Struktur Sosial Masyarakat Bali dan Penerapannya Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Pendahuluan

Membicarakan system kasta yang ada di Bali tidak terlepas dari sejarah dan perkembangan kebudayaan di India. Sejarah India terdiri dari beberapa fase yang batas-batas pembagian fase tersebut tidak dapat digariskan dengan jelas.

Ada tiga bagian besar dalam pembagian sejarah tersebut.

ZAMAN WEDA

Zaman ini ditandai dengan masuknya bangsa Arya di pegunungan Punjab sampai timbulnya agama Buddha kira-kira pada tahun 1500 B.C (Before Christ). Menurut pertumbuhan kitab-kitab yang dijadikan sumber keagamaan dibagi menjadi :

  • Zaman Weda purba. Zaman weda Purba dimulai kira-kira tahun 1500-1000 BC. Pada zaman ini bangsa Arya masih berada di pegunungan Punyab. Disini terdapat penyesuaian dengan peradapan India purba.
  • Zaman Brahmana. Mulai kira-kira tahun 1000-250 BC. Pada zaman ini para imam yaitu Brahmana sangat berkuasa dan dan munculnya kitab-kitab yang berlainan sekali sifatnya dengan kitab-kitab Weda. Bangsa Arya sudah menyesuaikan diri dengan peradapan India.

Masih ada lagi beberapa zaman sesudah itu yaitu zaman agama Buddha, zaman agama Hindu seperti dikenal orang sekarang. System kasta muncul pada zaman Brahmana.

ZAMAN BRAHMANA

Zaman ini ditandai dengan Kitab Brahmana yang merupakan bagian dari Weda yang berisi peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban keagamaan. Kata Brahmana berasal dari kata Brahman yang berarti doa, yaitu ucapan-ucapan sakti yang diucapakan oleh para Imam atau para Brahmana pada waktu mereka berkorban. Maka kKitab Brahmana adalah Kitab yang menyimpan ucapan-ucapan sakti itu.

Pada zaman ini peranan korban para Imam sangat penting. Perhatian dipusatkan pada korban. Sedemikiannya penting korban itu maka seluruh masyarakat dan seluruh segi kehidupannya tunduk pada keadaan ini.

Bersamaan dengan pentingnya arti korban, kedudukan para Imam yang melayani korban, maka masyarakat sangat bergantung kepada para Imam itu. Pada zaman inilah muncul cerita-cerita dalam bentuk mitos yang menceritakan asal mula para Imam atau para Brahmana. Pada zaman ini pula terjadi pembagian masyarakat dalam empat kasta yaitu : Brahmana (para Imam), kasta yang tertingi, kasta kesatria (para pemegang pemerintahan), kasta waisya (para pekerja), dan kasta sudra ( rakyat jelata dan budak-budak). Asal mula kasta-kasta ini tidak jelas.

Menurut Kitab Reg Weda disebutkan bahwa kasta ini timbul dari anggota tubuh Purusa,pencipta dunia. Mulutnya menjadi kasta Brahmana. Kedua tangannya menjadi kasta kesatria, pahanya menjadi Waisya, dan kakinya menjadi kasta sudra.

SOSIALISASI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Walupun tidak begitu jelas asal mulanya tentang system kasta ini di masyarakat Bali masih tetap dilestarikan. Masyarakat tetap menghargai dan menghormati orang-orang yang berkasta lebih tinggi. Yang berkasta lebih tinggi juga menghargai orang-orang yang berkasta lebih rendah.

Mengenai jabatan dimasyarakat dan pemerintah system ini sudah mulai bergeser. Orang-orang yang memegang jabatan dipemerintahan sekarang tidak harus orang-orang kesatria.  Apalagi di alam demokrasi dan masyarakat yang semakin maju, bukanlah kasta yang menentukan tetapi kemampuan seseorang untuk memegang jabatan tertentu.

Pergeseran atau jabatan di masyarakat dan pemerintahan tidak menjadi masalah yang penting orang yang memegang jabatan itu mampu. Dengan adanya pergeseran ini sebenarnya masyarakat akan semakin maju,semakin cepat mengikuti perkembangan dunia yang ada disekitar kita, sehingga masyarakat tidak ketinggalan.

Dalam pergeseran-pergeseran ini  yang tidak dikatahui dengan pasti adalah apakah seorang Imam yang dipegang oleh orang Brahmana dapat dijabat atau dipegang oleh seorang yang bukan dari dari kasta Brahmana.

Kesimpulan

Dalam masyarakat adat Bali yang berada di pulau Bali memang masih memegang adat dan tradisi dari leluhur hanya saja sudah tidak begitu mengikat. Untuk masyarakat Bali yang ada di perantauan atau yang sudah tidak lagi berada di pulau Bali adat dan tradisi ini sudah tidak begitu dipakai lagi. Ini berkaitan erat dengan lingkungan pergaulan social mereka sehari-hari yang tidak hanya bertemu dan bergaul dengan sesama orang dari suku Bali. Bahkan yang ada di pulau Sulawesi sudah ada yang menikah dengan orang dari suku di Sulawesi.

Jadi adat istiadat tiap suku bangsa itu perlu tetap dijaga dan dilestarikan, hanya saja harus disesuaikan dengan kemajuan zaman dan lingkungan tempat kita hidup dan bergaul atau lingkungan social tempat kita hidup.

2 Tanggapan

  1. gak lengkap blas ngene ,, goblok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: