Garofalo (1852-1934).

Enrico Ferri adalah orang yang paling berjasa dalam menyebarkan ajaran Lombroso. Menurut Ferri, ajaran Lombroso dalam bentuk aslinya tidak dapat dipertahankan, dan Ferri telah merubah bentuknya sehingga tidak lagi berat sebelah dengan mengakui pengaruh lingkungan.

Dalam bukunya “The Homicide”, Ferri mengklasifikasikan pembunuh dalam empat golongan, yaitu: “insane”, “born”, “occasional”, dan “by passion”. Sedangkan dalam bukunya “Criminal Sociology”, Ferri mengemukakan bahwa kejahatan disebabkan oleh sejumlah besar faktor yang digolongkan sebagai:
1. faktor fisik, antara lain: suku bangsa, iklim, letak geografis, pengaruh musim, temperatur, dan sebagainya;
2. faktor antropologis, antara lain: umur, kelamin, kondisi-kondisi organis, kondisi psikologis, dan sebagainya;
3. faktor sosial, antara lain: kepadatan penduduk, kebiasaan, susunan pemerintahan, kondisi ekonomis, kondisi industrial, dan sebagainya.

Rafaele Garofalo (1852-1934), seorang penganut mashab positive yang menolak doktrin kehendak bebas dan mendukung pendapat bahwa kejahatan hanya dapat dimengerti dengan jalan mempelajarinya dengan metode-metode ilmiah.

Garofalo merumuskan sebuah teori hukuman berdasarkan hukum biologis dari Darwin tentang adaptasi dengan eliminasi atau penghapusan dari mereka yang tidak dapat mengadaptasikan diri.

Mashab Positif Mutakhir merupakan upaya memunculkan sebuah aliran yang masih menggunakan pokok utama ajarannya yang menitikberatkan pada penerapan dari pada metode deterministis dan ilmiah terhadap pembelajaran kejahatan dengan dimungkinkannya diadakan pembuktian dari pada fakta-fakta dengan hubungan-hubungannya, serta pembuktian kesalahan-kesalahan teori-teori sebelumnya.

Kegiatan Belajar 4: Mashab Kritis
Rangkuman

Mashab Kritis menganggap fenomena kejahatan sebagai konstruksi sosial, artinya manakala masyarakat mendefinisikan tindakan tertentu sebagai kejahatan maka orang-orang tertentu dan tindakan-tindakan mungkin pada waktu tertentu memenuhi batasan sebagai kejahatan.

Menurut mashab kritis tingkat kejahatan dan ciri-ciri pelaku ditentukan oleh bagaimana undang-undang disusun dan dijalankan.

Mashab kritis dibedakan dalam pendekatan interaksionis dan pendekatan konflik.
1. Pendekatan interaksionis melihat kejahatan sebagai sesuatu perbuatan atau perilaku yang menyimpang secara sosial.
2. Pendekatan konflik menganggap bahwa penjahat adalah mereka yang memiliki tingkah laku yang bertentangan dengan kepentingan kelompok penguasa. Sedangkan kejahatan adalah perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kepentingan penguasa.

Pendekatan konflik dikaitkan dengan pendekatan Marxis dan non-Marxis sehingga muncul adanya pendekatan konflik yang Marxis yang memandang bahwa kejahatan bersifat patologis, dan pendekatan konflik yang non-Marxis memandang kejahatan sebagai tindakan yang normal, dan orang-orang yang normal yang tidak memiliki kekuasaan yang cukup untuk mengontrol proses kriminalisasi.

Daftar Pustaka

  • Bonger. (1982). Pengantar Tentang Kriminologi. Terjemahan RA. Koesnoen. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • I.S. Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • Purnianti dan Moh. Kemal Darmawan. (1994). Mashab dan Penggolongan Teori dalam Kriminologi. Jakarta: PT. Citra Aditya Bakti.
  • Romli Atmasasmita. (1997). Kriminologi. Bandung: Mandar Maju.
  • ____________. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: Refika Aditama.
  • Soerjono Soekanto dan Pudji Santoso. (1988). Kamus Kriminologi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • Sutherland & Cressey. (1973). Asas-asas Kriminologi (disadur oleh Momon Martasaputra). Bandung: Alumni.

MODUL 5: Masalah Kejahatan Kekerasan suatu Perspektif Teoritis

Kegiatan Belajar 1: Pengertian, Lingkup, dan Bentuk Kejahatan dengan Kekerasan
Rangkuman

Kejahatan kekerasan merujuk pada tingkah laku yang harus bertentangan dengan hukum (undang-undang), baik berupa ancaman saja maupun sudah menjadi suatu tindakan nyata dan memiliki akibat-akibat kerusakan terhadap harta benda atau fisik atau menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. (UU No. 23 Tahun 2004)

Kejahatan dengan kekerasan terbagi dalam berbagai bentuk, Jamil Salmi membagi kekerasan dalam:
1. kekerasan langsung (direct violence);
2. kekerasan tidak langsung (indirect violence), yang dikategorikan ke dalam:

a. Kekerasan karena kelalaian (violence by omission).
b. Kekerasan perantara (mediated violence).

3. kekerasan represif (repressive violence);
4. kekerasan alienatif (alienating violence).

Kadish mengklasifikasikan kejahatan dengan kekerasan ke dalam:
1. Emotional and instrumental violence.
2. Random or individual violence.
3. Collective violence.

Yang oleh para ahli berbeda pendapatnya dalam membagi bentuk-bentuk kejahatan dengan kekerasan tersebut.

Kegiatan Belajar 2: Perspektif Teori Kriminologi tentang Kejahatan dengan Kekerasan
Rangkuman

Romli Atmasasmita (2005: 71 – 73) memandang ada tiga titik pandang dalam melakukan analisis terhadap permasalahan kejahatan, yaitu macrotheories, microtheories, dan bridging theories.

Macrotheories, yaitu teori-teori yang menjelaskan kejahatan dipandang dari segi struktur sosial dan dampaknya. Teori ini menitik beratkan pada rates of crime atau epidemiologi kejahatan dari pada atas pelaku kejahatan. Contoh dari macrotheories adalah teori anomi dan teori konflik.

 

Bahan Ajar Kriminologi

Setelah mempelajari mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu:
1. memahami hakikat dan karakteristik mata kuliah kriminologi dan kenakalan remaja;
2. menjelaskan ruang lingkup, cakupan dan tujuan mata kuliah krimonologi dan kenakalan remaja;
3. menjelaskan masalah kejahatan dan perkembangan kejahatan;
5. menganalisis perkembangan kriminologi;
6. menjelaskan hal ihwal berkaitan dengan kenakalan remaja;
7. memahami sebab-sebab munculnya gejala kenakalan remaja;
8. menjelaskan cara pencegahan kenakalan remaja;

 

Sesuai dengan kompetensi matakuliah Kriminologi dan Kenakalan Remaja, maka penyajian materi dikemas dalam 9 modul yang pengorgani-sasiannya sebagai berikut.
1. Hakikat dan karakteristik mata kuliah kriminologi dan kenakalan remaja.
2. Ruang lingkup, cakupan dan tujuan mata kuliah krimonologi dan kenakalan remaja.
3. Masalah kejahatan dan perkembangan kejahatan.
4. Mashab-mashab dalam kriminologi.
5. Perkembangan kriminologi.
6. Kenakalan remaja.
7. Sebab-sebab munculnya gejala kenakalan remaja.
8. Cara pencegahan kenakalan remaja.

 

 


 

Kejahatan dan Karakteristik Kriminologi

1. Istilah, Definisi dan Ilmu Bantu Kriminologi
Kriminologi berasal dari kata crimen yang artinya kejahatan dan logos yang artinya pengetahuan atau ilmu pengetahuan sehingga kriminologi dapat diartikan ilmu pengetahuan tentang kejahatan.

Studi tentang kejahatan sudah lama dilakukan oleh filsuf Yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles khususnya usaha untuk menjelaskan sebab-sebab kejahatan.

Definisi tentang kriminologi banyak dikemukakan oleh para sarjana, dan masing-masing definisi dipengaruhi oleh luas lingkupnya bahan yang dicakup dalam kriminologi. Bonger mengemukakan kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya. Sutherland merumuskan kriminologi sebagai keseluruhan ilmu pengetahuan yang bertalian dengan perbuatan jahat sebagai gejala sosial. Thorsten Sellin mengemukakan bahwa istilah Criminology di Amerika Serikat (USA) dipakai untuk menggambarkan ilmu tentang penjahat dan cara penanggulangannya.

Mempelajari kriminologi secara tuntas membutuhkan ilmu-ilmu bantu yang mempunyai hubungan saling menguntungkan, dan ilmu-ilmu bantu tersebut antara lain: sosiologi, ilmu hukum, ilmu ekonomi, psikologi, dan antropologi.

Karakteristik Kriminologi dan Kenakalan Remaja
Kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya maka kriminologi akan memusatkan perhatiannya pada kejahatan dari berbagai sisi termasuk perhatiannya terhadap pelaku kejahatan dan korban kejahatan atau masyarakat. Bonger menjelaskan kriminologi teoritis dan kriminologi praktis.

Kartini Kartono mengelompokkan kenakalan dalam berbagai tipe, yaitu:
1. delinkuensi individual;
2. delinkuensi situasional;
3. delinkuensi sistematik;
4. delekunsi kumulatif.

Sedangkan kenakalan remaja dikelompokkan oleh Kartini Kartono adalah:
1. delinkuensi terisolir;
2. delinkuensi neurotic;
3. delinkuensi psikopatik;
4. delinkuensi defek moral;
5. delinkuensi kriminologi;
6. delinkuensi kenakalan remaja.

Daftar Pustaka

  • Hendrojono. (2005). Kriminologi Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi.
  • Is Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • _____________. (1995). Kejahatan Korporasi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
  • Kartini Kartono. (1992). Patologi Sosial Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali Press.
  • Romli Atmasasmita. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.
  • Sarlito Wirawan (1997: 200-201)
  • (Sudarsono, 1995: 10)

 


 

Ruang Lingkup dan Objek Kajian Kriminologi

I. Ruang Lingkup Kriminologi

II. Menurut Sutherland kriminologi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu:
1. etiologi kriminal, yaitu mencari secara analisis ilmiah sebab-sebab dari pada    kejahatan;
2. penologi, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sejarah lahirnya, berkembangnya

hukuman, arti dan faedahnya.
3. sosiologi hukum, yaitu analisis ilmiah terhadap kondisi-kondisi yang mempengaruhi perkembangan hukum pidana.

Menurut H. Bianchi bahwa Kriminologi sebagai “metascience” dari pada Hukum Pidana, yakni suatu ilmu yang memiliki ruang lingkup yang lebih luas di mana pengertiannya dapat dipergunakan untuk memperjelas konsepsi-konsepsi dan masalah-masalah yang terdapat dalam Hukum Pidana.

Menurut Bonger Bonger membagi kriminologi menjadi kriminologi murni dan kriminologi terapan. Kriminologi murni mencakup:
1. Antropologi kriminal.
2. Sosiologi kriminal.
3. Psikologi kriminal.
4. Psikopatologi.
5. Penologi.

Kriminologi terapan mencakup:
1. Hiegiene kriminal.
2. Politik kriminal.
3. Kriminalistik.

Arti, Tujuan dan Objek Kajian Kriminologi

Kriminologi itu sendiri secara umum memiliki tujuan untuk mempelajari kejahatan dalam berbagai aspek sehingga diharapkan dapat memperoleh pemahaman mengenai fenomena kejahatan dengan lebih baik.

Secara umum objek kajian kriminologi itu ialah:
1. Kejahatan, yaitu perbuatan yang disebut sebagai kejahatan. Kriteria suatu perbuatan yang dinamakan kejahatan tentunya dipelajari dari peraturan perundangan-undangan pidana, yaitu norma-norma yang didalamnya memuat perbuatan pidana.
2. Penjahat, yaitu orang yang melakukan kejahatan. Studi terhadap pelaku atau penjahat ini terutama dilakukan oleh aliran kriminologi positive dengan tujuan untuk mencari sebab-sebab orang melakukan kejahatan. Dalam mencari sebab-sebab kejahatan, kriminologi positive menyandarkan pada asumsi dasar bahwa penjahat berbeda dengan bukan penjahat, dan perbedaan tersebut ada pada aspek biologik, psikologis maupun sosio-kultural.
3. Reaksi masyarakat terhadap kejahatan dan penjahat (pelaku). Studi mengenai reaksi masyarakat terhadap kejahatan bertujuan untuk mempelajari pandangan serta tanggapan masyarakat terhadap perbuatan-perbuatan atau gejala yang timbul di masyarakat yang dipandang sebagai merugikan atau membahayakan masyarakat luas, akan tetapi undang-undang belum mengaturnya

Landasan dan Teori-Teori dalam Kriminologi
Teori-teori kriminologi dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang terkait dengan kajahatan atau penyebab kejahatan. Teori-teori tersebut antara lain:

1. Teori Asosiasi Deferensial
Pola perilaku jahat tidak diwariskan tetapi dipelajari melalui pergaulan yang akrab. Tingkah laku jahat dipelajari dalam kelompok melalui interaksi dan komunikasi, dan yang dipelajari dalam kelompok adalah teknik untuk melakukan kejahatan dan alasan yang mendukung perbuatan jahat.

2. Teori Anomi
Emile Durkheim (1893), mendefinisikan sebagai keadaan tanpa norma (deregulation) di dalam masyarakat. Keadaan deregulation atau normlessness tersebut kemudian menimbulkan perilaku deviasi. Kata anomie telah digunakan untuk masyarakat atau kelompok manusia di dalam suatu masyarakat, yang mengalami kekacauan karena tidak adanya aturan-aturan yang diakui bersama yang eksplisit ataupun implisit mengenai perilaku yang baik, atau, lebih parah lagi, terhadap aturan-aturan yang berkuasa dalam meningkatkan isolasi atau bahkan saling memangsa dan bukan kerja sama.

3. Teori Subkultur

Ada dua teori subkultur, yaitu:

a. teori delinquent subculture, yaitu teori yang dikemukakan oleh A.K. Cohen yang dalam penelitiannya dijelaskan bahwa perilaku delinkuen lebih banyak terjadi pada laki-laki kelas bawah dan mereka lebih banyak membentuk gang. Tingkah laku gang subkultur bersifat tidak berfaedah, dengki dan jahat. Terdapat alasan yang rasional bagi delinkuen subkultur untuk mencuri (selain mencari status kebersamaan) mencari kesenangan dengan menimbulkan kegelisahan pada orang lain. Mereka juga mencoba untuk meremehkan nilai-nilai kelas menengah.
b. Teori differential opportunity, yaitu teori yang dikemukakan oleh R.A. Cloward pada tahun 1959. Menurut Cloward tidak hanya terdapat cara-cara yang sah dalam mencapai tujuan budaya tetapi terdapat pula kesempatan-kesempatan yang tidak sah.Ada tiga bentuk subkultur delinkuen, yaitu a. criminal sub culture, b. conflict sub culture, c. retreatis sub cukture. Ketiga bentuk sub kultur dilinkuen tersebut tidak hanya menunjukkan adanya perbedaan dalam gaya hidup diantara anggotanya, tetapi juga karena adanya masalah-masalah yang berbeda bagi kepentingan kontrol sosial dan pencegahannya. Dalam teorinya Cloward dan Ohlin menyatakan bahwa timbulnya kenakalan remaja lebih ditentukan oleh perbedaan-perbedaan kelas yang dapat menimbulkan hambatan-hambatan bagi anggotanya, misalnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan sehingga mengakibatkan terbatasnya kesempatan bagi anggotanya untuk mencapai aspirasinya.

4. Teori Label
Tokoh penting dalam pengembangan teori label adalah Howard S. Becker dan Edwin Lemert. Teori ini muncul pada awal 1960-an untuk menjawab pertanyaan tentang kejahatan dan penjahat dengan menggunakan perspektif yang baru. Menurut Becker, bahwa kejahatan terbentuk karena aturan-aturan lingkungan, sifat individual, dan reaksi masyarakat terhadap kejahatan. Telah menjadi kesepakatan para penganut teori label, bahwa proses pemberian label merupakan penyebab seseorang untuk menjadi jahat.

5. Teori konflik adalah teori yang mempertanyakan hubungan antara kekuasaan dalam pembuatan undang-undang (pidana) dengan kejahatan, terutama sebagai akibat tersebarnya dan banyaknya pola dari perbuatan konflik serta fenomena masyarakat (masyarakat Amerika Serikat) yang bersifat pruralistik (ras, etnik, agama, kelas sosial). Teori konflik menganggap bahwa orang-orang memiliki perbedaan tingkatan kekuasaan dalam mempengaruhi pembuatan dan bekerjanya undang-undang. Mereka yang memiliki tingkat kekuasaan yang lebih besar, memiliki kesempatan yang lebih besar dalam menunjuk perbuatan-perbuatan yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai dan kepentingannya sebagai kejahatan.Tokoh-tokoh teori konflik adalah Austin T Turk, Chambliss, R.B. Seidman, Quinney, K. Marx. Menurut teori konflik, suatu masyarakat lebih tepat bercirikan konflik daripada konsensus.

6. Teori Control Social
Teori kontrol sosial merupakan suatu teori yang berusaha menjawab mengapa orang melakukan kejahatan. Teori kontrol tidak lagi mempertanyakan mengapa orang melakukan kejahatan, tetapi mempertanyakan mengapa tidak semua orang melanggar hukum atau mengapa orang taat terhadap hukum? Teori kontrol sosial berusaha menjelaskan kenakalan para remaja yang oleh Steven Box (Hendrojono, 2005: 99) dikatakan sebagai deviasi primer. Teori kontrol sosial memandang setiap manusia merupakan makhluk yang memiliki moral yang murni. Oleh karena itu setiap orang memiliki kebebasan memilih berbuat sesuatu. Apakah ia akan berbuat menaati aturan yang berlaku ataukah melanggar aturan-aturan yang berlaku. Tindakan yang dipilih itu didasarkan pada ikatan-ikatan sosial yang telah dibentuk.

Daftar Pustaka

  • Bonger. (1982). Pengantar Tentang Kriminologi. Jakarta: PT Pembangunan Ghalia Indonesia.
  • Hendrojono. (2005). Kriminologi Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi.
  • Is Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • ___________. (1995). Kejahatan Korporasi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
  • Romli Atmasasmita. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.
  • Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa. (2001). Kriminologi. Jakarta: PT Rajagrafindo Perkasa.

 


 

Perkembangan Kriminologi

Kegiatan Belajar 1: Perkembangan Kriminologi Pada Zaman Yunani dan Abad Pertengahan
Rangkuman

1. Zaman Yunani
Plato (427-347 SM) dalam bukunya Republiek menekankan masalah ekonomi yang merupakan factor utama penyebab timbulnya kejahatan. Kemudian dalam bukunya De Wetten, Plato menguraikan bahwa: “Jika … dalam suatu masyarakat tidak ada yang miskin dan tidak ada yang kaya, tentunya terdapat kesusilaan yang tinggi di sana, karena di situ tidak ada ketakaburan, tidak pula kelaliman, juga tidak ada rasa iri hati dan benci”. Dalam bukunya tersebut Plato nampak tergolong kaum utopis, kaum yang mengkhayalkan sesuatu yang serba baik.

Sedangkan .Aristoteles (384 – 322 SM) mengemukakan pendapatnya bahwa kemiskinan menimbulkan kejahatan dan pemberontakan. Kejahatan yang besar tidak diperbuat untuk memperoleh apa yang perlu untuk hidup, tetapi untuk memperoleh kemewahan.

Pendapat Plato dan Aristoteles sangat besar pengaruhnya terhadap hukum pidana, terutama di bidang hukuman.

2. Abad Pertengahan
Dalam bukunya “The Criminologie” (1889) Van Kan dengan keahlian penyelidikannya, mencari sebab-sebab kejahatan dari faktor ekonomi. Thomas van Aquino (1226 – 1274) memberikan beberapa pendapat tentang pengaruh kemiskinan atas kejahatan. bahwa dalam keadaan yang sangat memaksa orang boleh mencuri (summa theologica).

3. Zaman Permulaan Sejarah Baru (Abad ke 16)
Thomas More (1478 – 1535) karangannya “Utopia” roman sosialistis, digambarkan suatu negara yang alat-alat produksinya dikuasai oleh umum. Dinyatakannya penduduk Utopia melebihi semua bangsa di dunia dalam hal perikemanusiaan, kesusilaan dan kebajikan. Sebab-sebab dari semua ini dikarenakan pengaruh keadaan masyarakat yang sangat berlainan itu.
More juga mengecam susunan pidana pada saat itu. Hukuman yang dijatuhkan menurut More terlalu berat antara lain: hukuman mati untuk pencurian. Jika atas kejahatan yang relatif ringan dijatuhkan hukuman yang amat berat ini maka justru akan menambah bahaya akan dilakukannya kejahatan yang lebih berat lagi, dikarenakan risiko untuk si penjahat hukumannya sama saja. More mengemukakan pendapatnya bahwa penjahat harus menebus kerugian yang ditimbulkannya dengan cara bekerja. Oleh karenanya More dikatakan sebagai pelopor tindakan.

Kegiatan Belajar 2: Perkembangan Kriminologi Pada Abad ke-18 dan Zaman Sekarang
Rangkuman

1. Abad ke-18 hingga revolusi Perancis
Hukum pidana pada akhir abad pertengahan dan abad ke-16, ke-17 dan sebagian besar abad ke-18 semata-mata ditujukan untuk menakut-nakuti dengan jalan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.

Hukuman atas badan merupakan hukuman sehari-hari yang dilakukan dan yang dipentingkan adalah pencegahan umum. Penjahat hanyalah sebagai contoh atau alat untuk menakut-nakuti orang lain, yang dianggap penting adalah perbuatan jahat itu. Hukum pidana tidak jelas perumusannya sehingga menimbulkan berbagai penafsiran. Cara pembuktian terdakwa sangat tergantung dari kemauan pemeriksa, dan pengakuan dipandang sebagai syarat pembuktian yang utama.

Rousseau menyuarakan melawan perlakuan kejam terhadap penjahat. Voltaire menjadi penentang yang paling keras terhadap peradilan pidana yang sewenang-wenang itu. C. Beccaria menguraikan dengan cara yang menarik segala keberatan terhadap hukum pidana dan hukuman-hukuman yang berlaku pada waktu itu.

2. Zaman Sekarang
Dimulai sejak tahun 1960 dengan semakin maraknya pemikiran kritis khususnya studi sosiologis terhadap peraturan perundang-undangan pidana yang mengarahkan studinya dalam mempelajari proses pembuatan hukum maupun bekerjanya hukum untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap masalah kejahatan dan fenomena kejahatan.

Kegiatan Belajar 3: Perkembangan Kriminologi di Era Global
Rangkuman

Era global sering dinamakan globalisasi mengandung makna yang dalam dan terjadi di segala aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial budaya, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya sebagai dampak kemajuan teknologi transportasi, komunikasi dan informatika modern yang luar biasa. Globalisasi yang ditandai oleh era informasi menuntut nilai-nilai dan norma-norma baru dalam kehidupan nasional maupun antarbangsa.

Kriminologi sebagai suatu ilmu di era global memperluas cakrawala keilmuan dengan mengkaji berbagai kejahatan modern yang menuntut penangulangannya secara modern pula. Ketentuan hukum yang sesuai dan berlaku serta penegakan hukum atas terjadinya kejahatan menjadi sorotan pula sebagai bahan kajian kriminologi.

Tak kalah pentingnya perhatian terhadap korban pun sebagai suatu dimensi baru (victim dimention) dan reaksi masyarakat global (dunia) yang menuntut adanya keselarasan, keseimbangan dan keserasian antara moralitas sosial, moralitas kelembagaan dan moralitas sipil yang didasarkan pada nilai-nilai aktual masyarakat beradab menjadi tidak kalah pentingnya sebagai bahan kajian kriminologi era global. Penanganan pelaku kejahatan (penjahat) dituntut pula memperhatikan HAM, yang secara individual dimiliki oleh setiap orang. Hak asasi manusia yang dimiliki penjahat menjadi perhatian pula bagi penyusunan undang-undang (hukum) dan sistem peradilan pidana di era global, di samping hak negara untuk mengurus dan mengatur serta menyelenggarakan pemerintahan demi terciptanya kedamaian hidup manusia.

Daftar Pustaka

  • Hendrojono. (2005). Kriminologi Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi.
  • Is Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • _________. (1995). Kejahatan Korporasi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
  • Muladi. (1997). Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
  • Romli Atmasasmita. (1997). Kriminologi. Bandung: Mandar Maju.
  • ____________. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.

 


 

MODUL 4: Mashab-mashab dalam Kriminologi

Kegiatan Belajar 1: Mashab Klasik
Rangkuman

Tokoh utama mashab klasik ini ialah Cesare Bonesana Merchese De Beccaria (1738-1794).

Pandangan mashab klasik ini yakni bahwa intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok. Orang melakukan perbuatan berdasarkan pertimbangan kesenangan dan kesusahan. Mashab klasik ini mendasarkan kejahatan pada “hedonistic psychology”.

Intelegensia membuat manusia mampu mengarahkan dirinya, ia adalah penguasa dari nasibnya, pemimpin dari jiwanya, makhluk yang mampu memahami dirinya dan bertindak untuk mencapai kepentingan dan kehendaknya. Masyarakat dibentuk sebagaimana adanya sesuai dengan pola yang dikehendakinya. Kemampuan kecerdasan atau akal dapat ditingkatkan melalui latihan dan pendidikan sehingga manusia mampu mengontrol dirinya sendiri baik sebagai individu maupun sebagai suatu masyarakat.

Kejahatan menurut mashab ini diartikan sebagai setiap pelanggaran terhadap perbuatan yang dilarang undang-undang pidana, dan penjahat adalah setiap orang yang melakukan kejahatan. Kejahatan dipandang sebagai hasil pilihan bebas dari individu dalam menilai untung ruginya melakukan kejahatan.

Kegiatan Belajar 2: Mashab Neo Klasik
Rangkuman

Mashab Neo-klasik muncul dikarenakan pada kenyataannya Code Penal Perancis 1791 tidak mungkin dipraktekkan, dikarenakan:

1. diabaikannya sama sekali perbedaan-perbedaan individual, dan arti situasi tertentu;
2. pada kenyataannya Code Penal Perancis mencoba untuk memperlakukan secara tepat sama;
3. pada kenyataannya anak yang belum dewasa, orang yang idiot, orang gila, dan sebagainya yang tidak mampu melakukan perbuatan hukum diperlakukan sebagai orang yang mampu melakukan perbuatan hukum.

Mashab Neo-Klasik ini tidak menyimpang dari konsepsi umum tentang sifat-sifat manusia yang berlaku pada waktu itu di Eropa. Doktrin dasarnya tetap, yaitu intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia.

Manusia adalah makhluk yang mempunyai ratio, yang berkehendak bebas, dan yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya dan dapat dikontrol oleh rasa ketakutannya terhadap hukuman.

Ciri-ciri mashab neo-klasik adalah:
1. adanya doktrin kehendak bebas;
2. pengakuan dari sahnya keadaan yang memperlunak;
3. perubahan doktrin tanggung jawab sempurna untuk memungkinkan pelunakan hukuman menjadi tanggung jawab sebagian saja;
4. dimasukkannya kesaksian atau keterangan ahli di dalam acara pengadilan untuk menentukan besarnya tanggung jawab.

Kegiatan Belajar 3: Mashab Positif
Rangkuman

Mashab positive bertolak dari pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor di luar kontrolnya, yang dapat berupa faktor fisik maupun faktor kultural.

Aliran pemikiran dari mashab positive ini menghasilkan dua pandangan yang berbeda, yaitu:
1. determinisme biologi, yang menganggap organisasi sosial berkembang sebagai hasil individu, serta perilakunya dipahami dan diterima sebagai pencerminan umum dari warisan biologis.
2. determinisme kultural, yang menganggap perilaku manusia dalam segala aspeknya selalu berkaitan dan mencerminkan ciri-ciri dunia sosio kultural yang melingkupinya

Mashab positive menghendaki agar pelaku kejahatan atau penjahat sebagai sesuatu yang harus dipelajari. Kejahatan dipandang sebagai milik yang unik dan melekat pada tiap-tiap individu, oleh karenanya perhatian utama untuk mempelajari dan mengatasi kejahatan haruslah pada si pelaku kejahatan itu sendiri. Studi kriminologi sebagian besar harus ditujukan pada usaha untuk mengerti atau menghayati keunikan pelaku kejahatan.

Dasar-dasar pemikiran pendekatan positive adalah sebagai berikut.
1. Tingkah laku manusia merupakan hasil dari hukum hubungan sebab dan akibat.
2. Hubungan sebab-akibat tersebut di atas dapat diketahui melalui metode-metode ilmiah yang sama dipergunakan untuk mengetahui atau memahami lingkungan alam dan fisik.
3. Pelaku kejahatan mewakili seperangkat hubungan sebab akibat yang unik. Tingkah laku pelaku kejahatan secara objektif berbeda dengan tingkah laku non-kriminal dan karenanya harus mewakili suatu perangkat hubungan sebab-akibat yang berbeda.
4. Sekali hubungan sebab-akibat yang membentuk tingkah laku pelaku kejahatan dapat diketahui, tingkah laku kriminal dapat diprediksi dan diawasi dan pelaku kejahatan tersebut dapat diubah.

Kriminologi menurut Mashab Positive mempunyai tugas untuk menganalisis sebab-sebab perilaku kejahatan melalui studi ilmiah terhadap ciri-ciri penjahat dari aspek fisik, sosial, dan kultural.

Tokoh utama mashab positive ini ialah Cesare Lombroso (1835-1909) dengan karyanya yang terkenal ‘L’uomo Deliquente’ (1876) atau dalam bahasa Inggris disebut “The Criminal Man”.

Lombroso lebih dikenal dengan teori biologi kriminalnya, namun teori biologi kriminal itu bukan merupakan asas atau dasar dari mashab positive.

Menurut Lombroso ada tiga golongan atau tipe penjahat yang penting artinya (Purnianti dan Moh. Kemal Darmawan, 1994: 54-55), antara lain:
1. Tipe “born criminal”, lahir sebagai penjahat, yang mencakup sepertiga jumlah penjahat seluruhnya.
2. Tipe “insane criminal”, penjahat gila, yang dihasilkan oleh penyakit jiwa, seperti idiot, kedunguan, paranoia, alkoholisme, epilepsi, histeria, dementia, dan kelumpuhan.
3. Tipe “criminaloid”, merupakan golongan terbesar dari penjahat yang terdiri atas orang-orang yang tidak menderita penyakit jiwa yang nampak, akan tetapi yang mempunyai susunan mental dan emosional yang sedemikian rupa sehingga dalam keadaan tertentu mereka melakukan perbuatan yang kejam dan jahat.

Tokoh lain pengikut mashab positive ini antara lain Enrico Ferri (1856-1928) dan Rafaele Garofalo (1852-1934).

Enrico Ferri adalah orang yang paling berjasa dalam menyebarkan ajaran Lombroso. Menurut Ferri, ajaran Lombroso dalam bentuk aslinya tidak dapat dipertahankan, dan Ferri telah merubah bentuknya sehingga tidak lagi berat sebelah dengan mengakui pengaruh lingkungan.

Dalam bukunya “The Homicide”, Ferri mengklasifikasikan pembunuh dalam empat golongan, yaitu: “insane”, “born”, “occasional”, dan “by passion”. Sedangkan dalam bukunya “Criminal Sociology”, Ferri mengemukakan bahwa kejahatan disebabkan oleh sejumlah besar faktor yang digolongkan sebagai:
1. faktor fisik, antara lain: suku bangsa, iklim, letak geografis, pengaruh musim, temperatur, dan sebagainya;
2. faktor antropologis, antara lain: umur, kelamin, kondisi-kondisi organis, kondisi psikologis, dan sebagainya;
3. faktor sosial, antara lain: kepadatan penduduk, kebiasaan, susunan pemerintahan, kondisi ekonomis, kondisi industrial, dan sebagainya.

Rafaele Garofalo (1852-1934), seorang penganut mashab positive yang menolak doktrin kehendak bebas dan mendukung pendapat bahwa kejahatan hanya dapat dimengerti dengan jalan mempelajarinya dengan metode-metode ilmiah.

Garofalo merumuskan sebuah teori hukuman berdasarkan hukum biologis dari Darwin tentang adaptasi dengan eliminasi atau penghapusan dari mereka yang tidak dapat mengadaptasikan diri.

Mashab Positif Mutakhir merupakan upaya memunculkan sebuah aliran yang masih menggunakan pokok utama ajarannya yang menitikberatkan pada penerapan dari pada metode deterministis dan ilmiah terhadap pembelajaran kejahatan dengan dimungkinkannya diadakan pembuktian dari pada fakta-fakta dengan hubungan-hubungannya, serta pembuktian kesalahan-kesalahan teori-teori sebelumnya.

Kegiatan Belajar 4: Mashab Kritis
Rangkuman

Mashab Kritis menganggap fenomena kejahatan sebagai konstruksi sosial, artinya manakala masyarakat mendefinisikan tindakan tertentu sebagai kejahatan maka orang-orang tertentu dan tindakan-tindakan mungkin pada waktu tertentu memenuhi batasan sebagai kejahatan.

Menurut mashab kritis tingkat kejahatan dan ciri-ciri pelaku ditentukan oleh bagaimana undang-undang disusun dan dijalankan.

Mashab kritis dibedakan dalam pendekatan interaksionis dan pendekatan konflik.
1. Pendekatan interaksionis melihat kejahatan sebagai sesuatu perbuatan atau perilaku yang menyimpang secara sosial.
2. Pendekatan konflik menganggap bahwa penjahat adalah mereka yang memiliki tingkah laku yang bertentangan dengan kepentingan kelompok penguasa. Sedangkan kejahatan adalah perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kepentingan penguasa.

Pendekatan konflik dikaitkan dengan pendekatan Marxis dan non-Marxis sehingga muncul adanya pendekatan konflik yang Marxis yang memandang bahwa kejahatan bersifat patologis, dan pendekatan konflik yang non-Marxis memandang kejahatan sebagai tindakan yang normal, dan orang-orang yang normal yang tidak memiliki kekuasaan yang cukup untuk mengontrol proses kriminalisasi.

Daftar Pustaka

  • Bonger. (1982). Pengantar Tentang Kriminologi. Terjemahan RA. Koesnoen. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • I.S. Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • Purnianti dan Moh. Kemal Darmawan. (1994). Mashab dan Penggolongan Teori dalam Kriminologi. Jakarta: PT. Citra Aditya Bakti.
  • Romli Atmasasmita. (1997). Kriminologi. Bandung: Mandar Maju.
  • ____________. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: Refika Aditama.
  • Soerjono Soekanto dan Pudji Santoso. (1988). Kamus Kriminologi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • Sutherland & Cressey. (1973). Asas-asas Kriminologi (disadur oleh Momon Martasaputra). Bandung: Alumni.

 


 

MODUL 5: Masalah Kejahatan Kekerasan suatu Perspektif Teoritis

Kegiatan Belajar 1: Pengertian, Lingkup, dan Bentuk Kejahatan dengan Kekerasan
Rangkuman

Kejahatan kekerasan merujuk pada tingkah laku yang harus bertentangan dengan hukum (undang-undang), baik berupa ancaman saja maupun sudah menjadi suatu tindakan nyata dan memiliki akibat-akibat kerusakan terhadap harta benda atau fisik atau menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. (UU No. 23 Tahun 2004)

Kejahatan dengan kekerasan terbagi dalam berbagai bentuk, Jamil Salmi membagi kekerasan dalam:
1. kekerasan langsung (direct violence);
2. kekerasan tidak langsung (indirect violence), yang dikategorikan ke dalam:

a. Kekerasan karena kelalaian (violence by omission).
b. Kekerasan perantara (mediated violence).

3. kekerasan represif (repressive violence);
4. kekerasan alienatif (alienating violence).

Kadish mengklasifikasikan kejahatan dengan kekerasan ke dalam:
1. Emotional and instrumental violence.
2. Random or individual violence.
3. Collective violence.

Yang oleh para ahli berbeda pendapatnya dalam membagi bentuk-bentuk kejahatan dengan kekerasan tersebut.

Kegiatan Belajar 2: Perspektif Teori Kriminologi tentang Kejahatan dengan Kekerasan
Rangkuman

Romli Atmasasmita (2005: 71 – 73) memandang ada tiga titik pandang dalam melakukan analisis terhadap permasalahan kejahatan, yaitu macrotheories, microtheories, dan bridging theories.

Macrotheories, yaitu teori-teori yang menjelaskan kejahatan dipandang dari segi struktur sosial dan dampaknya. Teori ini menitik beratkan pada rates of crime atau epidemiologi kejahatan dari pada atas pelaku kejahatan. Contoh dari macrotheories adalah teori anomi dan teori konflik.

Romli Atmasasmita (2005: 71 – 73) memandang ada tiga titik pandang dala

Bahan Ajar Kriminologi

Setelah mempelajari mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu:
1. memahami hakikat dan karakteristik mata kuliah kriminologi dan kenakalan remaja;
2. menjelaskan ruang lingkup, cakupan dan tujuan mata kuliah krimonologi dan kenakalan remaja;
3. menjelaskan masalah kejahatan dan perkembangan kejahatan;
5. menganalisis perkembangan kriminologi;
6. menjelaskan hal ihwal berkaitan dengan kenakalan remaja;
7. memahami sebab-sebab munculnya gejala kenakalan remaja;
8. menjelaskan cara pencegahan kenakalan remaja; 

Sesuai dengan kompetensi matakuliah Kriminologi dan Kenakalan Remaja, maka penyajian materi dikemas dalam 9 modul yang pengorgani-sasiannya sebagai berikut.
1. Hakikat dan karakteristik mata kuliah kriminologi dan kenakalan remaja.
2. Ruang lingkup, cakupan dan tujuan mata kuliah krimonologi dan kenakalan remaja.
3. Masalah kejahatan dan perkembangan kejahatan.
4. Mashab-mashab dalam kriminologi.
5. Perkembangan kriminologi.
6. Kenakalan remaja.
7. Sebab-sebab munculnya gejala kenakalan remaja.
8. Cara pencegahan kenakalan remaja.


Kejahatan dan Karakteristik Kriminologi

1. Istilah, Definisi dan Ilmu Bantu Kriminologi
Kriminologi berasal dari kata crimen yang artinya kejahatan dan logos yang artinya pengetahuan atau ilmu pengetahuan sehingga kriminologi dapat diartikan ilmu pengetahuan tentang kejahatan.

Studi tentang kejahatan sudah lama dilakukan oleh filsuf Yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles khususnya usaha untuk menjelaskan sebab-sebab kejahatan.

Definisi tentang kriminologi banyak dikemukakan oleh para sarjana, dan masing-masing definisi dipengaruhi oleh luas lingkupnya bahan yang dicakup dalam kriminologi. Bonger mengemukakan kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya. Sutherland merumuskan kriminologi sebagai keseluruhan ilmu pengetahuan yang bertalian dengan perbuatan jahat sebagai gejala sosial. Thorsten Sellin mengemukakan bahwa istilah Criminology di Amerika Serikat (USA) dipakai untuk menggambarkan ilmu tentang penjahat dan cara penanggulangannya.

Mempelajari kriminologi secara tuntas membutuhkan ilmu-ilmu bantu yang mempunyai hubungan saling menguntungkan, dan ilmu-ilmu bantu tersebut antara lain: sosiologi, ilmu hukum, ilmu ekonomi, psikologi, dan antropologi.

Karakteristik Kriminologi dan Kenakalan Remaja
Kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya maka kriminologi akan memusatkan perhatiannya pada kejahatan dari berbagai sisi termasuk perhatiannya terhadap pelaku kejahatan dan korban kejahatan atau masyarakat. Bonger menjelaskan kriminologi teoritis dan kriminologi praktis.

Kartini Kartono mengelompokkan kenakalan dalam berbagai tipe, yaitu:
1. delinkuensi individual;
2. delinkuensi situasional;
3. delinkuensi sistematik;
4. delekunsi kumulatif.

Sedangkan kenakalan remaja dikelompokkan oleh Kartini Kartono adalah:
1. delinkuensi terisolir;
2. delinkuensi neurotic;
3. delinkuensi psikopatik;
4. delinkuensi defek moral;
5. delinkuensi kriminologi;
6. delinkuensi kenakalan remaja.

Daftar Pustaka

  • Hendrojono. (2005). Kriminologi Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi.
  • Is Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • _____________. (1995). Kejahatan Korporasi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
  • Kartini Kartono. (1992). Patologi Sosial Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali Press.
  • Romli Atmasasmita. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.
  • Sarlito Wirawan (1997: 200-201)
  • (Sudarsono, 1995: 10)

Ruang Lingkup dan Objek Kajian Kriminologi

I. Ruang Lingkup Kriminologi

II. Menurut Sutherland kriminologi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu:
1. etiologi kriminal, yaitu mencari secara analisis ilmiah sebab-sebab dari pada    kejahatan;
2. penologi, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sejarah lahirnya, berkembangnya

hukuman, arti dan faedahnya.
3. sosiologi hukum, yaitu analisis ilmiah terhadap kondisi-kondisi yang mempengaruhi perkembangan hukum pidana.

Menurut H. Bianchi bahwa Kriminologi sebagai “metascience” dari pada Hukum Pidana, yakni suatu ilmu yang memiliki ruang lingkup yang lebih luas di mana pengertiannya dapat dipergunakan untuk memperjelas konsepsi-konsepsi dan masalah-masalah yang terdapat dalam Hukum Pidana.

Menurut Bonger Bonger membagi kriminologi menjadi kriminologi murni dan kriminologi terapan. Kriminologi murni mencakup:
1. Antropologi kriminal.
2. Sosiologi kriminal.
3. Psikologi kriminal.
4. Psikopatologi.
5. Penologi.

Kriminologi terapan mencakup:
1. Hiegiene kriminal.
2. Politik kriminal.
3. Kriminalistik.

Arti, Tujuan dan Objek Kajian Kriminologi

Kriminologi itu sendiri secara umum memiliki tujuan untuk mempelajari kejahatan dalam berbagai aspek sehingga diharapkan dapat memperoleh pemahaman mengenai fenomena kejahatan dengan lebih baik.

Secara umum objek kajian kriminologi itu ialah:
1. Kejahatan, yaitu perbuatan yang disebut sebagai kejahatan. Kriteria suatu perbuatan yang dinamakan kejahatan tentunya dipelajari dari peraturan perundangan-undangan pidana, yaitu norma-norma yang didalamnya memuat perbuatan pidana.
2. Penjahat, yaitu orang yang melakukan kejahatan. Studi terhadap pelaku atau penjahat ini terutama dilakukan oleh aliran kriminologi positive dengan tujuan untuk mencari sebab-sebab orang melakukan kejahatan. Dalam mencari sebab-sebab kejahatan, kriminologi positive menyandarkan pada asumsi dasar bahwa penjahat berbeda dengan bukan penjahat, dan perbedaan tersebut ada pada aspek biologik, psikologis maupun sosio-kultural.
3. Reaksi masyarakat terhadap kejahatan dan penjahat (pelaku). Studi mengenai reaksi masyarakat terhadap kejahatan bertujuan untuk mempelajari pandangan serta tanggapan masyarakat terhadap perbuatan-perbuatan atau gejala yang timbul di masyarakat yang dipandang sebagai merugikan atau membahayakan masyarakat luas, akan tetapi undang-undang belum mengaturnya

Landasan dan Teori-Teori dalam Kriminologi
Teori-teori kriminologi dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang terkait dengan kajahatan atau penyebab kejahatan. Teori-teori tersebut antara lain:

1. Teori Asosiasi Deferensial
Pola perilaku jahat tidak diwariskan tetapi dipelajari melalui pergaulan yang akrab. Tingkah laku jahat dipelajari dalam kelompok melalui interaksi dan komunikasi, dan yang dipelajari dalam kelompok adalah teknik untuk melakukan kejahatan dan alasan yang mendukung perbuatan jahat.

2. Teori Anomi
Emile Durkheim (1893), mendefinisikan sebagai keadaan tanpa norma (deregulation) di dalam masyarakat. Keadaan deregulation atau normlessness tersebut kemudian menimbulkan perilaku deviasi. Kata anomie telah digunakan untuk masyarakat atau kelompok manusia di dalam suatu masyarakat, yang mengalami kekacauan karena tidak adanya aturan-aturan yang diakui bersama yang eksplisit ataupun implisit mengenai perilaku yang baik, atau, lebih parah lagi, terhadap aturan-aturan yang berkuasa dalam meningkatkan isolasi atau bahkan saling memangsa dan bukan kerja sama.

3. Teori Subkultur

Ada dua teori subkultur, yaitu:

a. teori delinquent subculture, yaitu teori yang dikemukakan oleh A.K. Cohen yang dalam penelitiannya dijelaskan bahwa perilaku delinkuen lebih banyak terjadi pada laki-laki kelas bawah dan mereka lebih banyak membentuk gang. Tingkah laku gang subkultur bersifat tidak berfaedah, dengki dan jahat. Terdapat alasan yang rasional bagi delinkuen subkultur untuk mencuri (selain mencari status kebersamaan) mencari kesenangan dengan menimbulkan kegelisahan pada orang lain. Mereka juga mencoba untuk meremehkan nilai-nilai kelas menengah.
b. Teori differential opportunity, yaitu teori yang dikemukakan oleh R.A. Cloward pada tahun 1959. Menurut Cloward tidak hanya terdapat cara-cara yang sah dalam mencapai tujuan budaya tetapi terdapat pula kesempatan-kesempatan yang tidak sah.Ada tiga bentuk subkultur delinkuen, yaitu a. criminal sub culture, b. conflict sub culture, c. retreatis sub cukture. Ketiga bentuk sub kultur dilinkuen tersebut tidak hanya menunjukkan adanya perbedaan dalam gaya hidup diantara anggotanya, tetapi juga karena adanya masalah-masalah yang berbeda bagi kepentingan kontrol sosial dan pencegahannya. Dalam teorinya Cloward dan Ohlin menyatakan bahwa timbulnya kenakalan remaja lebih ditentukan oleh perbedaan-perbedaan kelas yang dapat menimbulkan hambatan-hambatan bagi anggotanya, misalnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan sehingga mengakibatkan terbatasnya kesempatan bagi anggotanya untuk mencapai aspirasinya.

4. Teori Label
Tokoh penting dalam pengembangan teori label adalah Howard S. Becker dan Edwin Lemert. Teori ini muncul pada awal 1960-an untuk menjawab pertanyaan tentang kejahatan dan penjahat dengan menggunakan perspektif yang baru. Menurut Becker, bahwa kejahatan terbentuk karena aturan-aturan lingkungan, sifat individual, dan reaksi masyarakat terhadap kejahatan. Telah menjadi kesepakatan para penganut teori label, bahwa proses pemberian label merupakan penyebab seseorang untuk menjadi jahat.

5. Teori konflik adalah teori yang mempertanyakan hubungan antara kekuasaan dalam pembuatan undang-undang (pidana) dengan kejahatan, terutama sebagai akibat tersebarnya dan banyaknya pola dari perbuatan konflik serta fenomena masyarakat (masyarakat Amerika Serikat) yang bersifat pruralistik (ras, etnik, agama, kelas sosial). Teori konflik menganggap bahwa orang-orang memiliki perbedaan tingkatan kekuasaan dalam mempengaruhi pembuatan dan bekerjanya undang-undang. Mereka yang memiliki tingkat kekuasaan yang lebih besar, memiliki kesempatan yang lebih besar dalam menunjuk perbuatan-perbuatan yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai dan kepentingannya sebagai kejahatan.Tokoh-tokoh teori konflik adalah Austin T Turk, Chambliss, R.B. Seidman, Quinney, K. Marx. Menurut teori konflik, suatu masyarakat lebih tepat bercirikan konflik daripada konsensus.

6. Teori Control Social
Teori kontrol sosial merupakan suatu teori yang berusaha menjawab mengapa orang melakukan kejahatan. Teori kontrol tidak lagi mempertanyakan mengapa orang melakukan kejahatan, tetapi mempertanyakan mengapa tidak semua orang melanggar hukum atau mengapa orang taat terhadap hukum? Teori kontrol sosial berusaha menjelaskan kenakalan para remaja yang oleh Steven Box (Hendrojono, 2005: 99) dikatakan sebagai deviasi primer. Teori kontrol sosial memandang setiap manusia merupakan makhluk yang memiliki moral yang murni. Oleh karena itu setiap orang memiliki kebebasan memilih berbuat sesuatu. Apakah ia akan berbuat menaati aturan yang berlaku ataukah melanggar aturan-aturan yang berlaku. Tindakan yang dipilih itu didasarkan pada ikatan-ikatan sosial yang telah dibentuk.

Daftar Pustaka

  • Bonger. (1982). Pengantar Tentang Kriminologi. Jakarta: PT Pembangunan Ghalia Indonesia.
  • Hendrojono. (2005). Kriminologi Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi.
  • Is Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • ___________. (1995). Kejahatan Korporasi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
  • Romli Atmasasmita. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.
  • Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa. (2001). Kriminologi. Jakarta: PT Rajagrafindo Perkasa.

Perkembangan Kriminologi

Kegiatan Belajar 1: Perkembangan Kriminologi Pada Zaman Yunani dan Abad Pertengahan
Rangkuman

1. Zaman Yunani
Plato (427-347 SM) dalam bukunya Republiek menekankan masalah ekonomi yang merupakan factor utama penyebab timbulnya kejahatan. Kemudian dalam bukunya De Wetten, Plato menguraikan bahwa: “Jika … dalam suatu masyarakat tidak ada yang miskin dan tidak ada yang kaya, tentunya terdapat kesusilaan yang tinggi di sana, karena di situ tidak ada ketakaburan, tidak pula kelaliman, juga tidak ada rasa iri hati dan benci”. Dalam bukunya tersebut Plato nampak tergolong kaum utopis, kaum yang mengkhayalkan sesuatu yang serba baik.

Sedangkan .Aristoteles (384 – 322 SM) mengemukakan pendapatnya bahwa kemiskinan menimbulkan kejahatan dan pemberontakan. Kejahatan yang besar tidak diperbuat untuk memperoleh apa yang perlu untuk hidup, tetapi untuk memperoleh kemewahan.

Pendapat Plato dan Aristoteles sangat besar pengaruhnya terhadap hukum pidana, terutama di bidang hukuman.

2. Abad Pertengahan
Dalam bukunya “The Criminologie” (1889) Van Kan dengan keahlian penyelidikannya, mencari sebab-sebab kejahatan dari faktor ekonomi. Thomas van Aquino (1226 – 1274) memberikan beberapa pendapat tentang pengaruh kemiskinan atas kejahatan. bahwa dalam keadaan yang sangat memaksa orang boleh mencuri (summa theologica).

3. Zaman Permulaan Sejarah Baru (Abad ke 16)
Thomas More (1478 – 1535) karangannya “Utopia” roman sosialistis, digambarkan suatu negara yang alat-alat produksinya dikuasai oleh umum. Dinyatakannya penduduk Utopia melebihi semua bangsa di dunia dalam hal perikemanusiaan, kesusilaan dan kebajikan. Sebab-sebab dari semua ini dikarenakan pengaruh keadaan masyarakat yang sangat berlainan itu.
More juga mengecam susunan pidana pada saat itu. Hukuman yang dijatuhkan menurut More terlalu berat antara lain: hukuman mati untuk pencurian. Jika atas kejahatan yang relatif ringan dijatuhkan hukuman yang amat berat ini maka justru akan menambah bahaya akan dilakukannya kejahatan yang lebih berat lagi, dikarenakan risiko untuk si penjahat hukumannya sama saja. More mengemukakan pendapatnya bahwa penjahat harus menebus kerugian yang ditimbulkannya dengan cara bekerja. Oleh karenanya More dikatakan sebagai pelopor tindakan.

Kegiatan Belajar 2: Perkembangan Kriminologi Pada Abad ke-18 dan Zaman Sekarang
Rangkuman

1. Abad ke-18 hingga revolusi Perancis
Hukum pidana pada akhir abad pertengahan dan abad ke-16, ke-17 dan sebagian besar abad ke-18 semata-mata ditujukan untuk menakut-nakuti dengan jalan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.

Hukuman atas badan merupakan hukuman sehari-hari yang dilakukan dan yang dipentingkan adalah pencegahan umum. Penjahat hanyalah sebagai contoh atau alat untuk menakut-nakuti orang lain, yang dianggap penting adalah perbuatan jahat itu. Hukum pidana tidak jelas perumusannya sehingga menimbulkan berbagai penafsiran. Cara pembuktian terdakwa sangat tergantung dari kemauan pemeriksa, dan pengakuan dipandang sebagai syarat pembuktian yang utama.

Rousseau menyuarakan melawan perlakuan kejam terhadap penjahat. Voltaire menjadi penentang yang paling keras terhadap peradilan pidana yang sewenang-wenang itu. C. Beccaria menguraikan dengan cara yang menarik segala keberatan terhadap hukum pidana dan hukuman-hukuman yang berlaku pada waktu itu.

2. Zaman Sekarang
Dimulai sejak tahun 1960 dengan semakin maraknya pemikiran kritis khususnya studi sosiologis terhadap peraturan perundang-undangan pidana yang mengarahkan studinya dalam mempelajari proses pembuatan hukum maupun bekerjanya hukum untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap masalah kejahatan dan fenomena kejahatan.

Kegiatan Belajar 3: Perkembangan Kriminologi di Era Global
Rangkuman

Era global sering dinamakan globalisasi mengandung makna yang dalam dan terjadi di segala aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial budaya, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya sebagai dampak kemajuan teknologi transportasi, komunikasi dan informatika modern yang luar biasa. Globalisasi yang ditandai oleh era informasi menuntut nilai-nilai dan norma-norma baru dalam kehidupan nasional maupun antarbangsa.

Kriminologi sebagai suatu ilmu di era global memperluas cakrawala keilmuan dengan mengkaji berbagai kejahatan modern yang menuntut penangulangannya secara modern pula. Ketentuan hukum yang sesuai dan berlaku serta penegakan hukum atas terjadinya kejahatan menjadi sorotan pula sebagai bahan kajian kriminologi.

Tak kalah pentingnya perhatian terhadap korban pun sebagai suatu dimensi baru (victim dimention) dan reaksi masyarakat global (dunia) yang menuntut adanya keselarasan, keseimbangan dan keserasian antara moralitas sosial, moralitas kelembagaan dan moralitas sipil yang didasarkan pada nilai-nilai aktual masyarakat beradab menjadi tidak kalah pentingnya sebagai bahan kajian kriminologi era global. Penanganan pelaku kejahatan (penjahat) dituntut pula memperhatikan HAM, yang secara individual dimiliki oleh setiap orang. Hak asasi manusia yang dimiliki penjahat menjadi perhatian pula bagi penyusunan undang-undang (hukum) dan sistem peradilan pidana di era global, di samping hak negara untuk mengurus dan mengatur serta menyelenggarakan pemerintahan demi terciptanya kedamaian hidup manusia.

Daftar Pustaka

  • Hendrojono. (2005). Kriminologi Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi.
  • Is Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • _________. (1995). Kejahatan Korporasi. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
  • Muladi. (1997). Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
  • Romli Atmasasmita. (1997). Kriminologi. Bandung: Mandar Maju.
  • ____________. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: PT Refika Aditama.

MODUL 4: Mashab-mashab dalam Kriminologi

Kegiatan Belajar 1: Mashab Klasik
Rangkuman

Tokoh utama mashab klasik ini ialah Cesare Bonesana Merchese De Beccaria (1738-1794).

Pandangan mashab klasik ini yakni bahwa intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok. Orang melakukan perbuatan berdasarkan pertimbangan kesenangan dan kesusahan. Mashab klasik ini mendasarkan kejahatan pada “hedonistic psychology”.

Intelegensia membuat manusia mampu mengarahkan dirinya, ia adalah penguasa dari nasibnya, pemimpin dari jiwanya, makhluk yang mampu memahami dirinya dan bertindak untuk mencapai kepentingan dan kehendaknya. Masyarakat dibentuk sebagaimana adanya sesuai dengan pola yang dikehendakinya. Kemampuan kecerdasan atau akal dapat ditingkatkan melalui latihan dan pendidikan sehingga manusia mampu mengontrol dirinya sendiri baik sebagai individu maupun sebagai suatu masyarakat.

Kejahatan menurut mashab ini diartikan sebagai setiap pelanggaran terhadap perbuatan yang dilarang undang-undang pidana, dan penjahat adalah setiap orang yang melakukan kejahatan. Kejahatan dipandang sebagai hasil pilihan bebas dari individu dalam menilai untung ruginya melakukan kejahatan.

Kegiatan Belajar 2: Mashab Neo Klasik
Rangkuman

Mashab Neo-klasik muncul dikarenakan pada kenyataannya Code Penal Perancis 1791 tidak mungkin dipraktekkan, dikarenakan:

1. diabaikannya sama sekali perbedaan-perbedaan individual, dan arti situasi tertentu;
2. pada kenyataannya Code Penal Perancis mencoba untuk memperlakukan secara tepat sama;
3. pada kenyataannya anak yang belum dewasa, orang yang idiot, orang gila, dan sebagainya yang tidak mampu melakukan perbuatan hukum diperlakukan sebagai orang yang mampu melakukan perbuatan hukum.

Mashab Neo-Klasik ini tidak menyimpang dari konsepsi umum tentang sifat-sifat manusia yang berlaku pada waktu itu di Eropa. Doktrin dasarnya tetap, yaitu intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia.

Manusia adalah makhluk yang mempunyai ratio, yang berkehendak bebas, dan yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya dan dapat dikontrol oleh rasa ketakutannya terhadap hukuman.

Ciri-ciri mashab neo-klasik adalah:
1. adanya doktrin kehendak bebas;
2. pengakuan dari sahnya keadaan yang memperlunak;
3. perubahan doktrin tanggung jawab sempurna untuk memungkinkan pelunakan hukuman menjadi tanggung jawab sebagian saja;
4. dimasukkannya kesaksian atau keterangan ahli di dalam acara pengadilan untuk menentukan besarnya tanggung jawab.

Kegiatan Belajar 3: Mashab Positif
Rangkuman

Mashab positive bertolak dari pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor di luar kontrolnya, yang dapat berupa faktor fisik maupun faktor kultural.

Aliran pemikiran dari mashab positive ini menghasilkan dua pandangan yang berbeda, yaitu:
1. determinisme biologi, yang menganggap organisasi sosial berkembang sebagai hasil individu, serta perilakunya dipahami dan diterima sebagai pencerminan umum dari warisan biologis.
2. determinisme kultural, yang menganggap perilaku manusia dalam segala aspeknya selalu berkaitan dan mencerminkan ciri-ciri dunia sosio kultural yang melingkupinya

Mashab positive menghendaki agar pelaku kejahatan atau penjahat sebagai sesuatu yang harus dipelajari. Kejahatan dipandang sebagai milik yang unik dan melekat pada tiap-tiap individu, oleh karenanya perhatian utama untuk mempelajari dan mengatasi kejahatan haruslah pada si pelaku kejahatan itu sendiri. Studi kriminologi sebagian besar harus ditujukan pada usaha untuk mengerti atau menghayati keunikan pelaku kejahatan.

Dasar-dasar pemikiran pendekatan positive adalah sebagai berikut.
1. Tingkah laku manusia merupakan hasil dari hukum hubungan sebab dan akibat.
2. Hubungan sebab-akibat tersebut di atas dapat diketahui melalui metode-metode ilmiah yang sama dipergunakan untuk mengetahui atau memahami lingkungan alam dan fisik.
3. Pelaku kejahatan mewakili seperangkat hubungan sebab akibat yang unik. Tingkah laku pelaku kejahatan secara objektif berbeda dengan tingkah laku non-kriminal dan karenanya harus mewakili suatu perangkat hubungan sebab-akibat yang berbeda.
4. Sekali hubungan sebab-akibat yang membentuk tingkah laku pelaku kejahatan dapat diketahui, tingkah laku kriminal dapat diprediksi dan diawasi dan pelaku kejahatan tersebut dapat diubah.

Kriminologi menurut Mashab Positive mempunyai tugas untuk menganalisis sebab-sebab perilaku kejahatan melalui studi ilmiah terhadap ciri-ciri penjahat dari aspek fisik, sosial, dan kultural.

Tokoh utama mashab positive ini ialah Cesare Lombroso (1835-1909) dengan karyanya yang terkenal ‘L’uomo Deliquente’ (1876) atau dalam bahasa Inggris disebut “The Criminal Man”.

Lombroso lebih dikenal dengan teori biologi kriminalnya, namun teori biologi kriminal itu bukan merupakan asas atau dasar dari mashab positive.

Menurut Lombroso ada tiga golongan atau tipe penjahat yang penting artinya (Purnianti dan Moh. Kemal Darmawan, 1994: 54-55), antara lain:
1. Tipe “born criminal”, lahir sebagai penjahat, yang mencakup sepertiga jumlah penjahat seluruhnya.
2. Tipe “insane criminal”, penjahat gila, yang dihasilkan oleh penyakit jiwa, seperti idiot, kedunguan, paranoia, alkoholisme, epilepsi, histeria, dementia, dan kelumpuhan.
3. Tipe “criminaloid”, merupakan golongan terbesar dari penjahat yang terdiri atas orang-orang yang tidak menderita penyakit jiwa yang nampak, akan tetapi yang mempunyai susunan mental dan emosional yang sedemikian rupa sehingga dalam keadaan tertentu mereka melakukan perbuatan yang kejam dan jahat.

Tokoh lain pengikut mashab positive ini antara lain Enrico Ferri (1856-1928) dan Rafaele Garofalo (1852-1934).

Enrico Ferri adalah orang yang paling berjasa dalam menyebarkan ajaran Lombroso. Menurut Ferri, ajaran Lombroso dalam bentuk aslinya tidak dapat dipertahankan, dan Ferri telah merubah bentuknya sehingga tidak lagi berat sebelah dengan mengakui pengaruh lingkungan.

Dalam bukunya “The Homicide”, Ferri mengklasifikasikan pembunuh dalam empat golongan, yaitu: “insane”, “born”, “occasional”, dan “by passion”. Sedangkan dalam bukunya “Criminal Sociology”, Ferri mengemukakan bahwa kejahatan disebabkan oleh sejumlah besar faktor yang digolongkan sebagai:
1. faktor fisik, antara lain: suku bangsa, iklim, letak geografis, pengaruh musim, temperatur, dan sebagainya;
2. faktor antropologis, antara lain: umur, kelamin, kondisi-kondisi organis, kondisi psikologis, dan sebagainya;
3. faktor sosial, antara lain: kepadatan penduduk, kebiasaan, susunan pemerintahan, kondisi ekonomis, kondisi industrial, dan sebagainya.

Rafaele Garofalo (1852-1934), seorang penganut mashab positive yang menolak doktrin kehendak bebas dan mendukung pendapat bahwa kejahatan hanya dapat dimengerti dengan jalan mempelajarinya dengan metode-metode ilmiah.

Garofalo merumuskan sebuah teori hukuman berdasarkan hukum biologis dari Darwin tentang adaptasi dengan eliminasi atau penghapusan dari mereka yang tidak dapat mengadaptasikan diri.

Mashab Positif Mutakhir merupakan upaya memunculkan sebuah aliran yang masih menggunakan pokok utama ajarannya yang menitikberatkan pada penerapan dari pada metode deterministis dan ilmiah terhadap pembelajaran kejahatan dengan dimungkinkannya diadakan pembuktian dari pada fakta-fakta dengan hubungan-hubungannya, serta pembuktian kesalahan-kesalahan teori-teori sebelumnya.

Kegiatan Belajar 4: Mashab Kritis
Rangkuman

Mashab Kritis menganggap fenomena kejahatan sebagai konstruksi sosial, artinya manakala masyarakat mendefinisikan tindakan tertentu sebagai kejahatan maka orang-orang tertentu dan tindakan-tindakan mungkin pada waktu tertentu memenuhi batasan sebagai kejahatan.

Menurut mashab kritis tingkat kejahatan dan ciri-ciri pelaku ditentukan oleh bagaimana undang-undang disusun dan dijalankan.

Mashab kritis dibedakan dalam pendekatan interaksionis dan pendekatan konflik.
1. Pendekatan interaksionis melihat kejahatan sebagai sesuatu perbuatan atau perilaku yang menyimpang secara sosial.
2. Pendekatan konflik menganggap bahwa penjahat adalah mereka yang memiliki tingkah laku yang bertentangan dengan kepentingan kelompok penguasa. Sedangkan kejahatan adalah perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kepentingan penguasa.

Pendekatan konflik dikaitkan dengan pendekatan Marxis dan non-Marxis sehingga muncul adanya pendekatan konflik yang Marxis yang memandang bahwa kejahatan bersifat patologis, dan pendekatan konflik yang non-Marxis memandang kejahatan sebagai tindakan yang normal, dan orang-orang yang normal yang tidak memiliki kekuasaan yang cukup untuk mengontrol proses kriminalisasi.

Daftar Pustaka

  • Bonger. (1982). Pengantar Tentang Kriminologi. Terjemahan RA. Koesnoen. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • I.S. Susanto. (1995). Kriminologi. Semarang: Fakultas Hukum UNDIP.
  • Purnianti dan Moh. Kemal Darmawan. (1994). Mashab dan Penggolongan Teori dalam Kriminologi. Jakarta: PT. Citra Aditya Bakti.
  • Romli Atmasasmita. (1997). Kriminologi. Bandung: Mandar Maju.
  • ____________. (2005). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Bandung: Refika Aditama.
  • Soerjono Soekanto dan Pudji Santoso. (1988). Kamus Kriminologi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • Sutherland & Cressey. (1973). Asas-asas Kriminologi (disadur oleh Momon Martasaputra). Bandung: Alumni.

MODUL 5: Masalah Kejahatan Kekerasan suatu Perspektif Teoritis

Kegiatan Belajar 1: Pengertian, Lingkup, dan Bentuk Kejahatan dengan Kekerasan
Rangkuman

Kejahatan kekerasan merujuk pada tingkah laku yang harus bertentangan dengan hukum (undang-undang), baik berupa ancaman saja maupun sudah menjadi suatu tindakan nyata dan memiliki akibat-akibat kerusakan terhadap harta benda atau fisik atau menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. (UU No. 23 Tahun 2004)

Kejahatan dengan kekerasan terbagi dalam berbagai bentuk, Jamil Salmi membagi kekerasan dalam:
1. kekerasan langsung (direct violence);
2. kekerasan tidak langsung (indirect violence), yang dikategorikan ke dalam:

a. Kekerasan karena kelalaian (violence by omission).
b. Kekerasan perantara (mediated violence).

3. kekerasan represif (repressive violence);
4. kekerasan alienatif (alienating violence).

Kadish mengklasifikasikan kejahatan dengan kekerasan ke dalam:
1. Emotional and instrumental violence.
2. Random or individual violence.
3. Collective violence.

Yang oleh para ahli berbeda pendapatnya dalam membagi bentuk-bentuk kejahatan dengan kekerasan tersebut.

Kegiatan Belajar 2: Perspektif Teori Kriminologi tentang Kejahatan dengan Kekerasan
Rangkuman

Romli Atmasasmita (2005: 71 – 73) memandang ada tiga titik pandang dalam melakukan analisis terhadap permasalahan kejahatan, yaitu macrotheories, microtheories, dan bridging theories.

Macrotheories, yaitu teori-teori yang menjelaskan kejahatan dipandang dari segi struktur sosial dan dampaknya. Teori ini menitik beratkan pada rates of crime atau epidemiologi kejahatan dari pada atas pelaku kejahatan. Contoh dari macrotheories adalah teori anomi dan teori konflik.

Romli Atmasasmita (2005: 71 – 73) memandang ada tiga titik pandang dala

2 Tanggapan

  1. SAYA RAKYAT KECIL MENGUSULKAN ALANGKAH BAIKNYA CALON-CALON PNS( PEGAWAI NEGERI,TNI,POLRI) DITES TERLEBIH DAHULU YAKNI:
    1. TES KEJIWAAN: UNTUK MENGETAHUI SEJAUH MANA SESEORANG MEMILIKI TINGKAT KEWARASANNYA, APAKAH ORANG TSB MEMILIKI AKAL SEHAT PIKIRANNYA ATAU ORANG TSB MEMILIKI DEPRESI DAN FRUSTASI BAHASA KASARNYA GILA. SIKAT KATA MISALNYA DIBAWAH STANDAR 70 SEBAIKNYA , JANGAN DILULUSKAN JADI PNS, ITU ARTINYA CALON PNS TIDAK SEHAT PIKIRANNYA/ AKAL SEHATNYA SUDAH TIDAK BAIK LAGI
    2. TES KEMORALITAS
    3.TES PSKOLOGI
    4.TES KESEHATAN+ BEBAS NARKOTIKA+BEBAS TATO
    ALANGKAH BAIKNYA DITES TSB DALAM SETIAP 1 ATAU 2 BULAN SEKALI YAKNI TES DARAH TES URINE TES RAMBUT.
    5 TES KESABARAN
    6. TES KEEMOSIAN: SIKAT KATA MISALNYA DIATAS 70 SEBAIKNYA JANGAN DILULUSKAN JADI PNS, KARENA DIATAS 70 TINGKAT EMOSINYA SANGAT TINGGI, BISA MEMBAHAYAKAN ORANG DAN TIDAK BERFIKIR JERNIH APA YANG DIA LAKUKAN.
    BANYAKNYA KENDARAAN-KENDARAAN TIDAK TERTIB DAN TIDAK TERATUR DAN BAHKAN BERAKIBAT KECELAKAAN MERENGGUT KEMATIAN KARENA PARA PENGEMUDI KURANG SABAR MEMBAWA KENDARAAN DAN BAHKAN PENGEMUDI KURANG PENGETAHUAN TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DAN KURANGNYA PENGAWASAN ATURAN DAN PERATURAN.DAN ADA LAGI ANAK-ANAK YANG KURANG CAKAP DALAM HUKUM (BELUM USIA 18 TAHUN KEATAS) SUDAH BISA BAWA KENDARAAN TSB YAKNI MOTOR ATAU MOBIL., SAYA SEBAGAI RAKYAT KECIL MENGUSULKAN ALANGKAH BAIKNYA CALON2 PENGEMUDI DI TES TERLEBIH DAHULU SBB:
    1. TES KEJIWAAN: UNTUK MENGETAHUI SEJAUH MANA SESEORANG MEMILIKI TINGKAT KEWARASAN SESEORANG, APAKAH ORANG TSB MEMILIKI AKAL SEHAT PIKIRANNYA ATAU ORANG TSB MEMILIKI TINGKAT DEPRESI ATAU FRUSTASIA ATAU BAHASA KASARNYA GILA. SIKAT KATA MISALNYA DIBAWAH STANDAR 70 ITU ARTINYA TIDAK SEHAT PIKIRANNYA/ AKAL SEHATNYA SUDAH TIDAK BAIK LAGI. JANGAN DIBERIKAN SIM KEPADA CALON PENGEMUDI KENDARAAN, BISA MERUGIKAN ORANG LAIN DAN BISA BERAKIBAT FATAL
    3.TES PSKOLOGI
    4.TES KESEHATAN+ BEBAS NARKOTIKA
    5 TES KESABARAN
    6. TES KEEMOSIAN:
    UNTUK MENGETAHUI SEJAUH MANA SESEORANG BISA MENYIKAPI SESUATU PERMASALAHAN DENGAN BAIK YANG DI SUDUTKANNYA., TIDAK PAKAI CARA KEKERASAN FISIK DAN NON FISIK YAKNI MAKI-MAKI ATAU MARAH-MARAH. SIKAT KATA MISALNYA DIATAS 70 SEBAIKNYA JANGAN KARENA DIATAS 70 TINGKAT EMOSINYA SANGAT TINGGI, BISA MEMBAHAYAKAN ORANG DAN TIDAK BERFIKIR JERNIH APA YANG DIA LAKUKAN.
    JANGAN DIBERIKAN SIM KEPADA CALON PENGEMUDI KENDARAAN, BISA MERUGIKAN ORANG LAIN DAN BISA BERAKIBAT FATAL

    TUHAN YESUS KRISTUS PASTI MEMBERKATI BANGSA DAN NEGARA RI YANG KITA CINTAI DAN KITA BANGGAKAN.

    TUHAN YESUS KRISTUS PASTI MEMBERIKAN YANG TERBAIK DAN TUHAN YESUS KRISTUS MEMBERKATI CALON PRESIDEN TUAN PRABOWO DAN CALON WAPRES TUAN HATTA.

    JANGAN LUPA 9 JULI 2014 COBLOS DITPS DILINGKUNGAN ANDA.. JANGAN GOLPUT YA..SUARA ANDA MENENTUKAN MASA DEPAN DAN KEMAJUAN BANGSA DAN NEGARA RI YANG KITA CINTAI DAN KITA BANGGAKAN.

  2. 1. BERSATU DEMI KEUTUHAN BANGSA DAN NEGARA RI DARI PROVINSI DI DKI JAKARTA s.d PROVINSI PAPUA NEW GUINI.
    2. MARI KITA JAGA PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA DAN NEGARA RI.
    3. MARI KITA BERSAMA-SAMA MEMBANGUN BANGSA DAN NEGARA RI.
    4. BERSATU BERDAULAT TANAH AIR RI DARI DI DKI JAKARTA s.d PROVINSI PAPUA NEW GUINI.
    5 MARI MEMBANGUN MEMPERTAHAN KEDAULATAN KETAHANAN NASIONAL BANGSA DAN NEGARA RI.

    2. SAYA SEBAGAI RAKYAT KECIL MENGUSULKAN BAHWA BUATKAN UU PERLINDUNGAN PASIEN SERTA MELINDUNGI HAK PASIEN DAN JUGA BUATKAN UU STANDART OPERATING PROCEDURE (SOP) KARENA INDONESIA BELUM ADA UU SOP

    1. BERANTAS RADIKALISME/ SEPARATISME DIPAPUA. BANYAK ORANG TAK BERDOSA DITEMBAK OLEH SEPARATISME. SEPARATISME ITU DIPAKAI OLEH IBLIS UNTUK MENGACAUKAN BANGSA DAN NEGARA RI.
    3. BERANTAS PENYAKIT MASYARAKAT YANG BERKEDOK DICAFFE-CAFFE REMANG-DISKOTIK KARAOKE YAKNI DI JALAN SULAWESI, DIJALAN NUSANTARA DIPROVINSI SULSEL, DAN BANYAK SEKALI TSB BERKDOK SERAGAM SMU DIPRAPATAN KANTOR POST DIKARAWACI PROVINSI BANTEN
    4.BERANTAS NARKOTIKA/NARKOBA/NAPZA”DRUGS” YANG BERKEDOK DI TEMPAT DISKO DI RUKO-RUKO PINANGSIA/OFFICE PARK KARAWACI PROVINSI BANTEN
    5. BERANTAS MINUMAN KERAS DISELURUH PROVINSI DI INDONESIA.
    6. BERANTAS PREMANISME.
    8 BERANTAS PENEMBANGAN POHON SECARA BESAR-BESARAN KARENA MERUSAKNYA EKOSISTEM MAKHLUK HIDUP/MH.DAN BISA KEKURANGAN PENYERAPAN DI BUMI DAN BAHKAN BISA KEKURANGAN OKSIGEN SERTA OVER KARBONDIOKSIDA. DIMANOKWARI SELATAN SEBELUM MEMASUKI ORASBARI YAKNI BANYAK SEKALI POHON DITEBANG SECARA BERLEBIHAN UNTUK KEPENTINGAN PERUTNYA.
    SAYA SEBAGAI RAKYAT KECIL MENGUSULKAN BAHWA SETIAP WARGA NEGARA YANG SEHAT ROHANI DAN SEHAT JASMANI WAJIB MILITER ATAU WAJIB BELAH NEGARA BILA NEGARA RI KEADAAN DARURAT BAIK SERANGAN DAN ANCAMAN DARI DALAM NEGERI DAN DILUAR NEGERI.
    HAPUSKAN SUBSIDI BBM KARENA SUBSIDI BBM YANG MENIKMATI ADALAH ORANG-ORANG BORJUIS/GOLONGAN MAMPU/ORANG KONGLOMERAT.
    DI PROVINSI PAPUA BARAT DI MANOKWARI SELATAN BELUM ADA LISTRIK AKTIF SELAMA 24 JAM NON STOP, TAPI YANG ADA LISTRIK AKTIF DIMULAI JAM 18.00 s.d JAM 24.00 WIT SETELAH JAM 24.00 PADAM LISTRIK. DAN JUGA BELUM ADA AIR BERSIH YAKNI PAM TAPI DIMANOKWARI SELATAN YANG ADA AIR DITAMPUNG DIDALAM TANAH. KARENA KALAU KITA GALI AIR TETAP TIDAK ADA.
    SAYA SEBAGAI RAKYAT KECIL MENGAJAK ANAK-ANAK TUHAN YESUS MENDOAKAN BANGSA DAN NEGARA RI YANG KITA CINTAI DAN KITA BANGGAKAN MENJADI BAIK, MENJADI AMAN, TENTRAM, DAMAI SEJAHTERA SERTA SEHAT SELALU KONDISI KEUANGAN NEGARA RI.
    TUHAN YESUS KRISTUS PASTI MEMBERKATI BANGSA DAN NEGARA RI YANG KITA CINTAI DAN KITA BANGGAKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: