Filsafat Hukum

PENGERTIAN FILSAFAT

Filsafat hukum = bagian dari filsafat umum, setiap uraian tentang arti filsafat sudah mengandaikan suatu titik tolak kefilsafatan tertentu (Meuwissen). Termaswuk dalam hal ini filsafat hukum.

Secara etimologis filsafat = Philosophia (Yunani), diartikan sebagai cinta pada kebijaksanaan.

  1. Titus, Smith & Nolan (1984: 11-15) mengklasifikasikan : Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal).  Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengkombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam (arti spekulatif). Filsafat adalah analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentrisme. Filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
  2. Plato (427-347 SM) yaitu Pengetahuan tentang segala yang ada
  3. Aristoteles (384-322 SM) yaitu Menyelidiki sebab & prinsip segala sesuatu.\

Filsafat adalah : Ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang didalamnya terkandung : Ilmu-Ilmu Metafisika, Logika, Retorika, Etika, Ekonomi,  Politik, Estetika.

Fuad Hassan
Sesuatu ikhtiar untuk berpikir radikal, dalam arti mulai dari radix (akar) sesuatu hal yang hendak dimasalahkan, untuk mencapai kesimpulan yang universal

Jujun S. Suriasumantri
Berfikir filsafat berarti :
Berfikir menyeluruh :  memahami hakikat ilmu dalam
konstelasi pengetahuan lainnya

Berpikir mendasar :     tidak akan percaya begitu saja bahwa suatu pernyataan ilmiah (ilmu) itu benar

Karakteristik Berpikir Kefilsafatan

Menurut Ali Mudhofir (1997:17-18), karakteristik berpikir kefilsafatan, antara lain :

Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akamya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.

Universal artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir filsafat menurut Jaspers terfetak pada aspek keumumannya.

Konseptual, artinya merupakan hasil generallsasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya : apakah kebebasan itu?

Koheren dan konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpfikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.

Sistematik, artinya pendapat kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.

Komprehensif, artinya menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.

Bebas, artinya sampal batas-batas yang luas, pemikiran filsafat boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan relijius.

Bertanggungjawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.

PENGERTIAN FILSAFAT HUKUM

Segala karakteristik berpikir kefilsafatan umum berlaku dalam Filsafat Hukum, dimana tidak ditujukan untuk memaparkan menginterpretasi, menjelaskan hukum yang berlaku, melainkan lebih untuk memahami hukum dalam keumumannya (hukum sebagaimana adanya).

ONTOLOGI

berasal dari bahasa Yunani  =  On  : ada, Ontos  : berada, Logos : ilmu/ studi tentang, dalam bahasa Inggris  =  Ontology : Studi/ilmu mengenai yang ada atau berada.

Ontologi : mempelajari Apa yg ingin kita ketahui, Seberapa jauh ingin diketahui, Suatu pengkajian tentang “ada”

The Liang Gie, (2000), secara tradisional metafisika (ontologi) dicirikan sebagai : Studi yang paling fundamental dan paling komprehensif yang sepenuhnya kritis terhadap diri sendiri dari semua studi.

Sifat fundamental didasarkan pertanyaan tentang apakah yang ada atau sifat dasar yang sedalam-dalamnya dari hal-hal yang mendasari penyelidikan khusus.

Sifat komprehensif karena tingkat keumumannya dan kaitannya dengan dunia sebagai suatu keseluruhan.

Kritis karena metafisika berlangsung tanpa asumsi-asumsi.

Beberapa peran metafisika (ontologi) dalam ilmu pengetahuan yaitu:

Metafisika atau ontologi mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Metafisika atau ontologi menuntut orisinalitas berpikir. Artinya, seorang metafisikus senantiasa berupaya menemukan hal-hal baru.

Metafisika atau ontologi menuntut pertimbangan yang matang bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terutama pada wilayah presupposition (praanggapan- praanggapan), sehingga persoalan yang diajukan memiliki landasan berpijak yang kuat.

Metafisika atau ontologi membuka peluang bagi terjadinya perbedaan visi di dalam melihat realitas. Hal ini menjadikan ilmu pengetahuan berkembang, sebagaimana yang terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini.

ASPEK ONTOLOGI FILSAFAT HUKUM

Filsafat Hukum = Ingin mendalami “hakikat” dari hukum, dan itu tidak berarti bahwa ia ingin memahami hukum sebagai penampilan atau manifestasi dari suatu asas yang mendasarinya.

Filsafat Hukum mendasarkan 2 pertanyaan inti : Apa landasan dari kekuatan mengikat dari hukum itu? dan Berdasarkan apa kita menilai “keadilan” dari hukum itu?

Meuwissen : Terkait 2 pertanyaan tsb:

1. FH bergerak dalam wilayah perbatasan antar hukum dan etika.

2. FH berada di tengah-tengahnya, sebab ia menyibukkan diri dengan sifat khas dari aturan-aturan dan kaidah-kaidah perilaku.

3. Aturan dan kaidah-kaidah tsb memiliki watak yang berbeda-beda, mis; etis, yuridis, kebiasaan, atau cara-cara tertentu dan sebagainya. Sebagian kaidah sama dan lainnya berbeda.

Apakah keterikatan pada pelbagai kaidah itu dapat dimotivasi secara abstrak (terpisah, sendiri-sendiri) atau hal itu harus dipikirkan dalam perikatan antara jenis kaidah tsb.

Apakah kaidah etis mewajibkan kita mematuhi kaidah hukum?

Sejauhmana kaidah etis harus dimasukkan dalam isi kaidah hukum?

Apakah tugas dari hukum untuk memberikan sanksi pada berlakunya etika?

Demikian pula, apakah mematuhi kebiasaan selalu etis atau yuridis?

Apakah kebiasaan selalu adil?

Dapatkah kita secara rasional mengemukakan sesuatu yang bermakna tentang keadilan?

Pandangan positivistik bertolak dari keyakinan hukum dan moral secara tajam terpisah satu dan lainnya.

Hukum kodrat menganut pendirian berbeda. Bahwa keterikatan pada hukum positif dan penilaian terhadap isi  dan kualitas dari hukum positif tidak dapat sepenuhnya dimotivasi dari sudut hukum positif.

Jawaban terhadap 2 pertanyaan inti FH tergantung pada perspektif dasar FH, memiliki sifat yang berbeda-beda

Tema-tema lain yang juga merupakan tema aktual dari FH adalah persoalan hak milik, arti kesepakatan dan kontrak

EPISTEMOLOGI

Epistemologi = Episteme   : pengetahuan, Logos : pengetahuan/ informasi, Pengetahuan diatas pengetahuan

Teori ilmu pengetahuan (theory of knowledge) , yg membicarakan watak satu bentuk pengetahuan manusia yaitu pengetahuan ilmiah (Scientific Knowledge)

Epistemologi : – Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan (hal apa yg diperhatikan)

Secara filsafati epistemologi =

Pembahasan mengenai :

Bagaimana mendapatkan pengetahuan; berkenaan dengan sumbernya, hakikat,  jangkauan dan  ruang lingkupnya, termasuk kemungkinan manusia mendapatkan pengengetahuan, dan sampai tahap pengetahuan yang mungkin ditangkap manusia.

Untuk maksud itu metode ihmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif.

Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya.

Meskipun argumentasi secara rasional didasarkan kepada premis ilmiah yang teruji kebenarannya namun dimungkinkan pilihan pada premis yang berbeda dipergunakan dalam penyusunan argumentasi.

Teori korespondensi = Kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Atau kebenaran terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek (apa yang diketahui subjek dan realitas apa adanya (Sonny Keraf & Michael Dua, 2001).

Dalam memecahkan masalah:

Ilmu tidak berpaling kepada perasaan melainkan kepada penalaran Rasional harus digabungkan dengan pengalaman (fakta) empiris untuk dapat dinyatakan BENAR.

OKI, teori ilmiah mengenal dua syarat utama yakni: harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya sehingga tidak terjadi kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan; dan harus cocok dengan fakta-fakta empiris (Jujun, 2002).

Hipotesis disusun dalam rangka pemecahan masalah, hanya dapat diterima – setelah melalui proses verifikasi – berdasarkan kriteria kebenaran kerespondensi. Hal ini dikenal sebagai proses logico-hypothetico-verifikasi; atau menurut Tyndall sebagai perkawinan berkesinambungan antara deduksi dan induksi (Jujun, 2002).

Proses logico-hypothetico-verifikasi

ASPEK EPISTEMOLOGI FILSAFAT HUKUM

Peter M. Marzuki :

Ada perbedaan cara mendapatkan pengetahuan dalam ilmu hukum. Ini terjadi karena sifat ilmu hukum yang tidak ditemukan dalam ilmu lain.

Ilmu hukum (jurisprudence), bukan merupakan suatu pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat empiris.

Sosiologi hukum, phsikologi hukum bukan ilmu hukum tetapi studi-studi sosial (ilmu sosial) tentang hukum. Sejarah hukum bukan ilmu hukum tetapi masuk ke dalam kajian budaya.

Berbeda dengan ilmu perbandingan hukum, ia merupakan bagian dari ilmu hukum yang bersifat normatif dan preskriptif, ia bukan ilmu empiris

• Ilmu Hukum bukan merupakan bagian dari Ilmu Sosial dan bukan pula bagian Humaniora

• Ilmu Hukum merupakan ilmu yang bersifat SUI GENERIS, artinya tidak ada bentuk ilmu lain yang dapat dibandingkan dengan ilmu hukum (Meuwissen). Sui Generis (Latin) artinya hanya satu untuk jenisnya sendiri.

• Tiga tingkatan ilmu hukum yaitu Dogmatik Hukum, Teori Hukum, dan Filsafat Hukum (Jan Gijssels dan Mark van Hoecke), ketiganya memiliki sifat Sui Generis.

Sifat SUI GENERIS, karena hukum dimaksudkan untuk mempertahankan ketertiban sosial dan menciptakan keadilan bagi setiap anggota masyarakat.

Ilmu empiris (Ilmu Sosial dan Humaniora) tidak bertalian dengan soal ketertiban dan keadilan karena kedua hal itu tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.

Praktik konsep ketertiban dan keadilan untuk dapat diukur diubah ke dalam pengertian-pengertian yang bersifat oprasional sebagaimana halnya juga dengan pengertian hukum,

Unsur esensial yang terpaksa dihilangkan adalah:

unsur-unsur batin dari makna ketertiban dan keadilan setiap anggota masyarakat.

Ilmu empiris tidak dapat menjelaskan makna dibelakang fakta yang dapat diamati, padahal makna tersebut adalah esensial bagi studi ilmu hukum.

Studi empiris dalam mencari makna memisahkan secara tegas antara peneliti dan objek yang diteliti, sedangkan dalam ilmu hukum bahwa peneliti dan yang diteliti sulit untuk dipisahkan.

Ilmu hukum berbeda dengan ilmu deskriptif, karena ilmu hukum bukan mencari fakta historis dan hubungan-hubungan sosial seperti penelitian sosial. Ilmu hukum berurusan dengan preskripsi-preskripsi hukum, putusan yang bersifat hukum, dan materi yang diolah dari kebiasaan-kebiasaan.

Konkretnya, ILMU HUKUM memiliki karakter PRESKRIPTIF dan sekaligus sebagai ILMU TERAPAN.

AKSIOLOGI

dalam bahasa Yunani    Axios  : layak, pantas, Logos   : ilmu, Studi mengenai, Axiologi : Studi tentang Nilai (layak, pantas, kebenaran, keadilan, dst), Nilai kegunaan pengetahuan tsb (teori tentang nilai), Bagaimana kaitan antara cara penggunaan dengan kaidah moral

BANDINGKAN:

Ontologi   :  Apa hakikat obyek ilmu Pengetahuan, Epistimologi : Bagaimana ilmu pengetahuan diperoleh secara sah & benar

Aksiologi Untuk apa ilmu diperoleh

- Tujuan ilmu pengetahuan –

nilai ilmu

- Untuk pengembangan  khazanah ilmu

- Memecahkan problema praktis kehidupan

Nilai = selalu diarahkan pada hal yang bersifat positif.

PENGERTIAN NILAI
Nilai  (value), salah satu cabang filsafat yaitu filsafat nilai (axiology, Theory of value).

Istilah nilai =  dipakai untuk menunjuk kata benda  abstrak ,  artinya ‘keberhargaan’ (worth) atau ‘kebaikan’(goodness).

Sesuatu yang berharga, artinya bernilai.

Sesuatu berharga apabila berguna, bermanfaat, baik dan benar.

Nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia

MAKNA NILAI & JENISNYA

Makna nilai yang hakiki = sesuatu yang diinginkan atau sesuatu yang tidak diinginkan

Hakekat nilai = dikotomis serta kesepadanan artinya manakala terdapat hal yang berharga, niscaya terdapat pula yang tidak berharga, berguna, tidak berguna, bermanfaat, tidak bermanfaat dan seterusnya

Nilai apabila diletakkan pada sesuatu objek sumber nilai, terdapat perbedaan antara satu objek dengan objek lainnya.

Klassifikasi  nilai itu tergantung  dari titik tolak atau sudut pandang penggolongan nilai tersebut.

Tiga Macam Nilai :

Nilai Material, segala sesuatu yang berguna bagi unsur Jasmani manusia.

Nilai Vital, segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.

Nilai Kerohanian, segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian ini dapat dibedakan atas empat macam :

a. Nilai kebenaran, yang bersumber pada akal

b. Nilai keindahan , yang bersumber pada unsur perasaan

c. Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber dari unsur kehendak

d. Nilai religius, yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak…bersumber pada kepercayaan manusia.

AKSIOLOGI DALAM FILSAFAT HUKUM

Dalam Filsafat Hukum, pembicaraan dititik beratkan  pada:

Nilai etika (moral atau kebaikan) = menyangkut hal baik dan buruk dalam hubungan dengan perbuatan manusia, di samping nilai kebenaran, yang bersumber pada akal

Nilai Hukum

Eksistensi atau kedudukan Nilai Hukum masuk dalam kelompok nilai etika (ethic value) dalam hal ini : nilai etika hukum (the value of legal ethica) yang memuat cita-cita, gagasan-gagasan, konsep-konsep hukum, kaidah-kaidah hukum (recht norm). Nilai etika hukum mempersoalkan prilaku moral (conduct), terkait hal baik atau buruk, baik atau jahat menurut hukum.

Dalam konsep ilmu hukum (rechts wetenschap), asas hukum (rechtsbeginselen) adalah penamaan normatif (legal norm) bagi nilai etika hukum (Value legal ethic).

Rechtsbegenselen berasal dari kata bahasa laitin  “the principium”, paduan kata  “primus (bermakna pertama) dan capare ( bermakna mengambil, meletakkan).

Tata nilai etika , memberikan pengertian = hal-hal apa yang patut dijunjung tinggi, karenanya harus dicapai dan dipelihara.

Petunjuk hidup itu berfungsi sebagai alat untuk memepertahankan atau membina sistem nilai tertentu.

Setiap tertib sosial harus memihak kepada suatu anggapan tentang nilai tertentu yang dipandang paling mulia.

Salah satu diantara berbagai petunjuk hidup itu ialah hukum.

Hubungan Hukum Terhadap Kekuasaan

Kekuasaan = kemampuan bertindak yang menimbulkan akibat hukum.

Kemampuan bertindak dari penguasa memerlukan legitimasi antara lain:

a. Legitimasi etis atau legitimasi moral = tidak bertentangan dengan perinsip dasar moral

b. Legitimasi hukum (legalitas),

c. legitimasi demokratis = disahkan secara demokratis

Hukum dan kekuasaan = Dua komponen sistem yang saling ketergantungan (interdependensi).

Hukum dan kekuasaan harus saling mendukung. Dalam arti hukum harus ditegakkan dengan kekuasaan, agar daya paksanya lebih efektif. Sebaliknya kekuasaan harus dijalankan di atas prinsip-prinsip hukum agar tidak sewenang-wenang.

Hubungan keduanya diwujudkan dalam bentuk keserasian, keselarasan, dan keseimbangan, dalam perpaduan kerja sama untuk mewujudkan secara ideal dari apa menjadi cita-cita masyarkat suatu negara, adalah tidak terlepas dari kehadiran akan keberhasilan kerja sama antara dua komponen tersebut.

Eksistensi Nilai Hukum Terhadap Kekuasaan

Kekuasaan yang diperlukan untuk menegakkan hukum, haruslah selalu berada dibelakang hukum, agar kekuasaan material tak bisa dilihat sebagai hal yang hakiki, apalagi essensial.

Hukum harus mampu menjaga kekuasaan agar tidak merusak  sifat dasar harkat dan martabat kodrati manusia.

Salah satu aspek perwujudan hubungan antara hukum dan kekuasaan, terletak pada:

Penggunaan hukum untuk mengontrol kekuasaan atau membatasi kekuasaan

Hukum harus selalu dimanifestasikan kedalam aktivitas kekuasaan secara wajar.

Kewajaran tersebut terlihat dalam aplikasi kekuasaan, dalam bentuk :

Aktualisasi sikap keserasian, Keselarasan dan keseimbangan, Sesuai cita-cita yang telah disepakati bersama.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: