Hukum Acara Perdata

Hukum Acara Perdata merupakan peraturan yang mengatur proses perkara perdata melalui jalur pengadilan secara formal.

    Hukum Acara Perdata langsung kepengadilan karena bertujuan untuk memulihkan haknya yang telah dirugikan untuk mendapatkan hak-haknya kembali sehingga mendapat perlindungan hukum. Perkara perdata langsung kepengadilan yaitu bertujuan agar tidak terjadi main hakim sendiri.

      Hukum Acara Perdata yaitu aturan-aturan hukum yang mengatur proses penyelesaian perkara perdata melalui pengadilan dimana dijaminkan untuk ditegakkannya hukum perdata.

        Menurut Prof. Wijono Prodjodikoro, S.H, Hukum Acara Perdata adalah Rangkaian aturan-aturan yang memuat tentang bagaimana cara para pihak harus bertindak terhadap dan dimuka pengadilan dan cara bagaimana hakim bertindak terhadap para pihak untuk ditegakkannya pelaksanaan hukum perdata materil.

          PERKARA & SENGKETA

          Perkara mempunyai pengertian yang lebis luas dari pada Sengketa, sedangkan sengketa adalah sebagian dari Perkara. Untuk membedakan keduanya maka dilihat dari keadaan awalnya yaitu Perkara dilihat dari adanya hal yang diperselisihkan / dipersoalkan atau tidak adanya hal yang diperselisihkan atau dipersoalkan, dan pada Sengketa ada pihak-pihak yang merasa di rugikan atas haknya.

          YURISDIKSI CONTENTIOSA & VOLUNTAIR

          • Yurisdiksi Contentiosa adalah Kewenangan yang sebenarnya dari hakim didalam mengadili suatu perkara perdata untuk menyelesaikan suatu sengketa guna memberikan suatu keputusan keadilan atau yang biasa disebut peradilan yang sebenarnya. Sedangkan

          Yurisdiksi Voluntair adalah sifatnya hanya mengatur sesuatu hal untuk ditetapkan sebagai hak atau menetapkan hak yang bersifat administrasi.

          Perbedaan dari Yurisdiksi Contetiosa dan Yurisdiksi Voluntair yaitu :

          Yurisdiksi

          Contetiosa

          Yurisdiksi

          Voluntair

          Para Pihak

          dua pihak yaitu tergugat dan penggugat.

          Aktifitas Hakim

          Hakim yang memeriksa perkara hanya terbatas pada apa yang diperkarakan untuk diputuskan.

          Kebebasan Hakim

          Hakim hanya memperhatikan dan menerapkan apa yang telah ditentukan UU dan tidak berada dalam tekanan atau pengaruh siapapun (Hakim bersifat Independen).

          Kekuatan mengikat Keputusan Hakim

          Putusan hakim hanya mempunyai kekuatan mengikat pada para pihak yang bersengketa dan keterangan saksi yang diperiksa / didengarkan keterangannya.

          –   Satu Pihak

          Pemohon.

          –   Aktifitas Hakim

          Aktifitas hakim lebih dari apa yang dimohonkan oleh pihak yang bermohon karena hanya bersifat administrasi.

          –   Kebebasan hakim

          Hakim mempunyai kebebasan atau kebijaksanaan untuk mengatur sesuatu hal.

          –   Kekuatan mengikat Keputusan Hakim

          Kekuatan mengikat hakim terhadap semua orang.

          BERACARA

          • Beracara yaitu proses untuk menyelesaikan perkara.
          • Beracara dibagi kedalam dua pengertian yaitu :
            • Ø Beracara dalam arti luas ® Suatu tindakan hukum dapat dilakukan baik diluar maupun didalam pengadilan berdasarkan ketentuan hukum acara perdata.

          *penyelesaian diluar pengadilan : seperti menggunakan mediasi, konsoludasi, dll

          • Ø Beracara dalam arti sempit ® beracara dalam arti sebenarnya yaitu tindakan hukum yang dilakukan mulai dari sidang pertama s/d dijatuhkannya putusan.
          • Proses beracara ada tiga tahap yaitu :
          1. Langkah Persiapan
          • Para pihak yang bersengketa (penggugat)® membuat surat gugatan dan memohon kepada Majelis mengenai Sita Jaminan terhadap objek sengketa.
          • Pengadilan ® setelah menerima gugatan ketua pengadilan menunjuk majelis hakim yang menangani dan menetapkan hari persidangan.
          1. Tindakan penentuan ® melakukan proses persidangan perkara untuk memberikan keputusan keadilan.
          2. Tindakan pelaksanaan putusan ® menjalankan atau melaksanakan putusan hakim dalam hal ini eksekusi yang dilakukan oleh Jaksa.

          PERBEDAAN PERKARA PERDATA & PIDANA

          1. Dasar timbulnya perkara

          • Perdata ® pelanggaran terhadap hak seseorang.
          • Pidana ® pelanggaran terhadap larangan / perintah yang tertuang dalam UU.

          2. Inisiatif berperkara

          • Perdata ® para pihak yang berperkara / yang merasa dirugikan haknya.
          • Pidana ® negara yang berinisiatif dalam hal ini ditugaskan kepada Kepolisian (penyelidikan dan penyidikan), Kejaksaan (membuat surat dakwaan dan setelah diajukan kepengadilan membuat penuntutan), dan Hakim (menyidangkan perkara dan memutuskan perkara).

          3. Istilah yang digunakan

          • Perdata ® penggugat dan tergugat.
          • Pidana ® Kepolisian

          4. Tugas hakim dalam acara

          • Perdata ® mencari kebenaran formil dari apa yang dikemukakan atau dituntut oleh pihak-pihak yang bersengketa dan tidak boleh lebih dari pada itu hanya yang tertuang dalam surat gugatan.
          • Pidana ® mencari kebenaran materil secara mutlak yaitu mencari tahu latar belakang dari perbuatan pidana.

          5. Masalah perdamaian

          • Perdata ® hakim mempunyai peranan menawarkan perdamaian kepada para pihak yang bersengketa mulai dari sidang pertama s/d putusan peradilan.
          • Pidana ® tidak dikenal perdamaian dimana sekali proses tetap lanjut s/d putusan peradilan.

          6. Sumpah Decissisoire (sumpah yang dimintakan oleh satu pihak tentang kebenaran suatu peristiwa).

          • Perdata ® merupakan pertimbangan hakim untuk memberikan putusan / membenarkan terhadap pihak / orang yang mengangkat sumpah.
          • Pidana ® tidak dikenal sumpah Decissisoire.
          1. Hukuman
          • Perdata ® pemenuhan suatu kewajiban perdata atau one prestasi.
          • Pidana ® Hukuman badan, Denda, dan pencabutan hak.

          Surat kuasa khusus pada tingkat kasasi harus di buat kembali karena di mungkinkan pemberi kuasa mempunyai kepentingan lain.

          Tiga hal yang harus dimuat dalam surat gugatan yaitu :

          1. Identitas para pihak ® ada dua pihak yaitu penggugat dan tergugat. Yang harus diisi seperti : nama, pekerjaan, alamat, dll selengkap-lengkapnya. Dimana identitas sangat berpengaruh terhadap existensi putusan peradilan.

          2. Pundamentum Petendi / Posita / Dasar gugatan yang berisi uraian tentang peristiwa atau dasar hukum.

          *Ada dua teori dalam penyusunan dasar gugatan yaitu :

          • Substantiering Theory ® Maknanya perlu diuraikan rentetan kejadian nyata yang mendahului peristiwa hukum yang menjadi dasar gugatan, sedangkan
          • Individualsering Theory ® Bermakna kejadian-kejadian yang dimuat dalam surat gugatan harus cukup menunjukan adanya hubungan hukum yang menjadi dasar tuntutan sedang sejarahnya tidak perlu dikemukakan.

          3. Petitum / harapan / keinginan yang dibagi menjadi dua yaitu :

          1. Tuntutan Pokok / Primer ® dilihat dari sengketanya.

          2. Tuntutan Sekunder ® dari majelis hakim berdasarkan keadilan.

          Perubahan gugatan menurut pasal 127 RP ® penggugat boleh mengubah atau mengurangi tuntutan sepanjang pemeriksaan perkara asal saja tidak mengubah atau menambah hubungan hukum yang menjadi dasar tuntutan semula atau tidak mengubah kejadian materil yang menjadi dasar gugatan.

          Pencabutan ® dimungkinkan melakukan pencabutan gugatan selama masih dalam proses pemeriksaan perkara.

          Penggabungan gugatan terdiri dari dua macam yaitu :

          1. Berbarengan ® Bila seseorang mempunyai beberapa tuntutan yang menuju pada satu akibat hukum.
          2. Pengumpulan ® terdapat beberapa orang penggugat melawan seorang tergugat atau seorang penggugat melawan beberapa orang tergugat atau beberapa orang penggugat melawan beberapa orang tergugat.

          Sumber-sumber Hukum Acara Perdata

          –          R.V. = Recht Verordering ® untuk golongan Eropa.

          –          HIR = Het Herziene Inlandsch Reglemen ® untuk golongan bumi putera di Jawa & Madura.

          –          RBG = Reglemen Vord De Buitengewisten ® untuk golongan bumi putera di luar Jawa & Madura.

          –          UU. No. 1 tahun 1974 ® tentang perkawinan.

          –          UU. No. 4 tahun 2004 ® tentang kehakiman.

          –          UU. No. 5 tahun 2005 ® tentang Mahkamah Agung.

          Asas-asas Hukum Acara Perdata yaitu :

          1. Hakim bersifat pasif ® mengandung makna bahwa hakim bersifat menunggu karena inisiatif berperkara datangnya dari para pihak yang bersengketa, dan hakim harus memutuskan apa yang diperkarakan atau memeriksa apa yang diajukan oleh para pihak, dimana hakim hanya memeriksa dan memutuskan apa yang tertuang dalam surat gugatan dan tidak boleh menentukan luasnya pokok perkara.
          2. Terbuka Untuk Umum ® mengandung makna semua orang dapat menyaksikan persidangan untuk transparansi jalannya persidangan agar hakim dapat berlaku adil atau tidak sewenang-wenang.

          Setiap keterangan yang diambil dalam persidangan tertutup harus dibuatkan Berita Acara dan pada saat hakim memutuskan harus terbuka untuk umum jika tidak maka keputusan hakim tersebut dapat batal demi hukum.

          1. Hakim harus mendengarkan kedua belah pihak (AUDIET AL TERM PARTEN) ® hakim harus memberikan kesempatan pada kedua belah pihak.
          2. Putusan hakim harus disertai dengan alasan-alasan ® bahwa hakim dalam memberikan putusan harus ada dasar hukumnya atau pertimbangan-pertimbangan dan mengambil yurisprudensi untuk memperkuat putusannya.

          “IUS CURIA NOVIT” ® Hakim dianggap tahu semua Hukum.

          1. Berperkara harus dikenakan biaya ®

          –          Biaya administrasi : Biaya pemanggilan & biaya pokok perkara.

          –          Biaya dari penasehat hukum.

          2. Tidak ada keharusan mewakilkan ® tidak ada kewajiban dari para pihak itu untuk mewakilkan kepada penasehat hukum, artinya bisa menggunakan atau tidak.

          Tinggalkan Balasan

          Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

          Logo WordPress.com

          You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

          Gambar Twitter

          You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

          Foto Facebook

          You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

          Foto Google+

          You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

          Connecting to %s

          %d blogger menyukai ini: