SCOPE GEOMORFOLOGI

KATA PENGANTAR

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa,

Terbitlah diktat Seri Geomorfologi No. 1 yang di beri nama “Pengantar Geomorfologi”, sesuai dengan materi yang disajikan didalamnya, yaitu sekedar memperkenalkan apa itu “Geomorfologi”. Dengan demikian dari diktat ini diharapkan kiranya mahasiswa dn para pembaca yang berminat dapat memperoleh pengetahuan dasar tentang ilmu ini ; yang selanjutnya dapat menjadi batu loncatan dalam penerbitan serta geomorfologi berikutnya.

Penerbitan seri geomorfologi ini merupakan salah satu kegiatan akademis yang dapat menambah kegairahan belajar dan dapat menanggulangi kekurangan bahan-bahan bacaan secara bertahap.

Selain dari itu merupakan langkah pertama dalam usaha melengkapi penerbitan diktat dibidang ilmu pengetahuan Geografi. Karena itu dalam waktu yang tidak lama akan diterbitkan pula seri 2 lainnya, seperti Seri Kartografi, seri Geologi, Seri Geografi – Kota, dan sebagainya.

Kepada mereka yang telah membantu dan memberikan bahan pemikirannya, kami menyatakan penghargaan dan terima kasih.

Mudah-mudahan diktat ini dapat mengenai sasarannya, semoga Tuhan melimpahkan Rahmatnya kepada kita sekalian.

Terima kasih

Ujung Pandang,

1 Maret 1972

Hormat kami

Penyusun.

DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar  ………………………………………………………………………………….. .. i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………… ii

BAB    I     SCOPE GEOMORFOLOGI ………………………………………………… 1

BAB    II   GEOMORFOLOGI DAN ILMU-ILMU LAIN …………………….. 3

  1. Fisiografi (Physiograpy)………………………………………………………….. 3
  2. Geologi (Geology) ………………………………………………………………… 3
  3. Meteorologi dan Klimatologi (Meteorology and Climatology) ……. 3
  4. Hidrologi (Hidrology) ……………………………………………………………. 4
  5. Geografi (Geograpy) ……………………………………………………………… 4

BAB    III  BEBERAPA PRINSIP DASAR GEOMORFOLOGI …………… 5

BAB    IV  RELIEF BUMI …………………………………………………………….. .. 9

  1. Relief Orde Pertama ……………………………………………………………… 9
  2. Relief Orde Kedua ………………………………………………………………… 10
  3. Relief orde ketiga ………………………………………………………………….. 12

BAB    V   STRUKTUR, PROSES, DAN STADIA ……………………………… 15

Struktur ……………………………………………………………………………….. 15

Proses ………………………………………………………………………………….. 18

Stadia ………………………………………………………………………………….. 21

Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………… 25

BAB I

SCOPE GEOMORFOLOGI

“Geomorfologi” merupakan hasil naturalisasi kedalam bahasa Indonesia yang berasal dari “Geomorphology”. Geomorphology tersusun dari tiga kata yang berasal dari bahasa Greek, yaitu “Geo” berarti “Bumi”, ”Morpho” berarti “bentuk” dan “Logos” berarti “a discourse” atau suatu pembahasan/pembicaraan. Jagi Geomorfologi adalah ilmu pengetahuan tentang bentuk-bentuk bumi, khususnya bentuk-bentuk permukaan bumi. “Geomorphology is the science of land forms”[1]. Termasuk kedalamannya bentuk-bentuk sub marine.

WORCESTER (1939) memberi definisi geomorfologi sebagai uraian dan tafsiran cari bentuk-bentuk relief permukaan bumi “….., it is a description and interpretation of the earth’s relief features”[2].

Defenisi WORCESTER ini lebih luas dari “the science of land forms”, sebab termasuk kedalamannya pembahasan tentang kejadian bumi secara umum, seperti pembentukan ocean basin dan continental plat form, juga bentuk-bentuk struktur yang lebih kecil (daerahnya lebih sempit) dari yang disebut pertama, seperti plain, plateau, mountain dan sebagainya. Dimana untuk pembahasannya memerlukan bantuan dari Earth Science lainnya, seperti Geologi Dinamika dan Geologi Strktur.

A.K.Lobeck (1939) dalam bukunya “Geomorphology” memberikan sub titel An Introdaction to the study of landscapes[3]. Landscapes yang dimaksudkan disini adalah natural landscapes. Sub titel tersebut memberikan gambaran bagaimana scope dari geomorfologi itu.

Dalam memberikan uraian dan tafsiran atas bentuk-bentuk muka bumi, landform atau landscapes ada tiga faktor yang dapat menjiwai isi pelajaran geomorfologi, yaitu struktur, proses dan stadia. Ketiganya merupakan satu kesatuan pembahasan dalam geomorfologi.  Kalau pembahasan semata-mata terbatas pada kenyataan atas bentuk-bentuk muka bumi tanpa pembahasan struktur, proses dan stadia, maka itu bukanlah studi geomorfologi. Kemungkinannya hanyalah merupakan suatu uraian tentang topografi atau relief atau earth’s configuration.

earth’s configuration semata-mata terbatas pada bentuk-bentuk muka bumi sebagaimana adanya, tanpa memperhatikan faktor struktur.

Dalam studi geomorfologi dewasa ini, termasuk pula kedalamannya bagaimana penggunaan praktek dari setiap bentuk-bentuk muka bumi bagi kehidupan manusia, yang lebih dikenal dengan istilah “Geomorphic Applied”.

BAB II

GEOMORFOLOGI DAN ILMU-ILMU LAIN

Ilmu-ilmu lain yang dimaksudkan disini adalah ilmu-ilmu yang erat hubungannya dengan geomorfologi utamanya Earth Science.

  1. Fisiografi (Physiograpy), pada mulanya mencakup studi tentang Atmosphere, air dan land form bumi. Fisiografi yang mencakup ketiga objek studi itu sangat berkembang di Kontinen Eropa. Geomorfologi yang mempelajari tentang landform itu termasuk sebagai salah satu cabang dari Fisiografi. Akan tetapi di Amerika dengan perkembangan Meteorologi (studi tentang atmosphere) dan Hidrologi (ilmu tentang air) yang pesat, menyebabkan objek studi Fisiografi menjadi lebih terbatas, yaitu pada land form saja. Karena itu di Amerika istilah Fisiografi identik dengan Geomorfologi.

  1. Geologi (Geology), mempunyai objek studi yang lebih luas dari geomorfologi, karena meliputi seluruh kerak bumi, sedangkan geomorfologi hanya membicarakan permukaan dari pada kerak bumi (surface features of the earth’s crust). Karena itu pula geomorfologi itu dianggap sebagai cabang dari geologi kemudian dalam sejarah perkembangannya geomorfologi menjadi suatu disiplin tersendiri, terlepas dari geologi setelah V.N. DAVIS berhasil dalam penelitiannya di Applachian Mtc.

Geologi struktur dan geologi dinamika adalah cabang-cabang geologi yang sangat membantu dalam geomorfologi. Dengan geologi dinamika dapat membantu untuk menerangkan evolusi permukaan bumi. Sedangkan geologi struktur membantu dalam menerangkan jenis-jenis struktur land form, yang banyak-banyak dicerminkan oleh struktur geologinya. Karena itu untuk mempelajari geomorfologi terlebih dulu dibutuhkan adanya pengetahuan dasar geologi.

  1. Meteorologi dan Klimatologi (Meteorology and Climatology), yang mempelajari keadaan fisik dari atmosphere dan iklim mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung atau permukaan bumi. Pekerjaan udara (seperti angin, listrik angin, temperatur udara dsb) dan pengaruh iklim dapat membawa perubahan-perubahan yang besar atas struktur land form yang telah terbentuk. Karena itu untuk mempelajari perubahan-perubahan bumi, diperlukan bantuan dari ilmu-ilmu tentang atmosphere ini. Atas dasar itu pula timbulnya sub disiplin baru geomorfologi, yaitu “Climatic-Geomorphology” atau geomorfologi iklim. Dimana bentuk-bentuk pada permukaan bumi diterangkan dengan berlatar belakang pada iklim sebagai faktor penyebabnya.

  1. Hidrologi (Hidrology) sebagai ilmu pengetahuan tentang air di bumi (the science of the waters of the earth), termasuk sungai-sungai, danau-danau, laut dan iar tanah, juga merupakan pembantu dalam pembahasan geomorfologi.

Sama halnya dengan atmosphere, air dapat menyebabkan perubahan-perubahan atas land form yang sudah ada dan dapat meninggalkan bekas-bekasnya.

  1. Geografi (Geograpy) mempunyai objek studi yang lebih luas dari pada geomorfologi, sebab mencakup aspek-aspek fisik dan sosial dari pada permukaan bumi. Sedangkan geomorfologi menekankan pada bentuk-bentuk yang terdapat pada permukaan bumi. Geografi yang menekankan tinjauannya pada “Space Criented” dapat menunjukkan dimana dan bagaimana penyebaran dari pada struktur land form serta mengapa penjabarannya demikian. Mengingat sifat dari geografi yang “Anthropocentris”, dan dalam hubungannya dengan studi geomorfologi, maka muncullah suatu sub disiplin : “Geography of land form”. Dimana didalamnya sudah mencakup, bagaimana meng-appliedkan setiap jenis-jenis land form untuk aktivitas dan kehidupan manusia. Dengan kata lain dapat menjalin suatu hubungan timbal balik antara manusia dengan land form yang ada.

BAB III

BEBERAPA PRINSIP DASAR GEOMORFOLOGI

Untuk memberikan interpretasi dan uraian yang tepat atas land form yang ada sekarang diperlukan adanya pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau konsepsi-konsepsi, dasar dari geomorfologi. Fundamental konsep inilah yang terlebih dahulu harus dipelajari sebelum masuk kedalam inti pelajaran Geomorfologi.

Konsepsi dasar itu antara lain :

  1. Prinsip Uniforitarisma (the principle of Uniformitarianism)

Yang mengatakan bahwa segala gejala-gejala alam besar sekarang, terjadi dengan jalan yang lambat dan proses bersambungan serangan dengan proses-proses yang kini sedang berlaku. Prinsip ini dikemukakan oleh HUTTON (1785), kemudian dilanjutkan oleh PLAYPAIR (1602) dan lebih dipopulerkan oleh LYELL (1830). Dalam beberapa edisinya tentang “Principles of Geology”. Nutten mengemukakan semboyan “the present is the key to the past”[4]. Maksudnya hukum-hukum alam sekarang, berlaku juga untuk mana yang lalu.

Sebenarnya prinsip ini pada mulanya merupakan prinsip dasar dari geologi modern. Akan tetapi, juga menjadi prinsip dasar geomorfologi mengingat adanya hubungan yang erat anatara kedua ilmu itu. Sebagai contoh penggunaan prinsip ini dalam geomorfologi, dapat disebutkan, bahwa “Karst Region” yang ada sekarang, seperti di Pantai Selatan Jawa, Maros, Jugeslavic, Cuba dsb tidaklah muncul denga tiba-tiba, tetapi telah melalaui suatu evolusi yang panjang sampai mencapai bentuknya yang sekarang ini. Bahwa evolusi ini masih berlangsung terus dan akan tetap berlangsung terus.

Yang bertentangan dengan prinsip uniformitarism ini ialah teori malapetaka (“Cataclysnist theory” atau “Catastrephic theory), yang mengatakan bahwa perubahan muka bumi serta bentuk-bentuk yang terdapat diatasnya, itu terjadi sekaligus, secara tiba-tiba, tidak secara evolusi. Teori malapetaka ini tidak laku lagi bagi geologi dan geomorfologi, sejak keluarnya prinsip uniformitarism.

  1. Struktur geologi adalah faktor penting dalam evolusi dari bentuk muka bumi (land form) dan struktur itu terlukiskan pada muka bumi.

“Geologie structure is a deminant control factor in the evolution of land forms and is reflected in them”[5].

Struktur geologi itu memberi pengaruh atas pembentukan struktur land forms, misalnya:

  • Struktur berlapis yang horizontal (struktur geologi), memberi pengaruh atas terbentuknya struktur land form, yang disebut “Plain”, kalau reliefnya rendah dan “Plateau”, kalau reliefnya tinggi.
  • Struktur lipatan (folded structure) memberi pengaruh atas bentuk muka bumi, yaitu terbentuknya land form yang disebut “Folded Fountains”.
  1. Berbagai proses geomorfologi meninggalkan bekas yang berbeda-beda.

“Geomorphic processec leave their distinetive imprint upon land forms, and each geomorphic procese develops its own characteristic assemblage of land forms”[6].

Proses geomorfologi adalah segala pengaruh pekerjaan fisic dan kimiawi yang menyebabkan permukaan bumi mengalami perubahan.

  1. Dalam perkembangan land forms terdapat berbagai tingkatan (stadia), sebagai akibat dari pekerjaan erosi di atas muka bumi.

“As the different orocional ogencies act upen the earth’s surface there is produced a sequence of land forms having distinetive characteristics at the succesive stages of their development”[7]. Yang pertama-tama mengemukakan adalah tingkatan (stadia) ialah itu,  W.B. DAVIS. Davis menamakannya “Geographic cycle”[8]. Kemudian oleh LAWSON disebutnya“Geographic cycle”[9]. Akhir-akhir ini lebih dikenal dengan nama “Devisian cycle”[10], sebagai penghargaan dari geomorfolog abad sekarang ini atas jasa-jasa W.B. DAVIS.

Menurut Davis dikenal 4 stadia (stages), yaitu :   (a) Initial, (b) Youth, (c) Naturity, dan (d) Old Age. Tiap-tiap tingkatan itu, biasanya dibagi lagi atas beberapa bagian, misalnya “Maturity stages” dibagi menjadi : early Mature, Mature, dan Late Mature.

Yang dimaksud dengan stadia (stages) ini, bukan usia dalam tahun, melainkan sifat-sifat karakteristik yang dimiliki oleh tiap-tiap land form.

  1. Bentuk-bentuk muka bumi kebanyakan mengalami evolusi yang kompleks dari pada yang sederhana.

“Complexity of geomorphic evolution is more common than cimplicity”[11].

Land form yang ada sekarang sebahagian besar merupakan hasil dari beberapa proses dan siklus geomorfologi. Jarang didapatkan perubahan bumi yang baru mengalami satu proses dan satu siklus.

HORBERG (1958) mengemukakan 4 jenis landscapes yaitu:

  1. Simple landscapes, dihasilkan oleh satu proses geomorfologi
  2. Compound landscapes, dihasilkan oleh beberapa proses geomorfologi
  3. Konocyclic landscapes, hanya mengalami satu siklus erosi
  4. Multicyclic landscapes, mengalami satu siklus erosi
  5. Exhumed atau Resurrected Landscapes, terjadi pada suatu waktu yang telah lalu, kemudian telah mengalami penutupan oleh pengendapan, dan akhirnya bentuk mula-mula muncul kembali karena penutupnya telah hilang oleh erosi.
  1. Topografi muka bumi sekarang, kebanyakan terbentuk pada masa Pleistocene, jarang terbentuk pada masa sebelumnya.

“Little of earth’s tophography is older than Tertiary and most of it no older than Pleistocene”[12].

  1. Interpretasi yang tepat mengenai landscape yang ada sekarang, tidak mungkin dibuat setepat-tepatnya tanpa memperhatikan perubahan iklim dan geologi pada masa Pleistocene.

“Preper interpretation of present-day landscapes is impossible without will a full approciation of the manifold influenced of the geologie and climatic chages during the Pleistocene”.[13]

  1. Pengetahuan tentang iklim adalah perlu untuk mengetahuisebagai proses geomorfologi. Dimana iklim menjadi pengaruh langsung dan tidak langsung atas proses geomorfologi.

“An appreciation of world climatic is necessery to a preper understanding of the varying importance of different geomorphic processes”[14].

Karena pentingnya iklim dalam menerangkan landscapes, maka muncullah sub disiplin baru, yaitu “Climatic Geomorphology”.

  1. Geomorfologi, meskipun terutama mempelajari landscape yang ada sekarang, tetapi juga mempunyai kepentingan pada masa lalu, karena itu terpaksa harus kembali pada zaman-zaman geologi yang telah lalu. Dengan demikian “Historical-Approach” memegang peranan pula dalam studi geomorfologi. Aplikasi dari prinsip-prinsip uniforitarism tidak terlepas dari Historical Approach.

Aspek-aspek geomorfologi dahulu kala dapat dipelajari dalam “Paleomorphology”[15].

Kesembilan konsepsi unsur diatas hendaknya menjadi pengetahuan dasar untuk membahas lebih mendalam geomorfologi sesuatu daerah. Tentu saja tidak selamanya, konsepsi-konsepsi dasar itu secara keseluruhannya dapat diaplikasikan untuk sesuatu geomorphic unit. Mungkin hanya beberapa diantaranya yang dapat dipakai.

BAB IV

RELIEF  BUMI

Relief yang dimaksudkan disini mencakup suatu pengertian yang luas, baik yang terdapat diatas benua-benua maupun yang terdapat didasar laut. Berdasarkan atas pengertian yang luas itu, relief bumi dapat dikelompokkan atas 3 golongan besar, yaitu :

  1. Relief Ordo I (Relief of the first order)
  2. Relief Ordo II (Relief of the second order)
  3. Relief Ordo IV (Relief of the third order)

Pengelompokan atas ketiga jenis relief diatas didasarkan pula atas kejadiannya masing-masing. Karena itu pula didalamnya terkandung unsur waktu relatif.

  1. Relief orde pertama

Yang terdiri atas continental plat forms dan ocean basing. Bentuk-bentuk dari orde pertama ini mengambil tempat yang terluas diatas muka  bumi.

Luas daratan dan air seluruhnya 107.000.000 mil persegi, yaitu continents seluas 56.000.000 mil persegi dan sisanya 10.000.000 mil persegi merupakan continental shelf. Yang dimaksud dengan continental plat forms  meliputi continental dan continental shelf. Menjadi luas seluruh continental plat forms adalah 66.000.000 mil persegi.[16]

Continental plat forms Amerika Utara & Selatan, Eurasia, Afrika, Australia, dan Antartika merupakab bahagian-bahagian yang tertinggi dari permukaan lithosphere.

Continental shelves adalah bagian dari continental plat forms yang terletak dibawah muka laut.Ocean Basin mempunyai kedalaman rata-rata 2,5 mil dibawah muka laut. Walaupun demikian,  dasar laut mempunyai topografi yang sangat tidak teratur. Terdapat banyak depressi-depressi yang sangat dalam dari batas kedalaman rata-rata yang dikenal sebagai “Ocean Troughs” : disamping itu terdapat pula bagian-bagian dasar laut yang muncul tiba-tiba ataukah secara bergradasi mendekati muka laut.

Kejadian dari relief orde pertama ini, sangat erat hubungannya dengan kejadian bumi. Dimana tercakup kedalamannya teori-teori geologi, astronomi, fisika dan matematika, seperti misalnya “Planetesimal Hypethesis”, “Liquid Earth Theories” maupun “Continental Drift Theory”. (baca kuliah-kuliah lalu tentang teori ini).

  1. Relief orde kedua

Biasa pula disebut “Constructional forms”, sebab relief ini dibentuk oleh tenaga dari dalam sebagai “Constructional Forces”.

Daerah contient dan ocean basin merupakan tempat berdirinya atau terbentuknya kesatuan-kesatuan relief dari orde kedua ini, seperti plain, plateau, dan mountains.

“Diastrophisn” yang mengakibatkan semua macam gerakan defereasi (perubahan forhasi) dapat berupa :

  1. “Spirogenetic” (bahasa Greek : epiros = benua), jika macam gerakannya meliputi daerah yang luas dan sangat perlahan-lahan. Term ini dimaksudkan sebagai tenaga pembentuk benua “continent buiding forces”.
  2. “Orogenetic” (bahasa Greek : Oros = gunung), jika macam gerakannya meliputi daerah yang luas dan sangat cepat. Term ini dimaksudkan sebagai tenaga pembentuk pegunungan “mountain building forces”.

Kedua gerakan tersebut menyebabkan terbentuknya “contractional land forms”.[17]

Suatu daerah yang mempunyai formasi batuan (lapisan-lapisan) yang horizontal, akan membentuk suatu land forms yang disebut : Plain ataukah Plateau (Gbr. No. 1 A). lapisan batuan dari daerah seperti ini adalah sederhana, dimana bodinya telah terangkat dan dasar laut oleh tenaga-tenaga dari dalam.

Kelompok lainnya adalah “mountains”. Struktur batuan yang sederhana dirubah bentuknya. Jika lapisan batuan sedimen dilekukkan keatas akan menghasilkan suatu “Dome” (kubah) yang lebih tinggi daripada daerah sekelilingnya, disebut “Dome Mountain” (Gbr. No. 1 B) jika kerak bumi pecah atau patah menjadi blok yang diikuti oleh deslocation, elevation, dan tilting akan menghasilkan “Block Mountains” (Gbr. No. 1 C). Jika batuan sedimen mendapat tekanan yang arahnya horizontal menghasilkan “Folded Mountains” (Gbr. No. 1 B). Yang terakhir merupakan kombinasi dari bermacam-macam gangguan, menghasilkan “Complex Mountain” (Gbr. No. 1 E).

Kelompok terakhir dari relief orde kedua, yaitu yang  dihasilkan oleh Volcanic activity, yang disebut “Volcanic forms” (Gbr. No. 1 F).

Batuan relief orde kedua, yang dibicarakan diatas, semuanya masih berada pada tingkat permulaan (Initial Stage), masih kurang atau belum mempunyai detail. Nanti sesudah mengalami tenaga-tenaga perusak “destructional forces” barulah bentuk-bentuk tersebut memperoleh elemen-elemen yang lebih detail dan lebih ruwet.

gambar
  1. Relief orde ketiga

Biasa disebut “Destructional forms” sebab relief ini di bentuk oleh tenaga-tenaga perusak atau tenaga-tenaga dari luar, “Destructional Forces”.

Sejumlah besar bentuk-bentuk detail dari permukaan bumi berada pada relief orde ketiga ini. Mereka ini adalah bentuk-bentuk kecil, yang sekarang tak terhitung banyaknya, yang memperindah dan menghiasi bentuk-bentuk konstruktionil dari relief orde kedua.

Tenaga perusak itu selama dan sesudah melakukan operasinya, akan meninggalkan bentukan-bentukan erosi (erosional forms), didalam bentuk seperti : Valleys dan Canyens, meninggalkan bekas-bekas (residual forms) didalam bentuk peaks dan summits yang tidak dapat lagi dirusakkannya. Disamping itu akan meninggalkan bentuk-bentuk pengendapan (depesitional forms), berupa delta-delta dan mqraine-mqraine.

Relief orde ketiga ini dapat digolongkan menurut tenaga-tenaga perusak atau agent-agent yang menghasilkannya. Ada 4 agent yang utama, yaitu Streams, Glaciers, Wavws dan Winds. Sedangkan Wheatering adalah pembantu utama bagi keempat agent tersebut.

  • Bentuk-bentuk yang dihasilkan oleh stream yaitu:
  1. Erosional forms, seperti : gallies, valleys, gorges dan canyons.
  2. Residual forms, seperti : peaks, ronadrocks, summits areas.
  3. Depositional forms seperti : alluvial forms, flood plains and deltas (Gbr. No. 2 A).
  • Bentuk yang diciptakan oleh Glaciers yaitu :
  1. Erosional forms, seperti : cirques, glacial trought
  2. Residual forms, seperti : Patterhorn – peaks, Aretes, Roche Eontounees
  3. Depositional forms seperti : Deraine, Drumlins, Kame dan Esker. (Gbr. No. 2 E).
  • Bentuk yang diciptakan oleh Waves yaitu :
  1. Erosional forms, seperti : erode sea caves
  2. Residual forms, seperti : staoks & Arches
  3. Depositional forms seperti :beaches, bars & spits (Gbr. No. 2 C ).
  • Bentuk yang diciptakan oleh Winds yaitu :
  1. Erosional forms, seperti : blow holes pada daerah-daerah yang berpasir
  2. Residual forms, seperti : pedestal dan mushroom rocks.
  3. Depositional forms seperti :endapan pasir atau lempung dalam bentuk dunes atau luess[18]. (Gbr.No.2 D).

Selain tenaga-tenaga perusak yang bersifat fisic itu, juga organisme-organisme tertentu dapat menjadi agent yang cenderung merusakkan batuan-batuan permukaan bumi.

Sebaiknya aktivitas depositionalnya menghasilkan bentuk-bentuk seperti : Coral – reefs dan aat – hills.

Dapat disimpulkan, bahwa waktu terbentuknya ketiga relief itu berbeda-beda. Relief bentuk pertama terbentuk lebih dulu dari pada relief orde kedua dan relief orde kedua terbentuk lebih dulu dari pada relief orde ketiga.

Istilah lainnya yang dapat dipakai untuk menunjukkan ketiga jenis relief itu, adalah istilah yang digunakan oleh NORMAH E.A. MINDS, yaitu :

  1. Prinary Relief,
  2. Hypegene Relief, dan
  3. Epigeno Relief[19].

Penggunaan istilah Hypegene pada relief orde kedua adalah sesuai dengan tenaga pembentuknya, yaitu tenaga dari dalam. Begitu pula istilah epigene pada relief orde ketiga adalah identik dengan tenaga dari luar.

BAB V

STRUKTUR, PROSES DAN STADIA

Struktur, proses dan stadia merupakan factor-faktor penting dalam pembahasan geomorfologi. Pembahasan sesuatu daerah tidaklah lengkap kalau salah satu diantaranya tidak dikemukakan (diabaikan).

Pada pembahasan terdahulu, telah dikemukakan ketiga factor itu sebagai prinsip-prinsip dasar geomorfologi. Sedangkan pada bahagian ini akan lebih diperjelas lagi, bagaimana arti dan kedudukan ketiga factor ini dalam studi geomorfologi.

STRUKTUR

struktur suatu daerah haruslebih dulu dimengerti dalam mempelajari land forms. Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa struktur geologi adalah factor penting dalam evolusi land forms dan struktur itu terlukiskan pada muka bumi, maka jelas bahwa land forms sesuatu daerah itu dijiwai oleh struktur geologinya.

Beberapa pengertian struktur :

  1. Menurut P.G. VONCESTER : “structure has to do with the position or arrangement of the rocks of the earth”.[20]

Jadi Worcester menekankan pada posisi atau tata susunan dari batuan-batuan dibumi.

  1. Menurut NORMAH E. A. HINDS : “by structure is meant the arrangement in the visible part of the bodies of rock which comprizo it”.[21]

Pengertian ini tidak berbeda prinsip dengan yang dikemukakan oleh Worcester.

  1. W.D. THORNBURY memberikan pengertian yang lebih luas.

The term structure as it is used in geomorphology is not applied in the narrow sense of such rock features as felds, faults, and unconfornities but it includes all these ways in which the earth materials out of which land forms are carved differ from one another in their physical and chemical at tributes.[22]

Selain dari itu termasuk pula : sifat-sifat batuan, ada tidaknya rekah-rekah, ada tidaknya bidang lapisan, patahan, kegemburan, mudah tidaknya diresapi air dan lain-lain yang membedakan batuan yang satu dengan yang lain.

Lebih lanjut THORBURY mengemukakan, bahwa :

The term structure also has stratigraphic implicaticas, and knowledge of the structure of a region implies an appreciation of rock sequence, both in outcrop and in the subsurface , as well as the regional relation ships of the rock strata.[23]

Jadi menurut THORBURY, bahwa pengertian struktur untuk geomorfologi adalah lebis luas.

  1. A.K. LOBECK membedakan antara “Struktur geologi” dan Struktur Land Form”

Beberapa istilah struktur geologi       :  Horisontal structure, dome structure, faulted structure, folded structure, complex structure & volcanic structure.

Beberapa istilah struktur land form   :  Plain atau plateau dome mountain, Block mountain, Folded mountain, Complex mountain & Volcano.[24]

  1. Karena struktur land form itu sangat ditentukan oleh struktur geologinya, dimana struktur geologi itu dibentuk langsung oleh tenaga-tenaga dari dalam, yang disebut constructional forces, maka struktur land form dapat diartikan sebagai : bentuk permukaan tanah yang konstruksionil (constructional land form) yang dibuktikan oleh tenaga geologis yang datangnya dari dalam.

Misalnya : dataran plateau, peg. Patahan, peg. Lipatan, g. api.

Beberapa klassifikasi struktur :

Each structure may Be varying  resis-tance within it mass.

W. N. DAVIS (1924) membagi struktur atas 4 jenis.

-    Approximately horizontal

-    Boderately inelined

1.  Layered                    –    Steeply inelined and faulted

Structures                 –    Moderately or greatly warped

-    Folded (moderately or strougly,

Regularly or complexly, etc.

Crystaline or metamorphosed masses commenly of

nearly uniform resistance, so that drainage is chiefly

2.  Massive                    consequent or insequent; but in some instances

Structure                  of differing resistance so that a subsequent pattern

of drainage may be developed.

3. Combined                 Massive and layered structures asseciated in all imposible

Structures                 relationship.

  1. Volcanic                  Cones, ash fields, lava fields or narrow area or

Structures                widespread axtesion.[25]

VON ENGELN membuat klassifikasi struktur atas dua golongan besar, yaitu :

I   Simple structures (struktur sederhana)

II  Diserdered structures (struktur rumit)

Tiap golongan struktur itu dibaginya lagi atas group-group yang didasarkan atas sifat dan jenis batuannya. Untuk jelasnya dibawah ini dikemukakan bagan/ikhtisar dari klasifikasinya sebagai berikut :

  1. I. Simple structures

Group A.      In General unconselidated ( ? ) sediments

  1. Coastal palins
  2. Piedment plains
  3. Tundra plains
  4. Fluvial, Iacustrine, and deltaic plains
  5. Desert erg or Koum areas
  6. Glasial palins (till and out wash)
  7. Loessial palins

Group B.      Consolidated rocks

  1. Interior plateau
  2. Open basins with centripental dips (nested saucers)
  3. Lava flow plains and plateaus
  4. Volcanic Cones

Group C.      Consilidated rocks – Limestone Compesition

  1. Karst Units
  2. Coral Islands
  1. II. Diserdered Structures

Group D.             –     Fold and fault structures

-          Consolidated rocks

-          Commenly composed of or involving sedimentaries

  1. Dome Uplift :

-          Type (a) Iaccolithic

-          Type (b) deep – sea ted (batholithic)

  1. Fold Mountains

-          Type (a) simple folds

-          Type (b) overfolded, nappes, thrusct.

  1. Fault – Block Mountains

Group E             –     Shield units – Ancient rigit masses

-         Ketamorphic and igreous rocks

-         Plain : plateau, mountain topography

-          Long erosional history.

  1. Ancient igaseus masses and metamorphic shields
  2. Peneplaned sediments and metamorphic
  3. Continental glasiers.[26]

Daerah-daerah yang mempunyai kesatuan struktur yang sama disebut “Geomorphic Unit”. “By definition each such” geomorphic – unit” will have uniformity of structure within its confines”.[27]

Istilah yang hampir sama dengan Geomorphic Unit, yaitu “Physiographic prevince”. Propinsi fisiografi ini, disamping ditentukan oleh kesatuan struktur, juga ditentukan oleh adanya persamaan sejarah hidup dari unit-unit geomorfologi itu. Dimana latar belakang iklim besar peranannya dalam pembentukan propinsi fisiografis.

A physiographic province is a region that has unit structure, any specffied kind, and unit geographic history. It has further, a particular climatic background.[28]

A.K. LOBECK membagi struktur land forms dua golongan besar, sebagai berikut :

I.     Simple structures (struktur sederhana)

a.     Plains (Slow relief)

b.    Plateau (High Relief)

II.   Disturbed Structures (stuktur yang terganggu), terdiri atas :

  1. Demo mountains
  2. Feadted mountains (Block mountains)
  3. Folted mountains
  4. Complex mountains
  5. Veleacees.[29]

Dari jenis-jenis struktur yang ditentukan dari klasifikasi-klasifikasi tersebut diatas, dapat diaplikasikan bagi setiap bagian dari muka bumi ini.

Segi-segi kepraktisan, hendaknya dipertimbangkan dalam menerapkan struktur-struktur tersebut pada bagian-bagian muka bumi tertentu. Dalam studi geomorfologi Regional faktor struktur sangat penting, sebab regionalisasi diadakan berdasarkan geomorphic unitnya. Sedang geomorphic unit ditentukan oleh faktor strukturnya.

PROSES

Menurut W. D. TRUNBURY, bahwa proses geomorfologi ialah semua perubahan fisic dan kimiawi yang berpengaruh pad bentuk permukaan bumi. Perubahan-perubahan mana dapat disebabkan oleh proses-proses yang terjadi diluar atau didalam kerak bumi.

“The geomorphic processes are all those physical and chemical changes which effect a modification of the earth’s surficial form ………… and the processes performed by them originate out side the earth’s crust, …………………………….. other geomorphic processes have their origin within the earth’s crust …….[30]

Proses-proses yang terjadi diluar kerak bumi oleh LANSEN disebut “Epigene” dan oleh PENCK disebut “Exogonous”. Sedangkan proses-proses yang terjadi didalam kerak bumi oleh LANSEN disebut “Eypogene” dan oleh PENCK disebut “Endogenous”.[31]

W. D. TRUNBURY membuat out line dari geomorphic processes sebagai berikut :

OUT LINE

GEOMORPHIC PROCESSES

  • Epigene or Exogenous prosesses :

-          Gradation

-          Degradation

-          Weathering

-          Nass wasting or gravitative transfer

-          Erosion (including transportation) by :

  • Running water
  • Ground water
  • Waves, Currents, tides and tsunami
  • Wind
  • Glaciers

-          Agradation by :

-          Running water

-          Ground water

-          Waves, Currents, tides and tsunami

-          Wind

-          Glaciers

-          Work of orgnisms, including man

  • Hypogene or Endogeneous processes :

-          Diastrephism

-          Vulcanism

  • Extraterrestrial processes :

-          Infall of meteorites.[32]

Kalau dibandingkan dengan pendapat ahli lain seperti WORCESTER,LOBECK, G.N. DURY terdapat sedikit perbedaan interpretasi dalam memberikan pengertian atau ”Geomorphic Processes” yang telah ditanamkan oleh W. H. DAVIS. Kelompok yang terakhir disebutkan diatas lebih menekankan arti processes itu, semata-mata yang menjadi oleh tenaga-tenaga diluar erak bumi. Jadi semata-mata pada exegeneous atau epigene processes saja.

Menurut WORCERTER “Proces refers to the agents of erosion, such as wind, streams, glaciers and waves that seulpture the land surfaces”.[33]

Jadi WORCESTER menekankan proses itu pada agents erosi saja, seperti angin, sungai gletser dan gelombang.

Menurut LOBECK, “………….. the processes employed to modify the original form. What destructive forces have been that work there?”.[34]

Jadi menurut LOBECK bahwa prose itu dapat memberikan model pada bentuk yang mula-mula. Beliau mengemukakan satu kalimat tanya, yang menyatakan, bahwa apakah tenaga-tenaga perusak yang bekerja dinisi?. Pertanyaan ini dijawabnya sendiri dengan mengatakan, seperti : “ dissected by streams”, “glaciated”, “wind-eroded” atau “attacked by waves”. [35]

Jelas disini bahwa WORCESTER dan LOBECK tidak melibatkan tenaga-tenaga atau proses-proses dari dalam untuk memberikan pengertian atas proses itu.

Penyusun sendiri setuju dengan pengertian “Geomorphic Processes” yang yang semata-mata dijiwai leh tenaga-tenaga/proses dari luar, dengan 2 alasan yaitu :

  1. Tenaga-tenaga/proses dari dalam lebih cenderung untuk membentuk “structure” seperti pembentukan plain, plateau, dome mountain, folded mountain, block mountain, complex mountains dan Volcanoes.
  2. Tenaga-tenaga/proses dari luar cenderung merubah bentuk atau struktur land form mual-mula dengan gaya merusak yang dimilikinya masing-masing.

Gaya merusak inilah yang menyebabkan adanya tingkatan-tingkatan atau “stages” pada setiap jenis land form. Stadia atau stage tidak disebabkan oleh tenaga-tenaga dari dalam, seperti diastrophism atau vulcanism.

Tak dapat disangkal, bahwa memang kedua tenaga itu, yang disebut juga internal prosesses dan external prosesses mempunyai  pengaruh yang dominan dalam pembentukan suatu land form yang spesifik diatas muka bumi ini, karena itu pulalah, sejarah genetis A.K. LOBECK membagi land scapes atas dua golongan besar yaitu :

  1. Constructional landscapes, yaitu semua land scapes yang terbentuk langsung akibat tenaga-tenaga dari dalam (tenaga-tenaga luar belum bekerja disini, jadi masih berada pada tingkat initial).
  2. 2. Destructional landscapes, yaitu semua landscapes yang terbentuk akibat tenaga-tenaga dari luar pada golongan landscapes yang pertama diatas, sehingga terjadi bentuk-bentuk erosi, residu dan sedimentasi. (Lihat bagan klasifikasi lanscapes secara genetis pada halaman berikut).

Jadi yang dimaksudkan dengan proses disini, ialah semua tenaga-tenaga yang menjadi perantara dalam perusakan (perombakan) struktur land form mula-mula, sehingga memberi kemungkinan bagi land form itu mengalami tingkat-tingkat Youth, uaturity dan old age.

Proses itu, terdiri atas : Streams (atau proses pluvial), Glaciers, Waves dan Wind. Keempatnya  disebut juga “Mobile agents” karena mereka dapat mengikis dan mengangkat material-material bumi dan kemudian mengendapkannya pada tempat-tempat tertentu. Sering juga dipakai istilah : “Geomorphic Agents”.

STADIA

Akhirnya adalah perlu untuk menyatakan bagaimana jauhnya perusakan yang telah terjadi. Hal ini dinyatakan dalam stage of development yang dicapai “……………….. how far the work of destruction has gone, that is, the stage of development reached”.[36]

Untuk stadia yang dicapai digunakan istilah : (1) Young atau Youthful, (2) naturity dan (3) Old age. Tiap-tiap tingkatan dalam geomorfologi itu ditandai oleh sifat-sifat tertentu yang spesifik, bukan ditentukan dengan usia dalam tahun. (Perhatikan gbr. No. 3).

C L A S S I F I C A T I O N   OF   L A N D S C A P A E S

I C O M S T R U C T I O N A L

S T U R T U R E

P R O S E S

S T A G E

G E O L  O G Y

LAND FORM

DESTRUCTIVE FORCE

YOUNG

NATURE

OLD

SIMPLE

HORIZONTAL

P L A I N

Low Relief

S T R E  A M  S

G L A C I E R  S

W A V E S

W I N D

YOUNG

Plain

NATURE

Plain

OLD

Plain

HORIZONTAL

PLATEAU

High Relief

YOUNG

Plateau

NATURE

Plateau

OLD

Plateau

D I S T U R B E D

DOME

D O M E

Mountains

YOUNG

Dome Mo-untain

NATURE

Dome Mo-untain

OLD

Dome Mo-untain

FAUITED

BLOCK

Mountains

YOUNG

Block Mo-untains

NATURE

Block Mo-untains

OLD

Block Mo-untains

FOLDED

FOLDED

Mountains

YOUNG

Folded Mountains

NATURE

Folded Mountains

OLD

Folded Mountains

COMPLEX

COMPLEX

Mountains

YOUNG

Complex

Mountains

NATURE

Complex

Mountains

OLD

Complex

Mountains

VOLCANIC

VOLCANOES

YOUNG

Volcano

NATURE

Volcano

OLD

Volcano

II    D E S T R U C T I O N A L

F O R C E

E R O S I O N A L

(Erosi)

R E S I D U A L

(Peningalan Bekas)

DEPOSITIONAL

(Pengendapan)

WEATHERING

Holes, Pits

Exfolation Domes

Talus Cones,

Lands Lides

STREAMS

Valleys

Canyons

Mountains

Divides

Deltas

Alluvial Fans Flood Plains

GLACIERS

Cirques

Glacical Troughs

Patterhorn Peaks

Ar  ete

Noraines Drumnlins Eskers

WAVES

Sea Caves

Clefts

Plat forms

Cliffed Mead Lands

Bars Beaches

WINDS

Blow Holes

Rock Pedastals

Dunes Loss

ORGANISMS

Burrows

Coral reefs Ant hills

KLASIFIKASI LAND FORM SECARA GENETIS (menurut A.K.LOBECK).

Sehubungan dengan stadia ini dikenal adanya “Geomorphic cycle” yang pada mulanya ditanamkan oleh W.N. DAVIS dengan istilah Geomorphic cycle (lihat beberapa prinsip dasar Geomorpologi).

Cycle (siklus) diartikan sebagai suatu peristiwa yang mempunyai gejala yang berlangsung terus (continue), dimana gejala yang pertama sama dengan gejala yang terakhir.

Misalnya :

es kalau cair jadi air

air kalau beku jadi es

es kalau cair jadi air, dst.

Geomorphic cycle (siklus geomorfologi) dapat diartikan sebagai rangkaian gejala geomorfologi yang sifatnya continue.

Misalnya :

Suatu landscapes disebut mengalami satu siklus geomorfologi apabila telah melalui stages of development : Youth, maturity dan old age.

Stadium old age dapat kembali menjadi youth apabila terjadi rejuvenation (peremajaan) atas land form itu. (sebab – sebab terjadinya rejuvenation akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya). Dengan dimulainya kembali stadium youth, berarti pula siklus geomorfologi yang kedua mulai berlangsung. Untuk ini dipakai formula n + 1 cycle, dimana n adalah jumlah siklus yang mendahului dari satu siklus yang terakhir.[37]

Istilah lain yang sering dipakai untuk hal yang sama dengan geomorphic cycle ialah “cycle of erosien”. Dengan adanya kemungkinan terjadi beberapa siklus geomorfologi, maka dikenal pula istilah : the first cycle of erosien, the second cycle of erosien, the third cycle of erosien, etc.

Misalnya suatu plateau yang mencapai tingkat dewasa pada siklus yang kedua, maka disebut : maturely dissected plateau in the second cycle of erosien.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih sederhana tentang : struktur, proses dan stadia, dibawah ini dikemukakan contoh penggunaannya.

Contoh 1   :    –    Volcano (struktur)

-    Stream dissected (proses)

(sungai banyak mengalami pengikisan)

-    Mature (stage)

Contoh 2   :    –    plain (struktur)

-    glaciaton (proses)

-    old age (stage)

Contoh 3   :    –    coastal plain (struktur)

-    attacked by waves (proses)

-    sub mature (stage)

etc.–

…………………….ooOoo…………………….

DAFTAR PUSTAKA

COTTON, C.A., Landscape, as developed by the processes of normal erosien, Cambridge University Press, London, Whitcombe and Tombs Ltd, Australia and New Zealand, 1947.

DURY, GEORGE H., Perspektives on Geomorphic Processes, Resourse Paper No. 3, AAG, Washington, D.C, 1969.

ENGELEN, O.D. VAN., Geomorphology, Systematic and Regional, The Ne Nillan Company, New York, 1960.

NENDS, NORMAN E.A., Geomorphology, The Evolution of Landscape, Prentice Hall, Inc, New York, 1943.

LOBECK, A.K., Geomorphology, An Introduction to the study of Landscapes, Mc Graw Hill Book Company, Inc, New York, 1939.

THORIBURY, W.D., Principles of Geomorphology, John Wiley & Sons, Inc, New York, 1954.

VERSTAPPEN, N.Th., Geomorfologi, Gaja dan Proses, Balai Pendidikan Guru, Bandung.

WORCESTER, PHILIP G., A Text Book of Geomorphology, D. Van Nordstrand Coy, Inc, Princeton, New Jersey, New York, 1968.

………………….ooo0O0ooo………………….


[1] W.D. THORIBURY, Principles of geomorphology, John Wiley & Sons, Inc, New York & London, 1954, hal. 1

[2] W.D. THORIBURY, Lae Cit.

[3] A.K. LOBECK, Geomorphology, An Introduction to the study of Landscepes, Ne Graw Hill Book, Coy, Inc, New York & London, 1939, halaman judul, V.

[4] W.D. THORBURY., Op Cit, Hal. 16

[5] i b i d. Hal. 17.

[6] i b i d., hal. 19

[7] i b i d., hal. 20

[8] VON ENGELN, Geomorphology, systematic and regional, the lacmilan company, new  york, hal 79

[9] VON ENGELN, Lac Cit.

[10] GEORGE N. DURY., Perspectives on Geomorphic Processes Association of American Geographers, Resource Paper No. 3, Wasington, 1969, hal. 4.

[11] W.D.THORBURY., Op Cit, hal. 21.

[12] i b i d, hal. 26.

[13] i b i d, hal. 27.

[14] i b i d, hal. 28.

[15] i b i d, hal. 31.

[16] Disarikan dari P.G. WERCETER., A Text book of Geomorphology, D. Van Hastrand Company, Inc, New York, 1948 hal. 14-18.

[17] Disarikan dari A.K. BOBECK., Geomorphology, An Introduction to the study of Landscapes, Mc Graw Will Book Cay, Inc, New York & London, 1939, hal. 7.

[18] i b i d, hal. 8 – 9.

[19] NORMAH E.A. MINDS, Geomorphology, the evolution of landscape., Prentice Hall, Inc, New York, 1943, hal. 106.

[20] P.G. WORCETER., Op Cit, Hal. 12.

[21] HORMAN E.A. HINDS., Op Cit, hal. 30.

[22] W.D. THORBURY., Op Cit, hal. 17 – 18.

[23] I b I d., hal. 18.

[24] A.K. LOBECK., op cit., hal. 14 – 15.

[25] Dikutip dari O. D. Von ENGELN., op cit, hal. 59

[26] I b i d., hal. 68 – 69

[27] I b i d., hal. 58

[28] I b i d., hal. 58

[29] Disederhanakan dari A. K. LOBECK., op cit. hal. 14 – 15

[30] W. D. TRUNBURY., op cit, hal 34

[31] W. D. TRUNBURY., Lae cit

[32] I b i d., hal 64 – 35

[33] P. G. WORCESTER., op cit, hal 12

[34] A. K. LOBECK., op cit, hal 15.

[35] A. K. LOBECK oc cit

[36] A.K. LOBECK, Lac cit.

[37] I b I d., hal. 493

About these ads

5 Tanggapan

  1. In addition, it also depends upon the fact that how you are going to use
    it. The name crystal finds it origin in the Greek word krystallos.
    Made in whatever style you choose, custom pins can feature your logo or emblem, your choice of text, and even add-ons
    like glitter, simulated gemstone or cut outs.

  2. It’s going to be finish of mine day, but before end I am reading this enormous article to increase my know-how.

  3. “SCOPE GEOMORFOLOGI dewaarka” was a relatively awesome post, .
    Keep creating and I will keep on browsing! Thank you -Isabelle

  4. wah, aku jadi tahu banyak hal makasih banyak ya

  5. trimakasih berkat situs ini saya lebh mudah dalam belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: